Bisnis.com, JAKARTA - PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) mendapat pinjaman tunai senilai KRW451,74 miliar atau sekitar Rp5,28 triliun (asumsi kurs Rp11,68 per won) dari pemegang sahamnya di Korea Selatan, Lotte Chemical Corporation (LCC).
Hal tersebut diumumkan oleh induk LCI, Lotte Chemical Titan Holding Berhad (LCT) melalui Bursa Malaysia, dikutip Senin (15/6/2026).
Pemberian pinjaman yang berlaku mulai 12 Juni 2026 hingga 20 Desember 2036 ini bertujuan untuk mendukung pelunasan fasilitas pinjaman yang diperoleh LCI, termasuk pinjaman dari Export Credit Agency (ECA), serta untuk keperluan pengelolaan likuiditas LCI.
Pelunasan pinjaman akan dilakukan secara bertahap selama 6 tahun mulai 2031, setelah masa tenggang (grace period) selama 5 tahun, dengan tingkat bunga sebesar 1-year Secured Overnight Financing Rate (SOFR) + 1,45%.
Adapun, LCT dan LCC masing-masing memiliki 51% dan 24% kepemilikan saham di LCI, sedangkan 25% sisanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan sekuritas.
Meski demikian, pinjaman ini tidak diklasifikasikan sebagai transaksi pihak berelasi berdasarkan ketentuan bursa saham Malaysia.
Baca Juga
- Lotte Chemical Titan (FPNI) Susun Roadmap Penuhi Aturan Free Float 15%
- Lotte Chemical Indonesia Beli Nafta Rp433 Miliar dari Entitas Afiliasi
- Lotte Chemical Indonesia Minta Tarif Impor LPG 0% Untuk Bahan Baku
Dalam perkembangan lain, pada April 2026, LCI mendapat pasokan nafta dari entitas dalam grup usahanya di Malaysia, Lotte Chemical Titan Sdn Bhd (LCTM), menyusul adanya gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Malaysia, dikutip Rabu (22/4/2026), transaksi tersebut bertujuan untuk memitigasi risiko operasional dan memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku seiring pecahnya perang yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran serta penutupan Selat Hormuz.
Nilai total kontrak jual beli nafta tersebut mencapai US$25,29 juta atau sekitar Rp433,55 miliar (asumsi kurs Rp17.140 per US$).
Sebelumnya, LCI menyatakan tengah mengalami kekurangan pasokan bahan baku, terutama nafta dan LPG, imbas konflik di Timur Tengah. Hal ini lantaran LCI mengandalkan pasokan bahan baku hampir sepenuhnya dari kawasan tersebut.
Alhasil, Perseroan pun terpaksa menurunkan tingkat produksinya untuk menjaga keberlanjutan produksi.
"LCI hingga saat ini masih beroperasi. Namun, dengan menurunkan tingkat produksinya dikarenakan rute pengadaan bahan baku telah diubah akibat hambatan logistik yang ada. Kami mengevaluasi setiap hari untuk memastikan situasi terkini yang transparan seiring berkembangnya kondisi,” ujar Direktur Management Support LCI Cho Jin-woo melalui keterangan tertulis, Rabu (8/4/2026).
Dalam kesempatan terpisah, Corporate Planning General Manager LCI Lee Dae-lo bahkan sempat mengatakan, perusahaan hanya dapat mempertahankan operasional sampai sebelum pertengahan tahun ini jika tak segera mendapatkan pasokan bahan baku.
“Tetapi setelah itu, kami tidak dapat beroperasi secara berkelanjutan," kata Lee pada acara LCI Media Gathering 2026 di bilangan SCBD, Jakarta, Selasa (14/4/2026).





