Jakarta (ANTARA) - Peneliti Keamanan Nasional Ulta Levenia Nababan menilai Presiden Prabowo Subianto berhasil membawa Indonesia melenggang bebas menjalin kerja sama pertahanan dengan negara lain di tengah konflik internasional yang sedang memanas.
Bahkan, Levenia tidak segan menganalogikan Indonesia saat sedang menari di tengah kondisi hutan yang terbakar.
"Kalau saya lihat ini Indonesia adalah satu satunya negara yang bisa menari dengan indah di tengah kebakaran hutan. Jadi orang lagi kebakaran di global tapi dia bisa menari dengan indah," kata Levenia dalam siniar yang disiarkan di akun resmi Kementerian Pertahanan saat diwawancarai oleh Karo Infohan Setjen Kemenhan Rico Ricardo Sirait, Senin.
Levenia mengatakan bukan tanpa alasan dirinya menyebut kondisi Indonesia seperti itu. Pasalnya, di tengah konflik yang sedang memanas Indonesia masih bisa bermanuver bebas membangun kerja sama militer dengan negara-negara lain.
Salah satu yang jadi sorotan yakni ketika Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di hari yang sama ketika Menhan RI Sjafrie Sjamsoedin dengan Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth beberapa waktu lalu.
Selain itu, Levenia juga menyoroti kerja sama strategis di bidang pengembangan drone antara Republikorp dengan industri pertahanan asal Turki.
Menurut dia, semua itu bisa terjadi berkat kepiawaian Prabowo menjalin hubungan baik dengan para pemimpin negara.
"Ini (hubungan baik dengan negara lain) adalah investasi jangka panjang dan saya rasa itu sudah dimulai sejak pak Prabowo, Menhan. Jadi beliau sudah menanam bibitnya dan sekarang dilanjutkan oleh pak Sjafrie untuk dieksekusi," kata Levenia kepada Rico.
Baca juga: Prabowo: Kunjungan Presiden Jerman penting di tengah dinamika global
Dengan kerja sama ini, kata Leviana, Indonesia mendapatkan banyak keuntungan yang cukup strategis. Kerja sama pengembangan drone misalnya. Indonesia tidak hanya akan mendapatkan unit drone tempur, tetapi juga mendapatkan transfer teknologi.
Dengan demikian, industri pertahanan dalam negeri dan seluruh sumber daya manusia (SDM) nya bisa mempelajari teknologi tersebut agar ke depan sektor pertahanan Indonesia bisa lebih mandiri dan kuat.
Tidak hanya itu, kerja sama ini juga membuat Indonesia lebih aman dari ancaman embargo alutsista dari pihak manapun.
"Jadi kalau misalnya, misal ya, Amerika embargo kita dengan ini, nah kita punya cadangan lain untuk kerja sama. Karena kita punya banyak mitra justru mengamankan posisi strategis kita," kata dia.
Oleh karena itu, Levenia meyakini langkah Prabowo dalam membina hubungan bilateral dengan para pemimpin dunia sudah cukup menyelamatkan Indonesia dari dampak konflik global.
Dia berharap langkah strategis tersebut bisa terus dijalankan demi menjaga kepentingan nasional.
Baca juga: Pengamat: Pertemuan Prabowo-Putin perkuat kerja sama strategis
Baca juga: Akademisi: Pidato Presiden di Davos membuka jalan kerja sama global
Baca juga: Anggota DPR: Prabowo ke Prancis perkuat posisi strategis Indonesia
Bahkan, Levenia tidak segan menganalogikan Indonesia saat sedang menari di tengah kondisi hutan yang terbakar.
"Kalau saya lihat ini Indonesia adalah satu satunya negara yang bisa menari dengan indah di tengah kebakaran hutan. Jadi orang lagi kebakaran di global tapi dia bisa menari dengan indah," kata Levenia dalam siniar yang disiarkan di akun resmi Kementerian Pertahanan saat diwawancarai oleh Karo Infohan Setjen Kemenhan Rico Ricardo Sirait, Senin.
Levenia mengatakan bukan tanpa alasan dirinya menyebut kondisi Indonesia seperti itu. Pasalnya, di tengah konflik yang sedang memanas Indonesia masih bisa bermanuver bebas membangun kerja sama militer dengan negara-negara lain.
Salah satu yang jadi sorotan yakni ketika Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di hari yang sama ketika Menhan RI Sjafrie Sjamsoedin dengan Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth beberapa waktu lalu.
Selain itu, Levenia juga menyoroti kerja sama strategis di bidang pengembangan drone antara Republikorp dengan industri pertahanan asal Turki.
Menurut dia, semua itu bisa terjadi berkat kepiawaian Prabowo menjalin hubungan baik dengan para pemimpin negara.
"Ini (hubungan baik dengan negara lain) adalah investasi jangka panjang dan saya rasa itu sudah dimulai sejak pak Prabowo, Menhan. Jadi beliau sudah menanam bibitnya dan sekarang dilanjutkan oleh pak Sjafrie untuk dieksekusi," kata Levenia kepada Rico.
Baca juga: Prabowo: Kunjungan Presiden Jerman penting di tengah dinamika global
Dengan kerja sama ini, kata Leviana, Indonesia mendapatkan banyak keuntungan yang cukup strategis. Kerja sama pengembangan drone misalnya. Indonesia tidak hanya akan mendapatkan unit drone tempur, tetapi juga mendapatkan transfer teknologi.
Dengan demikian, industri pertahanan dalam negeri dan seluruh sumber daya manusia (SDM) nya bisa mempelajari teknologi tersebut agar ke depan sektor pertahanan Indonesia bisa lebih mandiri dan kuat.
Tidak hanya itu, kerja sama ini juga membuat Indonesia lebih aman dari ancaman embargo alutsista dari pihak manapun.
"Jadi kalau misalnya, misal ya, Amerika embargo kita dengan ini, nah kita punya cadangan lain untuk kerja sama. Karena kita punya banyak mitra justru mengamankan posisi strategis kita," kata dia.
Oleh karena itu, Levenia meyakini langkah Prabowo dalam membina hubungan bilateral dengan para pemimpin dunia sudah cukup menyelamatkan Indonesia dari dampak konflik global.
Dia berharap langkah strategis tersebut bisa terus dijalankan demi menjaga kepentingan nasional.
Baca juga: Pengamat: Pertemuan Prabowo-Putin perkuat kerja sama strategis
Baca juga: Akademisi: Pidato Presiden di Davos membuka jalan kerja sama global
Baca juga: Anggota DPR: Prabowo ke Prancis perkuat posisi strategis Indonesia





