jpnn.com, BLITAR - Presiden kelima RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengaku menerima informasi harga cabai di sebuah daerah Indonesia yang mencapai Rp 180 ribu per kilogram.
Hal demikian dikatakan Megawati setelah meresmikan renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Senin (15/6).
BACA JUGA: Didampingi Putra dan Cicit, Megawati Berziarah ke Blitar
"Daerah Timur, saya dapat laporan cabai itu harganya Rp 180.000," kata dia dalam pidato setelah prosesi peresmian, Senin.
Adapun, acara peresmian renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno dihadiri ribuan kader dan simpatisan PDIP.
BACA JUGA: Tinjau Pameran Mata Hati Soekarno, Megawati Bernostalgia Lihat Lukisan Agus Noor
Megawati mengingatkan masyarakat dan kader partai harus memahami tata cara serta etika dalam sistem hukum tata negara dalam penyampaian keluhan terkait kebijakan ekonomi.
Menurutnya, PDIP sebagai partai yang tak berada di lingkaran pemerintah, bakal menyuarakan aspirasi seperti kenaikan harga cabai melalui DPR.
BACA JUGA: Megawati Sebut Bung Karno dan Fatmawati Sejatinya Seniman
"Ya, saya akan menyampaikan, tetapi menyampaikannya ke siapa, yaitu ke DPR dari fraksi PDI Perjuangan. Begitu, lo. Itu apa namanya? Itu tata cara, itu apa namanya? Etika dan moral,” kata Megawati.
Selain kenaikan harga cabai, dia dalam pidatonya menyoroti dinamika demokrasi belakangan ini, termasuk demonstrasi mahasiswa pada Jumat (12/6).
Megawati menyentil pengawalan ketat aparat keamanan dan mengajak seluruh elemen bangsa meneladani keberanian mahasiswa dalam bersikap teguh tanpa rasa takut di negara demokrasi.
Wapres kedelapan RI itu mengatakan mahasiswa sebenarnga WNI yang berhak menyampaikan pendapat di muka umum, sehingga tak perlu diadang aparat.
"Nah, saya berani ngomong begini, terus saya mau ditangkap? Ayo, mana di sini ada polisi? Panggil sini,” kata Megawati.
Megawati secara khusus menyampaikan bahwa dirinya bukan musuh Presiden Prabowo Subianto meski punya pandangan berbeda dalam politik.
“Pak Prabowo sama saya bersahabat, tetapi, kan, seharusnya dipisahkan, bersahabat, ya, bersahabat, tetapu berpolitik kita bisa untuk apa? Untuk demokratisasi, tetapi saya bukan musuh dia, itu teman saya," ujarnya.
Dia menunjukkan bukti kedekatan mereka saat peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni lalu, guna menepis upaya pihak mana pun yang ingin membenturkan mereka.
"Kamu lihat toh waktu 1 Juni? Aku, kan, gandengan sama dia, ketawa-ketawa. Ayo, apa artinya," katanya.
Megawati dalam pidatonya juga menyampaikan keprihatinan pada nasib petani sebagai 'Soko Guru' bangsa seperti ajaran konsep Marhaenisme dari Proklamator RI Soekarno atau Bung Karno.
Megawati menegaskan pentingnya mengorganisasikan petani agar mandiri dan mampu mewujudkan kedaulatan pangan.
Dari situ, dia kembali mengingatkan instruksi yang telah dikeluarkan sejak 2021 ke seluruh struktur partai untuk menggalakkan penanaman sepuluh jenis tanaman pangan pendamping beras guna mencegah ancaman kelaparan.
"Siapa yang sudah mengerjakan? Jangan sombong kalau jadi anggota PDIP. Kalian tidak malu sama saya? Umur saya sudah mau 80 tahun, tetapi saya masih bisa berteriak seperti ini, mbok, ya, semangat," kata dia. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Indonesia Open 2026: Ternyata An Se Young Mengenal Megawati
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Aristo Setiawan




