Manuver EMAS Poles Bisnis Anak-Anak Usaha Menjelang IPO di Bursa Hong Kong

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Perusahaan tambang emas PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) terus memperkuat bisnisnya melalui berbagai aksi korporasi. Langlah itu seiring rencana perseroan mencatatkan saham perdananya atau initial public offering (IPO) di Bursa Hong Kong.

Langkah terbaru dilakukan melalui anak usahanya, PT Pani Industri Nusantara (PIN). PIN baru saja menandatangani perjanjian dengan Sinohydro-PII-NEM Consortium untuk pembangunan fasilitas penyimpanan tailing Hulawa di proyek Tambang Emas Pani, Gorontalo. Nilai transaksi tersebut mencapai Rp 2,87 triliun.

Manajemen EMAS menjelaskan, fasilitas penyimpanan tailing menjadi salah satu infrastruktur penting untuk mendukung penyelesaian proyek Tambang Emas Pani secara menyeluruh dan memastikan operasional tambang berjalan berkelanjutan.

"Estimasi nilai transaksi mencapai Rp 2,86 triliun atau setara 44,89% dari nilai ekuitas perseroan berdasarkan laporan keuangan konsolidasian Tahun Buku 2025," tulis manajemen EMAS dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (15/6).

Perseroan menilai pembangunan fasilitas penyimpanan tailing Hulawa akan mendukung kelancaran operasional Tambang Emas Pani sekaligus memperkuat pencapaian target strategis perusahaan. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting untuk memastikan aktivitas pertambangan dapat berlangsung secara optimal dan berkelanjutan.

Manajemen menyebut transaksi tersebut tidak menimbulkan dampak material terhadap kondisi keuangan perseroan dan justru diharapkan memperkuat operasional proyek emas Pani.

MMI Beli Alat Berat dari 2 Perusahaan

Selain pembangunan fasilitas tailing, anak usaha EMAS lainnya yaitu PT Merdeka Mining Indonesia (MMI) juga melakukan pembelian alat berat dari dua perusahaan afiliasi. Kedua perusahaan itu adalah PT Bumi Suksesindo (BSI) dan PT Batutua Tembaga Raya (BTR).

Berdasarkan perjanjian yang telah ditandatangani, BSI dan BTR sepakat menjual sejumlah alat berat bekas yang sudah tidak digunakan agar dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kebutuhan operasional MMI.

Nilai transaksi penjualan alat berat dan persediaan suku cadang dari BSI mencapai Rp 44,48 miliar. Sementara itu, pembelian alat berat, mesin, peralatan dan persediaan suku cadang dari BTR bernilai sekitar Rp 99,26 miliar.

MMI merupakan perusahaan yang dikendalikan langsung oleh EMAS dengan kepemilikan saham mencapai 99,99%. Adapun BSI dan BTR adalah entitas afiliasi karena sama-sama berada di bawah pengendalian induk usaha yang sama, yakni PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Perseroan menilai transaksi afiliasi tersebut akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional dibandingkan jika dilakukan dengan pihak nonafiliasi. Selain memastikan pemanfaatan aset yang sebelumnya tidak digunakan, transaksi juga dinilai dapat membantu MMI memenuhi kebutuhan operasional proyek Tambang Emas Pani sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

EMAS berharap optimalisasi pemanfaatan aset dan pembangunan infrastruktur pendukung tambang tersebut dapat meningkatkan kinerja operasional anak usaha sekaligus memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perseroan secara keseluruhan.

Sebelumnya, EMAS mengungkapkan rencana untuk mencatatkan sahamnya melalui IPO di Bursa Hong Kong dalam waktu dekat. Emiten kongsi Grup Saratoga–Garibaldi “Boy” Thohir itu pun dikabarkan telah mengambil sejumlah langkah untuk mewujudkan rencana tersebut. 

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Hong Kong, anak usaha PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) itu telah menunjuk The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited sebagai overall coordinator tambahan untuk IPO di pasar mancanegara tersebut. 

Sebelumnya, EMAS lebih dulu menunjuk UBS AG Hong Kong Branch, CLSA Limited, dan Morgan Stanley Asia Limited untuk peran yang sama.

Sementara Bloomberg melaporkan, EMAS berencana melaksanakan IPO di Hong Kong pada bulan ini dengan proyeksi dana segar yang diraup mencapai hingga US$ 500 juta atau sekitar Rp 8,94 triliun (asumsi kurs Rp 17.888 per dolar AS).

Presiden Direktur EMAS, Boyke Poerbaya Abidin, menyebut langkah itu sebagai strategi lanjutan setelah IPO di BEI pada September 2025 dan dimulainya produksi di Tambang Emas Pani pada awal tahun ini. 

“Kami tetap fokus untuk meningkatkan operasi secara aman dan memberikan nilai jangka panjang, sekaligus memperluas akses terhadap pasar modal internasional,” ungkap Boyke dalam keterangan resminya, Rabu (25/3).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daichi Kamada Menyelamatkan Jepang dari Kekalahan dan Memaksa Belanda Bermain Imbang 2-2 di Piala Dunia 2026
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Sah! Angkot Tua di Atas 20 Tahun Dilarang Beroperasi di Kota Bogor
• 2 jam laludetik.com
thumb
Koalisi Masyarakat Peduli MBG Gelar Aksi di Depan Gedung DPR, Ajukan 5 Tuntutan
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Dukung Kelancaran Proses Debarkasi Jemaah Haji, Bea Cukai Buka Layanan Registrasi IMEI
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
[FULL] Respons Gerindra Sikapi Demo Mahasiswa Kritik Pemerintah Tuntut Perbaikan Ekonomi | SAPA PAGI
• 9 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.