Bisnis.com, JAKARTA — Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diikuti rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai berpotensi memperbaiki prospek sektor manufaktur Indonesia. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat menekan harga minyak dunia dan mengurangi tekanan biaya produksi sejumlah industri.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman mengatakan normalisasi aktivitas di Selat Hormuz berpotensi memberikan sentimen positif bagi sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap energi dan biaya logistik.
“Pembukaan kembali Selat Hormuz dan turunnya harga minyak dunia menjadi angin segar bagi industri, terutama sektor padat energi seperti petrokimia, semen, baja, pupuk, tekstil, logistik, hingga manufaktur berbasis bahan bakar,” ujar Rizal kepada Bisnis, Senin (15/6/2026).
Menurut dia, apabila harga minyak Brent turun dari kisaran US$80–US$90 per barel dan risiko geopolitik terus mereda, biaya energi, ongkos angkut (freight), serta harga bahan baku impor berpotensi ikut menurun. Kondisi tersebut dapat memperbaiki margin perusahaan manufaktur yang selama ini tertekan oleh kenaikan biaya produksi.
Meski demikian, Rizal mengingatkan dampak positif tersebut tidak akan langsung dirasakan secara penuh oleh pelaku industri.
“Normalisasi Hormuz belum otomatis memulihkan rantai pasok global,” sebutnya.
Baca Juga
- Pasokan Energi Global Butuh Waktu Untuk Pulih Meski Selat Hormuz Dibuka
- AS dan Iran Sepakat Berdamai, Trump Cabut Blokade Selat Hormuz
- Elon Musk Jadi Triliuner Pertama Dunia usai SpaceX Go Public
Dia menjelaskan bahwa yang mereda saat ini baru premi risiko geopolitik. Sementara itu, sejumlah faktor lain masih berpotensi mengganggu distribusi energi global, mulai dari implementasi gencatan senjata, keamanan kapal tanker, premi asuransi pelayaran, pemulihan infrastruktur energi, hingga potensi munculnya konflik baru di kawasan.
"Selat Hormuz sangat strategis karena sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia melewati jalur ini. Pasar akan tetap sensitif terhadap sinyal eskalasi sekecil apa pun," tutur Rizal.
Menurutnya, perbaikan kinerja industri akan berlangsung secara bertahap. Industri dengan porsi biaya energi yang besar berpotensi mulai menikmati perbaikan margin dalam satu hingga tiga bulan apabila harga minyak bertahan pada tren penurunan.
Sementara itu, pemulihan pendapatan perusahaan diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang, yakni sekitar tiga hingga enam bulan. Hal itu disebabkan penyesuaian permintaan pasar, harga jual produk, serta kontrak pasokan tidak berlangsung secara instan.
"Jadi, ini sentimen positif, tetapi belum cukup disebut sebagai pemulihan penuh sampai pasokan benar-benar lancar, biaya logistik turun, dan harga energi stabil dalam beberapa bulan ke depan," tutur Rizal.





