Cilegon (ANTARA) - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) terus mendorong lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Provinsi Banten untuk berdaya saing internasional atau Go Global agar lulusan vokasi dapat mengisi peluang kerja sektor formal di berbagai negara.
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) komprehensif antara KP2MI, Pemerintah Provinsi Banten, Ikatan Alumni Mahasiswa Untirta, PT Krakatau Steel dan SMK YPWKS Cilegon di Kota Cilegon, Banten, Senin.
Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dwi Setiawan Susanto di Kota Cilegon, Senin, mengatakan bahwa integrasi dengan lembaga pendidikan vokasi seperti SMK adalah kunci untuk mencetak tenaga kerja terampil (skilled worker).
"Lulusan SMK, vokasi, hingga perguruan tinggi kini menjadikan luar negeri sebagai alternatif karir yang menjanjikan. Kita menuju era di mana adik-adik kita yang produktif ini memiliki keahlian yang sangat dibutuhkan oleh lintas negara," ujar Dwi.
Dwi menjelaskan, negara-negara maju saat ini tengah menghadapi fenomena penuaan penduduk (aging population), sehingga sangat membutuhkan pasokan tenaga kerja terampil dari negara dengan bonus demografi seperti Indonesia.
Peluang bagi lulusan SMK sangat terbuka lebar di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, manufaktur, perhotelan, konstruksi, hingga keahlian khusus pengelasan yang diakui memiliki nilai jual dan apresiasi tinggi di luar negeri.
Untuk merealisasikan visi "SMK Go Global" ini, KP2MI menekankan pentingnya penyiapan yang matang sejak di bangku sekolah.
"Penyiapan tidak hanya pada hard skill atau teknis, tetapi yang terpenting adalah bahasa dan sikap mental. Saya melihat di SMK sudah mulai belajar bahasa Jepang, itu adalah langkah yang sangat baik," katanya.
Melalui penyiapan terintegrasi ini, jangkauan lulusan SMK tidak lagi terbatas pada negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, tetapi juga meluas hingga ke benua Eropa. Dwi menyebutkan, KP2MI baru saja membuka kesepakatan untuk sektor perhotelan dan kesehatan di Jerman, serta membidik negara Eropa lain seperti Austria, Italia, dan Spanyol.
Lebih lanjut, Dwi optimistis program pengiriman tenaga kerja terampil lulusan vokasi ini dapat melipatgandakan serapan pekerja migran asal Banten dengan aman dan minim masalah.
"Jika lulusan SMK ini disiapkan bahasanya, skill teknis nya, dan didaftarkan melalui jalur resmi (SISKO P2MI), kita bisa menargetkan penempatan Banten naik menjadi 5.000 hingga 10.000 pekerja, dan yang paling penting adalah zero tolerance terhadap kasus karena semua melalui prosedur yang legal," kata Dwi menegaskan.
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) komprehensif antara KP2MI, Pemerintah Provinsi Banten, Ikatan Alumni Mahasiswa Untirta, PT Krakatau Steel dan SMK YPWKS Cilegon di Kota Cilegon, Banten, Senin.
Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dwi Setiawan Susanto di Kota Cilegon, Senin, mengatakan bahwa integrasi dengan lembaga pendidikan vokasi seperti SMK adalah kunci untuk mencetak tenaga kerja terampil (skilled worker).
"Lulusan SMK, vokasi, hingga perguruan tinggi kini menjadikan luar negeri sebagai alternatif karir yang menjanjikan. Kita menuju era di mana adik-adik kita yang produktif ini memiliki keahlian yang sangat dibutuhkan oleh lintas negara," ujar Dwi.
Dwi menjelaskan, negara-negara maju saat ini tengah menghadapi fenomena penuaan penduduk (aging population), sehingga sangat membutuhkan pasokan tenaga kerja terampil dari negara dengan bonus demografi seperti Indonesia.
Peluang bagi lulusan SMK sangat terbuka lebar di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, manufaktur, perhotelan, konstruksi, hingga keahlian khusus pengelasan yang diakui memiliki nilai jual dan apresiasi tinggi di luar negeri.
Untuk merealisasikan visi "SMK Go Global" ini, KP2MI menekankan pentingnya penyiapan yang matang sejak di bangku sekolah.
"Penyiapan tidak hanya pada hard skill atau teknis, tetapi yang terpenting adalah bahasa dan sikap mental. Saya melihat di SMK sudah mulai belajar bahasa Jepang, itu adalah langkah yang sangat baik," katanya.
Melalui penyiapan terintegrasi ini, jangkauan lulusan SMK tidak lagi terbatas pada negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, tetapi juga meluas hingga ke benua Eropa. Dwi menyebutkan, KP2MI baru saja membuka kesepakatan untuk sektor perhotelan dan kesehatan di Jerman, serta membidik negara Eropa lain seperti Austria, Italia, dan Spanyol.
Lebih lanjut, Dwi optimistis program pengiriman tenaga kerja terampil lulusan vokasi ini dapat melipatgandakan serapan pekerja migran asal Banten dengan aman dan minim masalah.
"Jika lulusan SMK ini disiapkan bahasanya, skill teknis nya, dan didaftarkan melalui jalur resmi (SISKO P2MI), kita bisa menargetkan penempatan Banten naik menjadi 5.000 hingga 10.000 pekerja, dan yang paling penting adalah zero tolerance terhadap kasus karena semua melalui prosedur yang legal," kata Dwi menegaskan.





