TRIBUN-TIMUR.COM - Lemparan ke dalam dengan kekuatan penuh, langsung mengarah ke gawang lawan, semakin sering diperagakan pemain di Piala Dunia 2026. Lemparan ke dalam Republik Ceko membungkan kedigdayaan Korea Selatan di menit ke-59 laga pertama fase Grup A pada Jumat (12/6/2026) di Stadion Guadalajara, Zapopan, Meksiko.
Republik Ceko berhasil memecahkan kebuntuan lewat lemparan ke dalam Vladimir Coufal. Lemparan pemain bernomor punggung 5 ini berhasil mengarahkan bola ke jantung pertahanan Korea Selatan. Ketika itulah, Ladislav Krejci melompat di antara pemain Korea Selatan dan menanduk bola yang membuat timnya berhasil mencetak gol.
Lemparan ke dalam semacam itu, menjadi kebiasaan pemain Timnas Indonesia. Bahkan pemain timnas Garuda sempat di cemooh di media sosial karena lemparan ke dalamnya kerap merepotkan pemain belakang lawan.
Apalagi lemparan ke dalam yang diawali dengan melapkan handuk putih ke bola. Timnas Argentina juga sempat kerepotan oleh lemparan ke dalam jarak jauh pemain timnas Indonesia, yang mengarahkan bola melesak bak rudal ke jantung pertahanan lawan.
Menanti Handuk Putih
Satu hal lagi, yang Indonesia banget, menarik dinanti dalam Piala Dunia 2026 ini. Yakni, kehadiran handuk putih di pinggir lapangan.
Handuk kecil yang tampak remeh itu mungkin tidak pernah dibayangkan menjadi bagian dari evolusi taktik sepakbola modern.
Tetapi bagi penonton Timnas Indonesia, ia telah menjelma semacam pertanda kecil: sebentar lagi bola akan meluncur jauh, melesak ke jantung pertahanan lawan, dibawa oleh tenaga dua tangan yang bekerja seperti kaki tambahan.
Pemandangannya nyaris ritualistik. Bola keluar lapangan. Seorang pemain berjalan ke tepi lapangan, memungut handuk putih, lalu mengusap bola dengan saksama dalam tempo sesingkat-singkatnya dan secepat-cepatnya. Mengeringkan permukaannya, mencari daya cengkeram sempurna sebelum tubuh sedikit ditarik ke belakang dan lemparan panjang dilepaskan.
Dalam hitungan detik, lemparan ke dalam kehilangan sifat asalnya sebagai sekadar cara memulai ulang permainan. Ia berubah menjadi ancaman. Set-piece baru yang tak kalah mengganggu dibanding tendangan sudut.
Dulu kebiasaan semacam ini sempat ditertawakan. Ada yang menyebutnya terlalu sederhana, terlalu kampungan, bahkan terlalu “Indonesia” untuk dibawa ke sepakbola kelas dunia.
Media sosial sempat penuh olok-olok tentang handuk putih dan lemparan jauh Pratama Arhan.
Tetapi sepakbola selalu punya ironi yang sulit ditebak: sesuatu yang mula-mula dianggap pinggiran kerap diam-diam menemukan legitimasi ketika mulai menyulitkan pusat. Ketika Argentina, juara dunia, harus berjaga ekstra menghadapi lemparan jauh Timnas Indonesia di Gelora Bung Karno, 19 Juni 2023, kita mulai melihat bahwa kebiasaan kecil itu tidak sedang mencari pengakuan; ia sedang membangun relevansinya sendiri.
Bagi pecinta sepakbola di Sulawesi Selatan, terutama perindu PSM Makassar, lemparan ke dalam jarak jauh sesungguhnya bukan barang baru. Ia sudah lebih dahulu menjadi bagian dari pengalaman kolektif di Stadion Gelora BJ Habibie atau ketika Laskar Pinisi bertandang ke markas lawan.
Nama Mufli Hidayat dan Dzaky Asraf Huwaidi kerap hadir dalam ingatan sebagai dua pemain yang menjadikan lemparan ke dalam bukan sekadar restart permainan, melainkan semacam rudal taktis. Kedua pemain sayap Laskar Pinisi ini kerap mereporkan pertahanan lawan dengan lemparan ke dalam.




