Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat empat poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.873 per dolar AS, pada Jumat (14/8/2026) pagi. Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp17.877 per dolar AS, pada Kamis (13/8/2026) sore.
Josua Pardede Chief Economist Permata Bank mengatakan, penguatan rupiah salah satunya dipengaruhi data Producer Price Index (PPI) AS yang berada di bawah perkiraan pasar.
“Secara bulanan, PPI meningkat menjadi 0,0 persen MoM (month on month) dari -0,1 persen MoM, namun berada di bawah konsensus sebesar 0,2 persen MoM,” kata Josua seperti dikutip Antara.
Josua mengatakan, dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada pidato Prabowo Subianto Presiden serta pengumuman Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Sementara scara tahunan, PPI AS juga melandai dari 5,5 persen menjadi 4,7 persen secara year on year (yoy). Angka itu lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 4,9 persen.
Menurut Josua, data tersebut menunjukkan tekanan inflasi dari sektor energi mulai mereda. Kondisi itu turut menekan ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya.
“Berdasarkan FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada September 2026 turun menjadi 34,8 persen,” ujarnya.
Dengan sejumlah sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.825 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini. (ant/bil/ipg)




