MAKASSAR, TRIBUN - Aktivis mahasiswa era 1960-an, Aksa Mahmud, mengajak pimpinan mahasiswa untuk berjuang sesuai tuntutan dan kebutuhan zaman.
Tapi semangatnya tetap sama, belajar, diskusi, berorganisasi, dan beraktivitas terus menerus.
“Kalian harus kuasai itu hidroponik. Harus dipraktikkan selagi kuliah, supaya nanti kalau sudah tamat langsung bisa buka usaha hidroponik di daerah-daerah,” kata Aksa Mahmud di hadapan puluhan pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa(BEM) Universitas Bosowa (Unibos), Jumat (12/6/2026) siang.
Diskusi berlangsung santai di 23 Menara Bosowa, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, usai Shalat Jumat, 12 Juni 2026.
“Setiap zaman ada masanya. Setiap masa ada warnanya tersendiri. Kalau dulu di zaman kami, mungkin memang harus bergerak dengan cara seperti itu, turun ke jalan. Harus frontal. Sekarang mungkin sudah beda lagi,” ujar Aksa Mahmud.
Petuah itu lahir dari pengalaman panjang. Aksa Mahmud dikenal sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) sejak 1962. Bersama Jusuf Kalla, ia juga tercatat sebagai aktivis kawakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar pada masa pergolakan nasional, termasuk periode pemberontakan dan pembubaran PKI tahun 1965, serta gerakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Di tengah zaman ketika banyak anak muda sibuk mengejar gelar, pendiri Bosowa itu justru mengingatkan mahasiswa tentang sesuatu yang lebih penting: kesiapan hidup dan keberanian meninggalkan jejak.
Bagi Aksa Mahmud, kampus tidak boleh hanya melahirkan sarjana pencari kerja. Kampus harus melahirkan pencipta jalan, pembuka peluang, dan generasi yang mampu menjawab kebutuhan zaman.
Aksa Mahmud menilai akan lebih positif jika mahasiswa turun ke lapangan, ikut merasakan bekerja dan berkarya.
Ketua MPR RI 2004-2009 itu menegaskan, pendidikan tidak cukup berhenti di ruang kuliah dan teori. Mahasiswa harus mengalami sendiri realitas profesinya.
“Yang dari pertanian, bertanilah. Datang ke sawah. Ikut ke kebun. Dan, jangan hanya datang membesuk,” tegas Aksa Mahmud.
Dia mendorong mahasiswa tidak sekadar datang pagi lalu pulang sore.
“Kalau datang pagi, pulang sore, itu membesuk namanya,” ujarnya.
Mahasiswa pertanian, menurutnya, harus tinggal dan belajar secara serius minimal tiga bulan agar memahami praktik pertanian secara utuh. Mulai dari pengelolaan tanaman jeruk, lengkeng, durian, hingga sistem hidroponik.
Sesuai Tuntutan Zaman




