BMKG Ungkap Potensi Awan Cumulonimbus 15-21 Agustus 2026, Tak Ada Wilayah yang Masuk Zona FRQ

kompas.tv
5 jam lalu
Cover Berita
Ilustrasi awan Cumulonimbus. (Sumber: Envato/Mint_Images)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Indonesia untuk periode 15-21 Agustus 2026.

Dalam prakiraan terbaru BMKG, tidak ada satu pun wilayah yang masuk kategori Frequent (FRQ) atau memiliki cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.

Kondisi tersebut sama seperti prakiraan periode sebelumnya, 14-20 Agustus 2026.

Meski kategori FRQ nihil, wilayah dengan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus kategori Occasional (OCNL) masih terdeteksi di sejumlah daratan dan perairan Indonesia.

Baca Juga: BMKG Rilis Potensi Awan Cumulonimbus 14-20 Agustus 2026, Tak Ada Wilayah Masuk Zona FRQ

Potensi Awan Cumulonimbus 15-21 Agustus 2026

Berdasarkan data BMKG, tidak ada wilayah yang masuk kategori FRQ (>75 persen) untuk periode 15-21 Agustus 2026.

Artinya, tidak ada wilayah dalam prakiraan tersebut yang memiliki cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.

Kondisi ini sama dengan prakiraan periode 14-20 Agustus 2026 yang juga tidak mencatat wilayah berkategori FRQ.

Namun, nihilnya zona FRQ bukan berarti Indonesia terbebas dari awan Cumulonimbus, potensi hujan, maupun cuaca buruk. 

Kategori FRQ dalam produk BMKG menunjukkan cakupan spasial maksimum pertumbuhan awan Cumulonimbus, bukan probabilitas maupun intensitas hujan secara langsung.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG Sepekan 14-20 Agustus 2026: Ini Wilayah yang Masih Berpotensi Hujan

Meski tidak terdapat zona FRQ, BMKG masih mencatat sejumlah wilayah dalam kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus antara 50-75 persen.

Di wilayah daratan, potensi tersebut meliputi Aceh, Jambi, Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, serta sejumlah wilayah di Papua.

Sementara sejumlah perairan di sekitar Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan kawasan utara Indonesia juga masuk kategori OCNL. Berikut rinciannya.

Wilayah daratan:

  • Aceh
  • Jambi
  • Riau
  • Sumatera Utara
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Utara
  • Sulawesi Barat
  • Papua
  • Papua Barat
  • Papua Pegunungan
  • Papua Tengah

Wilayah perairan:

  • Laut Natuna Utara
  • Laut Sulawesi bagian barat
  • Samudra Hindia barat Aceh
  • Samudra Hindia barat Kepulauan Nias
  • Samudra Pasifik utara Maluku
  • Samudra Pasifik utara Papua
  • Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya
  • Selat Karimata bagian utara
  • Selat Malaka bagian utara

Dari daftar terbaru BMKG, potensi OCNL masih banyak ditemukan di kawasan utara Indonesia dan sejumlah wilayah perairan.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG Besok Sabtu 15 Agustus 2026: Sumatera Utara Waspada Hujan Lebat

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bagi masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir maupun perairan, terutama karena cuaca di laut dapat berubah dengan cepat.

Apa Arti FRQ dan OCNL?

BMKG membagi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus berdasarkan persentase cakupan spasial maksimum menjadi tiga kategori:

  • ISOL (Isolated) menunjukkan cakupan area awan Cumulonimbus kurang dari 50 persen.
  • OCNL (Occasional) menunjukkan cakupan area awan Cumulonimbus berkisar 50-75 persen.
  • FRQ (Frequent) menunjukkan cakupan area awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.

Informasi tersebut menggambarkan sebaran spasial pertumbuhan awan Cumulonimbus dan tidak secara langsung menunjukkan peluang maupun intensitas hujan di suatu wilayah.

Baca Juga: Peringatan Dini BMKG Besok 15-16 Agustus 2026, Ada Potensi Hujan Lebat hingga Angin Kencang

Informasi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus tersebut merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan yang dihasilkan menggunakan model cuaca numerik.

Produk tersebut digunakan untuk memperoleh informasi mengenai sebaran pertumbuhan awan Cumulonimbus di wilayah Indonesia dan berlaku selama tujuh hari.

Meski tidak ada wilayah yang masuk kategori FRQ, masyarakat tetap perlu memantau perkembangan cuaca, khususnya di wilayah yang masuk kategori OCNL.

Nelayan dan pelaku transportasi laut juga disarankan memperhatikan prakiraan cuaca terkini sebelum beraktivitas di perairan.

Nihilnya kategori FRQ juga tidak dapat diartikan sebagai jaminan bahwa suatu wilayah bebas dari potensi hujan atau cuaca buruk. 

Kondisi atmosfer dapat berubah dan informasi prakiraan dapat diperbarui sesuai perkembangan terbaru.

Baca Juga: BMKG Rilis Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan: El Nino Semakin Kuat, Ancaman Kekeringan Kian Meluas

 

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV

Tag
  • BMKG
  • awan Cumulonimbus
  • cuaca Indonesia
  • cuaca ekstrem
  • hujan lebat
  • awan Cb
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PPKI dan Putera Kebudayaan Sulsel Hadiri ASEAN Lumina 2026, Perkuat Diplomasi Budaya ASEAN di Benteng Rotterdam
• 9 jam laluharianfajar
thumb
Siswa di Kupang Tikam Guru karena Kesal Sering Disebut Kampungan
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
BK Tidak Kunjung Periksa Ketua DPRD Bone Andi Tenri Walinonong, Ada Apa?
• 14 jam laluharianfajar
thumb
Kabar Baik untuk Timnas Indonesia, Elkan Baggott Resmi Masuk Skuad Millwall di Liga Inggris
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Menkum Respons Putusan MK soal Pasal Penghinaan Presiden dan Wapres
• 9 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.