Bisnis.com, JAKARTA — Banyak restoran Indonesia di luar negeri dinilai kehilangan karakter autentik akibat penyesuaian cita rasa dengan selera pasar lokal. Kondisi ini memperlemah identitas kuliner nasional di tengah persaingan global.
Fenomena tersebut terjadi karena ekspansi kuliner tidak dibangun dalam kerangka strategi nasional. Pelaku usaha bergerak sendiri tanpa dukungan ekosistem yang terintegrasi.
Pakar kuliner William Wongso menilai adaptasi rasa memang membantu menarik konsumen. Namun, langkah itu mengorbankan keaslian yang seharusnya menjadi kekuatan utama.
“Budaya kita, selera kita itu akhirnya tidak dikenalkan,” ujarnya.
Menurutnya, negara seperti Vietnam mampu menjaga identitas kuliner melalui diaspora yang konsisten mempertahankan tradisi makan. Pemerintah kemudian memperkuat lewat distribusi bahan baku sehingga cita rasa tetap terjaga.
Pendekatan tersebut membuat makanan Vietnam menjadi bagian dari keseharian masyarakat global. Identitas kuliner tetap kuat meski hadir di berbagai negara.
Baca Juga
- 10 Kuliner Indonesia yang Terkenal di Mancanegara
- Wagub Jabar Dukung Kuliner Lokal Hadir di Mal Modern
- Mengintip Resep Pebisnis Kuliner Mengonversi Konten Jadi Profit
Sebaliknya, restoran Indonesia kerap menyesuaikan diri tanpa standar yang jelas. Akibatnya, publik global kesulitan mengenali karakter autentik masakan Nusantara.
William menilai persoalan ini juga dipicu strategi promosi yang tidak tepat sasaran. “Karena strateginya yang tidak tepat sasaran,” ujarnya.
Dia menekankan keberhasilan negara lain tidak lahir dari kampanye sesaat. Thailand, Vietnam, Jepang, hingga Korea Selatan membangun ekosistem kuliner secara konsisten selama puluhan tahun.
Keterlibatan pemerintah menjadi faktor kunci, terutama dalam memperkuat rantai pasok. Restoran di luar negeri berperan membuka pasar bagi bahan baku dan produk pangan dari negara asal.
Sebaliknya, restoran Indonesia banyak tumbuh secara sporadis melalui inisiatif individu. Tanpa arah yang jelas, promosi menjadi terfragmentasi dan sulit membangun identitas yang konsisten.
“Kita itu seperti balapan, sudah kalah langkah, kalah start. Orang lain sudah mulai lama, kita baru memikirkan sekarang,” ujarnya.





