Sejak Selasa, 9 Juni 2026, kurs rupiah dan IHSG langsung menuju tren penguatan setelah Bank Indonesia (BI) secara agresif menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen. Gerak cepat BI menaikkan BI rate yang kali ini lewat rapat mingguan, bukan lagi lewat rapat bulanan, langsung membetot perhatian pasar.
Imbal hasil obligasi pemerintah juga cenderung meningkat. Di saat obligasi negara maju memberi imbal hasil maksimal 4 persen, Indonesia menawarkan 7,4 persen untuk tenor 10 tahun.
Dolar Amerika Serikat (AS) pun langsung berdatangan. Para investor berbondong-bondong menukarkan dolar mereka dengan rupiah untuk bisa membeli obligasi Indonesia.
Lalu, kurs pun menggeliat, dari Rp18.036 per dolar AS di akhir pekan sebelumnya, pada penutupan Jumat, 12 Juni 2026, naik di level Rp17.860, atau menguat 0,98 persen dalam sepekan.
Rupiah bahkan berpeluang menguat tajam ke level Rp17.500 per dolar AS pada pekan ini setelah berbagai kebijakan domestik juga mendapat respons positif dari pasar.
Selain itu, pasar juga melihat kebijakan moneter BI kini didukung oleh kebijakan fiskal yang kredibel. Pemerintah sudah mengurangi beban APBN dengan menaikkan harga BBM nonsubsidi.
Begitu pula dengan langkah sejumlah BUMN yang melancarkan operasi buyback saham. IHSG langsung melonjak hingga menyentuh level 6.000 pada penutupan perdagangan Jumat, 12 Juni 2026.
Bauran kebijakan BI dan pemerintah dalam sepekan terakhir pun membawa optimisme pasar. Menguatnya kurs rupiah dan menghijaunya IHSG sekaligus menjadi indikator kuatnya kepercayaan para investor global maupun domestik terhadap fundamen ekonomi Indonesia.
Momentum kembalinya kepercayaan pasar itu tentu tak boleh dilewatkan begitu saja. Kepercayaan pasar terhadap kebijakan pemerintah yang mulai terarah dan iklim investasi yang semakin ramah adalah harga yang teramat mahal.
Jangan sampai lupa, kepercayaan adalah 'mata uang' yang berlaku di seluruh dunia. Di dalamnya ada integritas, kejujuran, dan reputasi yang menjadi modal bangsa ini.
Ilustrasi mata uang. Dok MI
Ibarat mata uang, kepercayaan itu dapat ditabung dan diakumulasikan, bahkan dapat pula hilang dalam sekejap akibat satu kesalahan fatal. Karena itu, kita tak boleh main-main dengan kepercayaan, apalagi jika sudah susah payah membangunnya.
Momentum penguatan kurs rupiah dan IHSG pada pekan lalu tentu harus dipelihara mulai pekan ini dan seterusnya. Tak gampang memeliharanya, tetapi tak juga mustahil merealisasikannya.
Rumusnya sebenarnya mudah saja, bahwa pasar keuangan pada umumnya alergi dengan ketidakpastian, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Karena itu, memulihkan kepercayaan harus menjadi prioritas pemerintah saat ini dengan memberikan kepastian arah dan menjalankannya secara konsisten.
Percayalah, anjloknya rupiah dan IHSG beberapa waktu lalu tidak lebih mahal daripada hilangnya kepercayaan investor. Pemegang otoritas fiskal dan moneter harus kembali bekerja keras menjaga kualitas kebijakan dan kepastian fiskal, utamanya arah belanja pemerintah.
Tak boleh ketinggalan, kemandirian Bank Indonesia harus dijalankan seluruh pihak. Tak boleh ada intervensi agar pasar tetap percaya akan kredibilitas bank sentral yang independen.
Bukan hanya investor, pulihnya rupiah dan IHSG juga akan memantik optimisme masyarakat bahwa negara ini akan menuju situasi yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih kuat ke depan. Itulah momentum yang mesti dijaga dan terus-menerus diikhtiarkan.




