Memiliki kulit sehat dan glowing adalah dambaan banyak perempuan. Berbagai cara pun dilakukan untuk meraih tampilan kulit itu, mulai dari skin care hingga prosedur medis. Namun, jika impian itu menjadi obsesi yang berlebihan, hal tersebut justru dapat berdampak negatif.
Dua peneliti dari Italia, yaitu Dermatolog Prof. Giovanni Damiani dan Psikolog Alberto Stefana, menggunakan istilah baru untuk mendeskripsikan obsesi tersebut. Namanya adalah “cosmeticorexia”. Istilah ini mereka gunakan dalam artikel ilmiah terbaru yang diterbitkan di jurnal Dermatology and Therapy pada Maret 2026.
Dalam jurnal tersebut, Damiani dan Stefana mendeskripsikan cosmeticorexia sebagai obsesi tak sehat untuk memiliki kulit sempurna yang bisa berujung pada pemakaian produk atau prosedur kosmetik yang tidak sesuai dengan usia.
Istilah ini banyak diperbincangkan usai dunia mulai mencatat meningkatnya jumlah remaja perempuan atau anak-anak yang menggunakan produk kosmetik, seperti makeup dan skin care, di usia yang sangat muda. Dikutip dari The Guardian, salah satu isu yang banyak disorot adalah menjamurnya tren ‘Sephora Kids’ di luar negeri, di mana gerai-gerai kosmetik kini semakin diserbu oleh anak dan remaja perempuan.
Menurut Damiani, sebagai dokter spesialis dermatologi, dia mencatat tingginya jumlah pasien usia 8–14 tahun yang memiliki keluhan kulit seperti dermatitis kontak alergi. Dilansir Healthline, ini merupakan kondisi kulit wajah yang mengalami peradangan atau ruam akibat alergi substansi tertentu, salah satunya bahan-bahan dalam produk kosmetik.
“Mereka semua memakai produk kosmetik yang serupa, termasuk produk eksfoliasi kimiawi seperti retinoid dan alpha hydroxy acid tanpa resep medis yang tepat,” ujar Damiani. Bahan-bahan aktif tersebut memang tidak disarankan untuk dipakai di usia terlalu muda.
Tak hanya itu, Damiani juga melihat adanya perubahan perilaku pada para pasien tersebut, seperti menolak untuk pergi keluar atau bertemu orang lain tanpa makeup, memakai produk kosmetik secara berlebihan, hingga menonton video-video terkait kosmetika secara berlebihan.
Stefana pun mengatakan, media sosial diduga menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya obsesi terhadap kulit mulus sejak dini.
“Anak-anak yang terobsesi dengan skin care cenderung terdorong oleh apa yang mereka lihat di media sosial. Jadi, kepercayaan diri mereka tergantung oleh berapa banyak ‘like’ yang mereka dapatkan atau apa yang diucapkan netizen di kolom komentar,” kata Stefana, sebagaimana dilansir BBC.
Hal senada diungkapkan oleh Program Manager Butterfly Foundation, Grace Collinson. Di yayasannya, yang berfokus pada penyuluhan orang-orang dengan gangguan makan dan citra tubuh, Grace mencatat adanya peningkatan jumlah pasien yang mengalami stres akibat penampilan, terutama pada anak-anak. Mereka cenderung berfokus pada mencapai “kesempurnaan”.
Lewat artikel ilmiah terbaru mereka, Damiani dan Stefana menegaskan bahwa mereka tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut soal fenomena cosmeticorexia serta dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental.
Damiani menjelaskan, dia ingin melihat apakah cosmeticorexia pada anak dan remaja perempuan dapat dikategorikan sebagai faktor risiko body dysmorphia. Ini merupakan kondisi kecemasan dan fiksasi berlebih terhadap hal yang dianggap sebagai “kekurangan” pada tubuh
“Kedua, kami juga tertarik untuk memahami apakah pemakaian kosmetik di usia yang sangat muda dapat berdampak pada frekuensi dermatitis kontak,” kata Damiani.





