BALIKPAPAN, KOMPAS—Naiknya harga bahan bakar minyak atau BBM nonsubsidi memperparah antrean di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Warga jadi kesulitan mendapatkan BBM jenis Pertalite.
Melihat kondisi tersebut, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Balikpapan Bergerak berunjuk rasa di depan gedung DPRD Kota Balikpapan, Senin (15/6/2026). Mereka menuntut pemerintah pusat menurunkan harga BBM dan mendesak Pemkot Balikpapan dampak kenaikan BBM di daerah.
"Pertalite di Balikpapan susah. Hanya ada di lima SPBU yang melayani Pertalite untuk motor," kata Koordinator Lapangan Aliansi Balikpapan Bergerak Wisnu Nugroho.
Dari kajian mahasiswa, kondisi itu bikin warga harus mengantre panjang saat mengisi BBM dan berkendara jauh dari rumah. Sebagai contoh, ia menyebutkan, tak ada SPBU yang menyediakan BBM jenis Pertalite di Kecamatan Balikpapan Timur.
Itu membuat warga harus berkendara sampai 10 kilometer untuk membeli Pertalite ke Kecamatan Balikpapan Selatan. Sejumlah warga terpaksa membeli BBM jenis Pertamax di SPBU yang harganya lebih tinggi, yakni Rp 16.650.
Jusliadin, peserta aksi, mengatakan, kenaikan BBM nonsubsidi di Balikpapan juga memperparah antrean truk di area SPBU Jalan Soekarno-Hatta Kilometer 15, Balikpapan. Para sopir truk yang ingin mengisi solar subsidi memarkir kendaraan di pinggir jalan sehingga memakan badan jalan.
Antrean truk terjadi sepanjang 24 jam dan mengular sampai lebih dari satu kilometer. Hal ini telah terjadi jauh sebelum harga BBM nonsubsidi naik.
Setelah harga BBM nonsubsidi naik, antrean semakin panjang. Itu menyebabkan banyak kecelakaan terjadi di jalur tersebut. Salah satu korban kecelakaan adalah seorang mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan yang lokasi kampusnya di dekat SPBU. Ia mengalami luka-luka akibat kecelakaan di sana.
"Evaluasi pengelolaan Pertalite, BBM subsidi, dan tindak tegas pengetap BBM subsidi," ujar Jusliadin.
Ia mendesak pemerintah dan aparat menelusuri penyebab antrean tersebut, termasuk kemungkinan adanya penyelewengan BBM subsidi. Mahasiswa menuntut pemenuhan kuota BBM dan distribusi yang merata di setiap SPBU di Balikpapan.
Kapolresta Balikpapan Komisaris Besar Jerrold Hendra Yosef Kumontoy mengatakan, pihaknya melakukan pengawasan pada antrean di SPBU. Ia berjanji bakal menindak penyelewengan BBM, terutama pengetap yang membeli BBM subsidi dalam jumlah besar dan menjualnya kembali.
“Kami melakukan patroli, melihat apakah ada pengetap atau tidak di SPBU,” ujar Jerrold.
Asisten I Sekretariat Kota Balikpapan Zulkifli mengatakan, dari total 17 SPBU di Balikpapan, 8 SPBU melayani BBM bersubsidi jenis Pertalite untuk mobil dan motor. Sebanyak tiga SPBU menyediakan Pertalite untuk mobil, dua SPBU untuk motor, dan tiga SPBU untuk motor dan mobil.
Adapun BBM subsidi jenis solar hanya terdapat di dua SPBU. Meskipun tidak merinci angka pastinya, ia memastikan bahwa kuota BBM untuk Kota Balikpapan mencukupi kebutuhan.
Hanya saja, kata dia, terjadi perubahan pola konsumsi warga ke BBM subsidi setelah kenaikan harga Pertamax dan solar nonsubsidi. Itu bikin antrean mengular di sejumlah SPBU.
Untuk mengurainya, Zulkifli menyebut, Pemkot Balikpapan telah menyepakati dua SPBU yang menyediakan solar subsidi dibuka 24 jam guna mengurai antrean panjang. “Bersama Pertamina, kita akan menambah satu SPBU lagi di daerah Kariangau,” kata Zulkifli.
Mengenai tak adanya SPBU di Balikpapan Timur yang menyediakan Pertalite, ia mengatakan bakal melakukan kajian bersama dengan Satuan Lalu Lintas Polresta Balikpapan.
Jika memungkinkan dan tak menimbulkan kemacetan, menurutnya penyaluran BBM subsidi di sana bisa dilakukan. “Segera kami tindak lanjuti,” katanya.





