Grid.ID - Belum lama ini, seorang ASN Pemkot Surabaya meninggal dunia lantaran menjadi korban jambret. Begini kronologi lengkapnya.
Kisah tragis dialami oleh Widya Riskyanti (28) usai menjadi korban penjambretan. Dirinya meninggal dunia usai mengalami beberapa luka di tubuhnya.
Dikutip dari KOMPAS.com pada Senin (15/6/2026), pihak keluarga mendesak polisi agar segera menangkap pelaku. Tak hanya itu, pihaknya juga tegas tak ingin berdamai dengan pelaku penjambretan.
Irma Muslika (33), kakak korban berharap pelaku mendapatkan hukuman setimpal. Bahkan, menurutnya, nyawa harus dibalas dengan nyawa.
"Ya, semoga cepat ketemu (ditangkap para pelaku), mendapat hukuman setimpal, enggak mau damai, nyawa harus bayar nyawa, kalau bisa seumur hidup," kata kakak korban.
Ia pun menuntut keadilan atas kejahatan yang dialami oleh adiknya. Dirinya juga berharap agar hal ini tidak terjadi pada orang lain.
"Pihak polisi semoga bisa menangkap semua pelaku karena sudah menghilangkan nyawa. Jahat banget, ini sudah. Cukup, ke adik saja, jangan ke yang lainnya," lanjutnya.
Tak hanya itu saja, Muslika juga meminta pihak terkait untuk memperbaiki penerangan jalan. Pasalnya, menurutnya jalan yang gelap kerap menjadi lokasi para penjahat untuk melangsungkan aksinya.
"Saya minta tolong, kalau di jalan nggak ada lampu, tolong dikasih lampu. Jalan rusak juga, diperbaiki, di Jalan Gundih, itu gelap, rawan itu. Buat balapan kadang," sambungnya.
Lalu, bagaimana kronologi penjambretan yang dialami oleh ASN Pemkot Surabaya ini? Berikut ini penjelasannya yang berhasil dirangkum oleh Grid.ID.
Dikutip dari TribunJatim pada Senin (15/6/2026), kejadian mengenaskan itu terjadi pada saat korban pulang kerja. Ia melintasi Jalan Kusuma Bangsa.
Saat tengah mengendarai sepeda motor, tasnya ditarik oleh penjambret hingga ia terjatuh dari motor. Korban mengalami luka parah di bagian kepala.
Karena kondisinya yang cukup parah, Widya dilarikan ke rumah sakit. Namun, ia mengalami koma hingga 4 hari.
Sang ibu yang saat itu mendengar kabar bahwa Widya mengalami kecelakaan pun langsung lari ke rumah sakit. Kondisi Widya sempat tidak dapat dikenali lantaran wajahnya bengkak akibat luka.
Namun, sang ibu mengenali anak perempuannya itu. Selain itu, ia juga mengenali sang putri dari sepeda motor yang digunakan anaknya.
AP, yakni saksi kejadian kronologi penjambretan itu mengaku mendapatkan kabar saat pulang kerja. Ia mengungkapkan ciri-ciri Widya saat mengalami pejambretan itu.
"Teman saya kira kecelakaan biasa. Tapi pas petugas datang ternyata korban itu kena jambret. Perempuan, kayaknya sendirian, iya pakai seragam Korpri biru. Engga tahu PNS atau guru," jelas dia.
Sedangkan LK (32), seorang pedagang soto mengaku bahwa dirinya melihat korban tergeletak di jalan. Ia juga melihat Widya diberi pertolongan.
"Kemarin waktu aku melintas dari rumah mau kerja ke warung lihat ada mas-mas baju oranye nolong orang di tikungan itu," ungkapnya.
Kanit Reskrim Polsek Genteng Polrestabes Surabaya Iptu Vian Wijaya mengatakan bahwa pihaknya masih menyelidiki kasus ini. Sehingga, ia belum bisa memberikan informasi lebih lanjut mengenai kasus ini.
Namun, ia membenarkan bahwa korban adalah ASN Pemkot Surabaya yang bekerja di BPN Surabaya. Pihak kepolisian masih mendalami apakah kejadian ini murni kecelakaan atau memang ada tindak pidana lain.
"Masih kami lakukan penyelidikan, apakah benar laka lantas atau curas. (Latar belakang korban) P3K BPN," sambungnya. (*)
Artikel Asli




