JAKARTA, KOMPAS - Tekanan sosial dan perkembangan teknologi membuat kebanyakan remaja di Indonesia mengalami masalah atau indikasi gangguan kesehatan mental non-klinis. Kondisi emosional ini umumnya berupa kecemasan berlebih, stres akibat penggunaan gawai, hingga kesulitan menyesuaikan diri.
Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mencatat bahwa 34,8 persen atau sekitar 15,5 juta remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dan 5,5 persen di antaranya memenuhi kriteria gangguan mental. Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari masa pubertas, perubahan emosional, hingga tekanan sosial.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga), Wihaji mengatakan, kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas yang paling dibutuhkan generasi muda saat ini bukan hanya kecerdasan intelektual, kreativitas, atau inovasi, melainkan ketangguhan mental.
"Hari ini kita tidak hanya membutuhkan IQ yang hebat, tidak hanya butuh inovasi, tidak hanya butuh spiritualitas. Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang komprehensif. Menurut saya, yang paling penting hari ini adalah kesiapan mental untuk bangkit, yang kita sebut sebagai resiliensi," kata Wihaji dalam Adiwarna Nusantara ADUJAKNAS (Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreativitas Nasional) dan Puncak Perayaan Hari Lahir Generasi Berencana Indonesia ke 16 tahun di Kantor Kemendukbangga, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Para remaja saat ini, lanjut Wihaji, menghadapi tekanan sosial yang tinggi dengan ekspektasi tinggi dan perbandingan sosial di media sosial dapat menurunkan rasa percaya diri remaja. Paparan standar kecantikan atau kesuksesan yang tidak realistis meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.
Ada banyak hal dalam hidup yang tidak punya rumus seperti matematika. Untuk hal-hal seperti itu, keluarga tetap menjadi tempat pertama untuk mendapatkan nilai dan arah hidup.
Teknologi secara tidak langsung juga menurunkan kesehatan fisik dan gaya hidup yang berdampak ke kesehatan mental. Mereka menjadi kurang tidur, pola makan tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik.
Kemajuan teknologi juga semakin memudahkan generasi muda untuk menjangkau konsumsi makanan yang tinggi gula dan lemak jenuh yang meningkatkan risiko depresi. Ditambah lagi, kurangnya paparan sinar matahari dan aktivitas fisik juga dapat memengaruhi produksi hormon yang berperan dalam menjaga suasana hati.
Selain itu, mereka juga rawan mengalami perundungan, baik langsung maupun daring (cyberbullying) yang dapat menyebabkan trauma emosional jangka panjang, seperti rendahnya rasa percaya diri dan kecemasan sosial.
Wihaji juga menyoroti perubahan perilaku generasi muda akibat perkembangan media sosial, seperti pola konsumsi informasi yang berubah drastis. Jika generasi sebelumnya terbiasa membaca teks panjang, kini banyak anak muda lebih tertarik pada video berdurasi sangat singkat.
Namun, menurut dia, perubahan ini bukan persoalan benar atau salah, melainkan realitas yang harus dipahami oleh semua pihak yang ingin mendampingi generasi muda.
"Karena itu saya kembali pada delapan fungsi keluarga. Ada banyak hal dalam hidup yang tidak punya rumus seperti matematika. Untuk hal-hal seperti itu, keluarga tetap menjadi tempat pertama untuk mendapatkan nilai dan arah hidup," ucap Wihaji.
Adapun delapan fungsi keluarga itu adalah fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan. Semuanya didorong oleh Kemendukbangga sebagai panduan dasar yang perlu dijalankan setiap keluarga untuk mewujudkan ketahanan dan kesejahteraan sosial.
Dalam kesempatan ini, Wihaji menegaskan bahwa Generasi Berencana Indonesia harus menjadi garda terdepan mengkampanyekan hal baik untuk generasi muda, seperti menghindari seks pranikah, pernikahan dini, dan narkoba. Ia mengingatkan, tantangan terbesar ke depan adalah kemampuan anak muda untuk tetap kuat secara mental di tengah perubahan yang semakin cepat.
"Kalau mental kita tidak siap, akan terjadi future shock. Kita akan bingung menghadapi perubahan yang begitu cepat. Pegangannya adalah delapan fungsi keluarga," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Generasi Berencana (Genre) Indonesia , I Putu Arya Aditia Utama menambahkan, para generasi muda yang tergabung dalam Genre Indonesia terus berkontribusi sebagai aktor, amplifikator, dan akselerator keluarga berencana. Organisasi ini berupaya terus menumbuhkan optimisme mengenai masa depan bangsa dan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Arya juga menegaskan konsep yang perlu menjadi fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045, yaitu visi, aksi, dan frekuensi. Visi memberikan arah, aksi menerjemahkan cita-cita menjadi program nyata, sementara frekuensi memastikan seluruh elemen bergerak dalam semangat yang sama.
"Kami terus menyuarakan pentingnya perencanaan kehidupan berkeluarga, kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, hingga isu yang saat ini kita kawal bersama, yaitu fenomena fatherless. Ketiga adalah frekuensi. Jadi ada visi, aksi, dan frekuensi. Kami merasa selama ini Genre Indonesia berada dalam resonansi frekuensi yang sama," ucap Arya.
Selama 16 tahun berdiri Genre Indonesia terus berkontribusi aktif dalam membantu dan hadir di tengah-tengah remaja Indonesia melalui Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R) yang keberadaannya tersebar di berbagai sekolah (SMP/SMA/Perguruan Tinggi) dan masyarakat.





