Hal itu diungkap pengamat sekaligus pakar sistem tenaga listrik STEI ITB, Kevin Marojahan Banjar. Dia menjelaskan ada dua hal yang terjadi di pembangkit listrik.
Kedua hal itu, pertama force outage, yakni gangguan mendadak yang tidak direncakana. Kedua, derating yakni penurunan kapasitas produksi.
Kevin mengatakan menipisnya cadangan batubara atau minyak membuat operator sengaja menurunkan daya pembangkit hingga 60 persen.
"Jika dipaksa 100 persen dan bahan bakar habis, PLTU butuh waktu hingga 2 hari untuk menyala kembali," papar Kevin dikutip dai akun Instagram !itb1920, Senin, 15 Juni 2026.
Baca Juga :
Kenapa Listrik Bisa Tiba-Tiba Mati? Ini Penjelasannya"Dengan tujuan mengurangi beban agar sistem tetap memiliki cadangan daya dan mencegah terjadinya mati total (total blackout)" papar dia.
Kevin mengatakan krisis listrik bisa semakin memburuk karena ancaman Fenomena El Nino Godzilla. Kedatangan El Nino yang membawa kekeringan ekstrem diprediksi akan memukul sistem kelistrikan dari dua sisi.
Pertama, konsumsi naik, lantaran cuaca panas membuat penggunaan AC melonjak. Kedua, pasokan turun, debit air menyusut tajam yang mengancam produktivitas PLTA besar seperti Cirata dan Saguling di Jawa Barat.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)





