Rupiah Melemah, Industri Asuransi Hadapi Inflasi Klaim

wartaekonomi.co.id
4 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi meningkatkan tekanan terhadap industri asuransi kesehatan. Depresiasi rupiah dinilai mulai memengaruhi harga obat-obatan dan berisiko memicu inflasi kesehatan yang pada akhirnya mendorong kenaikan nilai klaim asuransi.

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mengatakan industri kesehatan Indonesia masih bergantung pada bahan baku obat impor. Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap biaya pengadaan obat.

"Yang pasti harga obat-obatan akan mengalami kenaikan dengan adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Sebagian besar bahan baku obat diimpor dari luar negeri sehingga harganya pasti akan lebih mahal," ujar Nailul kepada Warta Ekonomi, Senin (15/6/2026).

Menurut dia, kenaikan harga obat berpotensi memicu inflasi kesehatan yang kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap industri asuransi kesehatan.

"Maka, tidak heran jika terjadi inflasi kesehatan karena harga obat yang meningkat," katanya.

Nailul menjelaskan bahwa dampak tersebut tidak selalu tercermin dari meningkatnya jumlah klaim. Namun, nilai klaim yang diajukan peserta asuransi berpotensi naik seiring meningkatnya biaya layanan kesehatan.

"Peningkatan harga obat ini akan berpengaruh terhadap nilai klaim industri. Meskipun jumlah klaim stagnan, nilai yang diklaimkan akan mengalami kenaikan," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menilai kenaikan nilai klaim berpotensi memengaruhi perhitungan premi pada periode berikutnya. Perusahaan asuransi kemungkinan perlu melakukan penyesuaian tarif untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah meningkatnya biaya klaim.

"Maka, dampaknya adalah pembayaran premi untuk tahun berikutnya bisa meningkat. Nilai dasar premi mengalami kenaikan yang pada akhirnya dapat menekan permintaan," kata Nailul.

Baca Juga: Indonesia Insurance Summit 2026 Bahas Strategi Industri Asuransi Hadapi Ketidakpastian Global

Baca Juga: Yield Obligasi Tembus 7%, Pelaku Asuransi Mulai Berburu Aset

Di sisi lain, industri asuransi kesehatan juga menghadapi tantangan dalam menentukan kebijakan penyesuaian premi. Pasalnya, daya beli masyarakat yang masih tertekan dinilai berpotensi membatasi ruang kenaikan harga produk asuransi.

"Di tengah daya beli yang melemah, industri juga berpikir ulang untuk menaikkan harga, termasuk industri asuransi kesehatan," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penumpang Minta Tarif Transjabodetabek Tetap Rp3.500, Sebut Masih Jadi Transportasi Paling Terjangkau
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Iran dan AS Sepakat Berdamai, Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Tiga perwira TNI AU selesaikan pendidikan militer di AS
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Ronald Koeman Sepakat dengan Virgil van Dijk usai Timnas Belanda Gagal Kalahkan Jepang di Piala Dunia 2026
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Mensesneg Uraikan Strategi Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Investor
• 5 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.