Megawati Soekarnoputri Menyoroti Maraknya Perundungan dan Mengingatkan Pentingnya Ketahanan Pangan Nasional

pantau.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Presiden Ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyampaikan keprihatinan terhadap maraknya perundungan di sekolah serta menekankan pentingnya kemandirian pangan nasional dalam pidato tanpa teks usai peresmian renovasi Istana Gebang di Blitar, Jawa Timur.

Megawati Soroti Perundungan dan Nilai Kemanusiaan

Di hadapan ribuan kader dan simpatisan, Megawati menyoroti persoalan perikemanusiaan yang menurutnya masih menjadi tantangan di tengah masyarakat, terutama yang menimpa generasi muda.

Ia mengungkapkan, “Saat ini, saya melihat begitu banyak perundungan. Orang disia-siakan dan dihina. Pertanyaan saya: di mana rasa perikemanusiaan kalian? Apakah Pancasila hanya di atas kertas, atau benar-benar ada di dalam hati sanubari kalian?”

Megawati mengaku prihatin melihat anak-anak sekolah menjadi korban perundungan hanya karena perbedaan kondisi ekonomi.

Ia juga mencontohkan adanya sikap diskriminatif terhadap anak dari keluarga kurang mampu dengan mengatakan, “Mengapa itu terjadi? Karena ada sikap-sikap yang membeda-bedakan, seperti ‘jangan temani dia, dia anak miskin’. Bahkan ibu-ibu sekarang mulai cenderung mengambil sikap seperti itu."

Menurut Megawati, Salam Pancasila yang selama ini ia gaungkan bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat akan pentingnya pengamalan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dalam kehidupan sehari-hari.

Ingatkan Instruksi Tanaman Pangan dan Filosofi Marhaenisme

Setelah membahas persoalan moral, Megawati menyinggung isu ketahanan pangan nasional dengan mengingatkan bahwa sejak 2021 dirinya telah menginstruksikan seluruh daerah untuk menanam 10 jenis tanaman pangan pendamping beras.

Ia mempertanyakan pelaksanaan instruksi tersebut dengan menyampaikan, “Sejak 2021 sebagai Ketua Umum, saya sudah memberikan instruksi ke seluruh daerah untuk menanam 10 tanaman pangan sebagai pendamping beras. Siapa yang sudah mengerjakan? Angkat tangan."

Dalam pidatonya, Megawati turut menjelaskan filosofi Marhaenisme yang dipelajarinya langsung dari Presiden pertama RI Soekarno.

Ia menjelaskan bahwa Marhaen merupakan nama seorang petani di Bandung yang memiliki sawah, padi, dan alat produksi sendiri, tetapi tetap hidup pas-pasan sehingga tidak mampu berbagi.

Megawati juga mengingatkan bahwa kesulitan masyarakat dalam memperoleh makanan dapat memicu gejolak sosial dengan mengutip pesan Bung Karno, “Bapak saya bilang, kalau rakyat tidak bisa makan, itu bisa terjadi kekurangan lalu kerusuhan. Artinya nomor satu untuk rakyat adalah makanan. Makanya saya tadi nanya harga sudah naik apa belum.”

Peresmian renovasi Istana Gebang dihadiri keluarga besar Bung Karno, di antaranya M. Prananda Prabowo, Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, serta jajaran DPP PDIP di bawah Hasto Kristiyanto.

Ribuan kader PDIP Jawa Timur juga memadati kawasan Istana Gebang di Jalan Sultan Agung Nomor 59, Sananwetan, Blitar.

Rumah yang dibangun pada 1884 dan ditempati keluarga Soekarno sejak 1917 itu kini kembali diresmikan sebagai rumah sejarah, kebangsaan, dan inspirasi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPIP Minta Tambah Anggaran Rp 370 M untuk Pembinaan Pancasila-Paskibraka
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Demo di DPRD Sultra Ricuh, Mahasiswa dan Petugas Saling Dorong
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Terapkan Pembayaran Digital, Pemkot Surabaya Klaim PAD Retribusi Parkir Terdongkrak hingga 10%
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
10 Saksi Kasus Korupsi CSR-BI Kompak Mangkir Panggilan KPK
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Kiandra Ramadhipa Ungkap Rahasia Kemenangannya di Sirkuit Estoril
• 4 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.