Hal itu diungkapkan Rerie, sapaan karib Lestari Moerdijat, pada acara penyerapan aspirasi masyarakat bertema Penguatan Demokrasi Substansi dan Etika Berbangsa lewat talkshow mengangkat topik Lengger Banyumas: Menjaga Warisan, Merawat Kesadaran Bangsa.
Acara diselenggarakan di Pendopo Sipanji Kabupaten Banyumas, Purwokerto, Jawa Tengah pada Senin, 15 Juni 2026 dihadiri Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, Wakil Ketua Komisi XII Sugeng Suparwoto, Pembina Lengger Bicara Andy Flores Noya, dan para pegiat seni dan masyarakat di Banyumas.
"Ketika kita bicara Lengger Banyumasan, sesungguhnya kita sedang bicara bagaimana kita menjaga warisan, dan lebih dari itu adalah upaya merawat kesadaran kebangsaan," ujar Rerie dalam keterangan tertulis, Senin, 15 Juni 2026.
Rerie menilai budaya adalah infrastruktur moral demokrasi sebab, demokrasi tidak akan pernah berdiri kokoh, tanpa akar budaya. Anggota Komisi X DPR RI itu mengingatkan saat ini demokrasi kerap dipersempit menjadi sekadar kontestasi politik, pemilu, atau urusan kekuasaan semata.
"Padahal, demokrasi sangat memerlukan fondasi yang lebih dalam. Demokrasi membutuhkan warga yang menghormati sesama, menghargai perbedaan, memiliki rasa terhadap budaya dan bangsanya. Ini semua adalah inti kebudayaan," tegas dia.
Baca Juga :
Lestari Moerdijat: Situs Batujaya Bukti Peradaban Luhur Bangsa IndonesiaRerie juga mengapresiasi para seniman dan budayawan Banyumas yang konsisten mengangkat dan melestarikan Lengger, termasuk menumbuhkan kembali filosofi di balik tarian tersebut. Dia mendorong Lengger bisa diajukan menjadi warisan budaya dunia, setelah pada 2019 ditetapkan sebagai Warisan Budaya tak Benda Nasional.
"Pengakuan negara itu penting karena ini bukan sekadar catatan administratif, tetapi bentuk bahwa Lengger betul-betul menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa ini," kata dia.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengingatkan tantangan terbesar saat ini bukanlah hilangnya seni atau pertunjukan, melainkan hilangnya ingatan dan keterhubungan antara generasi muda dengan budayanya sendiri.
"Generasi muda tidak boleh kehilangan keterhubungan dengan budayanya. Karena dengan kehilangan hubungan dengan budaya, bangsa itu akan kehilangan memorinya," ujar Rerie.
Ia menekankan pelestarian budaya tidak boleh dibebankan hanya kepada komunitas budaya dan kalangan seniman saja. Tetapi harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki akar kuat dan mampu membawa warisan budayanya tetap hidup di tengah perubahan zaman," tegas Rerie.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)





