Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia membantah dirinya menyamakan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dengan subsidi jenis solar.
"Ini berita bohong dan fitnah. Saya tidak pernah keluarkan statement seperti ini. Ini ada pihak yang sengaja menyalahgunakan foto saya dan ditempel dengan caption hoax. Medianya ditulis Kompos.corn," jelas Dwi, dalam pernyataannya di Jakarta, Senin.
Sebelumnya, unggahan di media sosial threads.com, menampilkan foto Dwi Anggia dengan caption di bawahnya tertulis "Pertamax Jadi Rp16.250 per Liter. Dwi Anggia, selaku Jubir Menteri ESDM : Ada Solar Yang Murah Pakai Itu Saja. Sama-Sama BBM kan?".
"Sekali lagi, itu adalah hoaks dan fitnah. Semoga masyarakat bisa lebih cerdas dan lebih bijak menyerap informasi yang beredar di media sosial," sebut Dwi.
Baca juga: ESDM tegaskan komitmen kurangi ketergantungan energi dari negara lain
Baca juga: ESDM siapkan Rp5,2 triliun untuk jargas rumah tangga pada 2027
Ia pun mengatakan penyebar fitnah dan hoaks ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum, karena sudah menyebarkan berita bohong serta memprovokasi kemarahan publik.
Per 10 Juni 2026, PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan kenaikan harga produk BBM nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Penyesuaian harga itu dilakukan Pertamina setelah berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator serta melalui mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian.
Perubahan harga BBM nonsubsidi itu juga merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.
Dalam komitmennya melaksanakan tugas pendistribusian BBM bersubsidi, Pertamina Patra Niaga menyatakan harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan solar tetap Rp6.800 per liter.
Baca juga: ESDM sebut perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite belum masif
Baca juga: ESDM: Angkutan logistik pakai BBM subsidi tekan efek domino Pertamax
"Ini berita bohong dan fitnah. Saya tidak pernah keluarkan statement seperti ini. Ini ada pihak yang sengaja menyalahgunakan foto saya dan ditempel dengan caption hoax. Medianya ditulis Kompos.corn," jelas Dwi, dalam pernyataannya di Jakarta, Senin.
Sebelumnya, unggahan di media sosial threads.com, menampilkan foto Dwi Anggia dengan caption di bawahnya tertulis "Pertamax Jadi Rp16.250 per Liter. Dwi Anggia, selaku Jubir Menteri ESDM : Ada Solar Yang Murah Pakai Itu Saja. Sama-Sama BBM kan?".
"Sekali lagi, itu adalah hoaks dan fitnah. Semoga masyarakat bisa lebih cerdas dan lebih bijak menyerap informasi yang beredar di media sosial," sebut Dwi.
Baca juga: ESDM tegaskan komitmen kurangi ketergantungan energi dari negara lain
Baca juga: ESDM siapkan Rp5,2 triliun untuk jargas rumah tangga pada 2027
Ia pun mengatakan penyebar fitnah dan hoaks ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum, karena sudah menyebarkan berita bohong serta memprovokasi kemarahan publik.
Per 10 Juni 2026, PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan kenaikan harga produk BBM nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Penyesuaian harga itu dilakukan Pertamina setelah berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator serta melalui mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian.
Perubahan harga BBM nonsubsidi itu juga merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.
Dalam komitmennya melaksanakan tugas pendistribusian BBM bersubsidi, Pertamina Patra Niaga menyatakan harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan solar tetap Rp6.800 per liter.
Baca juga: ESDM sebut perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite belum masif
Baca juga: ESDM: Angkutan logistik pakai BBM subsidi tekan efek domino Pertamax





