Beban Subsidi Energi Diperkirakan Membengkak pada 2027

idxchannel.com
18 jam lalu
Cover Berita

Penyebab melonjaknya subsidi energi didorong tingginya harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, serta tingginya kebutuhan energi bersubsidi.

Beban Subsidi Energi Diperkirakan Membengkak pada 2027. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Beban subsidi energi berpotensi mengalami pembengkakan pada 2027. Hal itu diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat memaparkan asumsi dasar sektor ESDM dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Pemerintah pun mengusulkan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) pada kisaran USD70 hingga USD95 per barel.

Baca Juga:
Bahlil Prediksi Harga Minyak Mentah RI Kisaran USD70-95 per Barel di 2027

Adapun penyebab kemungkinan melonjaknya subsidi energi didorong tingginya harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, serta tingginya kebutuhan energi bersubsidi di dalam negeri.

Kombinasi faktor tersebut diperkirakan meningkatkan kebutuhan anggaran subsidi energi, terutama subsidi listrik yang diproyeksikan mencapai Rp113,45 triliun hingga Rp122,83 triliun pada 2027. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi subsidi listrik pada 2025 yang sebesar Rp87,46 triliun dan alokasi dalam APBN 2026 sebesar Rp100,83 triliun.

Baca Juga:
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Akibat Kelangkaan Batu Bara, Ini Pemicunya

Selain subsidi listrik, pemerintah juga tetap mempertahankan berbagai skema subsidi energi lainnya. Volume BBM bersubsidi pada 2027 diperkirakan mencapai 19,343 juta hingga 19,561 juta kiloliter (KL), meningkat dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar 18,92 juta KL, maupun target di 2026 sebesat 19,17 juta KL. 

Dari jumlah tersebut, konsumsi minyak solar bersubsidi diperkirakan mendominasi dengan volume mencapai 18,80 juta hingga 19 juta KL, sedangkan minyak tanah diproyeksikan berada pada kisaran 543 ribu hingga 561 ribu KL.

Baca Juga:
Bahlil Tegaskan Pertalite dan LPG 3 Kg Tidak Naik, BBM Nonsubsidi Ikuti Harga Minyak Dunia   

Sementara itu, volume LPG tabung 3 kilogram dipertahankan sebesar 8 juta metrik ton, sama dengan target APBN 2026. Pemerintah juga masih mempertahankan subsidi tetap minyak solar sebesar Rp1.000 per liter.

"Sebelum terjadi ketegangan di Timur Tengah, itu total subsidi kita untuk LPG itu USD80-USD87 triliun per tahun, sekarang akan naik lagi (subsidinya), karena harga ICP naik," kata Bahlil dalam Raker Bersama Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026).

Di sisi lain, pemerintah menargetkan peningkatan produksi migas dalam RAPBN 2027, lifting migas ditargetkan berada pada kisaran 1,536 juta hingga 1,592 juta barel setara minyak per hari (BOEPD), lebih tinggi dibandingkan realisasi hingga Mei 2026 yang mencapai 1,473 juta BOEPD.

Untuk mendukung target tersebut, pemerintah memperkirakan kebutuhan cost recovery migas pada 2027 mencapai USD10,1 miliar hingga USD11,5 miliar, naik dibandingkan realisasi 2025 sebesar USD8,46 miliar.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wajah Baru Jalan Rasuna Said Jelang HUT DKI Jakarta: Trotoar Lebih Lebar, JPO Dicat Ulang
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Enam Tuntutan Mahasiswa, PDIP Dorong Evaluasi Program Prioritas Pemerintah
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Terlanjur Dibeli Pakai Uang Negara, Motor Listrik Warisan Mantan Kepala BGN Akan Dimanfaatkan
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
3 Hari Pencarian, Korban Terseret Banjir Sungai Rongkong Ditemukan Tewas Tersangkut Ranting
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
TKIT Nurul Uswah Tandutedong Lepas 51 Anak Didik, Bupati Minta Anak Sidrap Berani Berkompetisi
• 3 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.