BEKASI, KOMPAS.com - Musim kemarau 2026 mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat sedikitnya tujuh titik di dua kecamatan mulai terdampak kekeringan.
Kondisi tersebut menjadi tanda awal ancaman bencana hidrometeorologi yang diperkirakan akan meluas pada puncak kemarau beberapa bulan mendatang.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi Muchlis mengatakan, hingga Minggu (14/6/2026), kekeringan telah berdampak terhadap 641 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.650 jiwa.
Baca juga: Wali Kota Bekasi Buka Peluang CFD Digelar di Setiap Kecamatan
“Saat ini bencana tersebut tersebar di kecamatan Serang Baru dan Kecamatan Cibarusah,” ujar Muchlis dalam keterangan resminya, Senin (15/6/2026).
Ia mengungkapkan, tiga titik terdampak berada di Kampung Nagasari, Kecamatan Serang Baru, sedangkan empat titik lainnya berada di Kampung Ridogalih, Kecamatan Cibarusah.
"Sebagai langkah penanganan awal, BPBD telah mendistribusikan 50.000 liter air bersih kepada warga terdampak," kata dia.
Selain itu, BPBD juga melakukan koordinasi dengan aparat setempat untuk memastikan penanganan berjalan optimal.
Atas peristiwa ini, BPBD meminta masyarakat, khususnya di wilayah rawan kekeringan, untuk mulai menyiapkan sarana penampungan air guna mengantisipasi krisis air bersih selama musim kemarau.
Baca juga: Wali Kota Bekasi Pastikan CFD di Alun-alun M Hasibuan Tak Jadi Digelar
Menurut Muchlis, kondisi curah hujan yang berada di bawah normal disertai peningkatan suhu udara berpotensi memperparah dampak kekeringan tahun ini.
“Kondisi cuaca saat ini berpotensi menyebabkan kekeringan. Dan ini mengganggu ketersediaan air bersih sebagai kebutuhan dasar masyarakat hingga penunjang sektor pertanian,” ujar Muchlis.
Dalam hal ini pemerintah daerah juga telah meminta pihak kecamatan dan desa segera mengajukan permohonan bantuan apabila mengalami kesulitan air bersih.
Permohonan tersebut harus dilengkapi data lokasi, titik koordinat, jumlah warga terdampak, hingga kontak penanggung jawab agar distribusi bantuan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
"Untuk desa-desa rawan kekeringan diminta menyiapkan toren, bak penampungan, hingga bak terpal di lokasi yang mudah dijangkau mobil tangki air," ungkapnya.
Muchlis menilai keberadaan sarana penampungan sementara akan mempercepat distribusi air bersih kepada masyarakat.
Baca juga: Demo Mahasiswa Bekasi Sempat Memanas, Ketua DPRD Akhirnya Temui Massa




