Kesepakatan damai AS-Iran buka jalan menuju stabilitas regional

antaranews.com
9 jam lalu
Cover Berita
Beijing (ANTARA) - Terobosan kesepakatan damai AS-Iran membuka jalan menuju stabilitas regional berkelanjutan. Kesepakatan yang dicapai setelah eskalasi militer selama berminggu-minggu dan upaya diplomatik intensif yang melibatkan Pakistan serta sejumlah aktor regional lainnya, mengikat Washington dan Teheran untuk menghentikan permusuhan dan memulai perundingan mengenai sejumlah isu paling diperdebatkan yang selama ini memecah kedua pihak.

Isu-isu tersebut mencakup program nuklir Iran, pencabutan sanksi, serta kerangka keamanan masa depan di Selat Hormuz.

Komunitas internasional menyambut baik kesepakatan tersebut. Para pemimpin dari berbagai negara mengeluarkan pernyataan yang menyerukan upaya berkelanjutan guna mewujudkan perdamaian yang langgeng.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyambut baik kesepakatan tersebut dan berharap kedua pihak memanfaatkan momentum baru ini untuk meningkatkan upaya menuju resolusi akhir konflik, demikian disampaikan juru bicara sekjen PBB, Stephane Dujarric.

Mantan duta besar Pakistan untuk AS, Jalil Abbas Jilani, menyebut kesepakatan itu sebagai terobosan besar diplomatik.

"Upaya Pakistan dalam membentuk konsensus antara AS dan Iran telah membantu mewujudkan terobosan signifikan, yang berpuncak pada tercapainya kesepakatan damai," katanya.

Dia menggambarkan kesepakatan itu sebagai tonggak awal penting dalam perjalanan menuju dialog, deeskalasi, dan perdamaian yang berkelanjutan, seraya menambahkan bahwa keterlibatan diplomatik yang berkesinambungan akan sangat diperlukan untuk menerjemahkan kesepahaman tersebut menjadi hasil yang nyata.

Para analis mengatakan bahwa kesepakatan tersebut memperkuat pelajaran yang lebih besar dari krisis baru-baru ini, yaitu bahwa konfrontasi saja tidak dapat mewujudkan perdamaian yang langgeng, dan solusi yang berkelanjutan hanya dapat muncul melalui dialog dan diplomasi.

"Apa yang kita saksikan menunjukkan bahwa konfrontasi saja tidak dapat menghasilkan perdamaian yang bertahan lama," kata analis pertahanan sekaligus brigadir purnawirawan Pakistan, Tughral Yamin, kepada Xinhua.

"Tekanan militer mungkin dapat mengubah situasi untuk sementara waktu, tetapi stabilitas yang berkelanjutan hanya dapat muncul melalui dialog, negosiasi, dan keterlibatan politik," katanya.

Menurut Yamin, dampak langsung dari kesepakatan tersebut kemungkinan berupa berkurangnya risiko konflik regional yang lebih luas serta meningkatnya stabilitas pasar energi global.

Dia menuturkan bahwa kemajuan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz dapat membantu memulihkan kepercayaan terhadap jalur pelayaran internasional dan meredakan kekhawatiran atas gangguan pasokan minyak dunia, sekaligus mengurangi risiko eskalasi lebih lanjut di kawasan Timur Tengah.

Yamin mengatakan kesepakatan itu juga membuka kembali saluran diplomatik antara Washington dan Teheran pada saat konfrontasi militer langsung sempat memunculkan kekhawatiran akan terjadinya perang regional yang lebih luas.

"Nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) ini penting karena mengalihkan proses dari konfrontasi menuju negosiasi. Fakta bahwa kedua pihak sepakat untuk terus berdialog merupakan perkembangan yang signifikan," katanya.

Namun demikian, dia menegaskan bahwa penandatanganan nota kesepahaman tersebut harus dipandang sebagai awal dari proses diplomatik, bukan sebagai akhir dari proses itu sendiri.

Meski terobosan telah tercapai, para analis mengingatkan bahwa masih terdapat sejumlah hambatan signifikan yang harus dihadapi.

Berdasarkan kerangka tersebut, kedua pihak diperkirakan akan memasuki fase perundingan baru dalam waktu 60 hari, dengan fokus pada aktivitas nuklir Iran, pencabutan sanksi, keamanan maritim, dan berbagai isu regional lain yang masih belum terselesaikan.

"Ujian sesungguhnya akan terjadi pada putaran perundingan berikutnya," kata Yamin, seraya menambahkan bahwa kemajuan dalam isu-isu tersebut akan menentukan apakah kesepahaman saat ini dapat berkembang menjadi penyelesaian permanen.

Menurut Yamin, saling ketidakpercayaan yang mendalam antara Washington dan Teheran, perbedaan pandangan mengenai pencabutan sanksi dan mekanisme verifikasi, serta pengaturan masa depan pengelolaan lalu lintas maritim di Selat Hormuz berpotensi mempersulit implementasi kesepakatan.

Yamin juga memperingatkan bahwa sejumlah aktor regional yang menentang tercapainya kesepahaman AS-Iran yang lebih luas dapat berupaya mengganggu proses tersebut. Dia menekankan bahwa keterlibatan diplomatik yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjaga momentum.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dolar AS Menguat, Rupiah Turun ke Level Rp17.700
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Megawati Menegaskan Persahabatannya dengan Prabowo dan Menyoroti Kenaikan Harga Cabai di Blitar
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Ini Respons Mensesneg soal Membeludaknya Minat Investor terhadap Global Bond Danantara
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Cara Daftarkan Lokasi Nobar Piala Dunia 2026 Resmi dan Gratis, Ada Dalam SE Mendagri
• 3 jam lalukompas.com
thumb
BMKG Catat 9 Gempa Susulan Usai Gempa 6,7 M Guncang Palu
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.