Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia menyatakan telah menyerahkan data kinerja keuangan tahun buku 2025 ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Apalagi, sejumlah lembaga pemeringkat global juga menyoroti PT Danantara Investment Management (DIM), dengan Moody's Ratings memberikan outlook negatif.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan laporan keuangan Danantara belum dirilis karena masih dalam proses mengonsolidasikan data keuangan dari lebih dari 1.000 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menurut Rosan, berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas (PT), perusahaan non-terbuka memiliki batas waktu penyampaian laporan keuangan hingga akhir Juni 2026. Sedangkan perusahaan terbuka atau emiten wajib menyampaikan laporan keuangan paling lambat akhir Maret.
Ia juga mengatakan seluruh data kinerja keuangan untuk proses audit telah diserahkan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Ia mengaku BPK menjadi badan yang akan melakukan pemeriksaan terhadap laporan keuangan Danantara.
Meski audit masih berlangsung, Rosan memastikan Danantara tetap membuka data keuangan yang belum diaudit kepada calon investor di berbagai roadshow. Menurutnya, investor tidak mungkin menanamkan modal tanpa menelaah kondisi keuangan perusahaan.
“Jadi kami ini konsolidasi seribu perusahaan loh, gitu seribu perusahaan dan secara peraturan memang akhir Juni kan harus baru menerbitkan keuangan apa laporan keuangannya,” kata Rosan kepada wartawan di Jakarta, Senin (15/6).
Rosan menegaskan Danantara berkomitmen menerapkan prinsip transparansi dalam menjalankan tata kelola perusahaan.
“Kami tampilkan data-data dan mereka juga bisa melihat, menghitung, menganalisa mengenai laporan keuangan yang kami keluarkan, kami laporkan walaupun itu belum diaudit oleh BPK ya,” ucap Rosan.
Seiring dengan itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi itu menyampaikan Danantara melalui Danantara Investment Management, sebelumnya menargetkan penerbitan obligasi global senilai US$ 1 miliar. Tak hanya itu, penerbitan Global Bond berdenominasi dolar AS senilai US$ 1,5 miliar mendapat respons positif dari pasar internasional. Ia mengatakan mayoritas investor berasal dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
Namun tingginya permintaan investor membuat nilai penerbitan ditingkatkan menjadi US$ 1,5 miliar yang terbagi masing-masing US$ 750 juta untuk tenor lima tahun dan US$ 750 juta tenor sepuluh tahun.
“Investornya selama lima tahun itu 38% itu dari AS, 41% dari Eropa dan Timur Tengah, 21% dari Asia. Kalau yang sepuluh tahun, investornya 52% dari AS, 31% dari Eropa dan Timur Tengah, 17% dari Asia,” kata Rosan dalam konferensi pers di Istana Merdeka Jakarta pada Senin (15/6).
Danantara menerbitkan obligasi tenor lima tahun dengan tingkat imbal hasil atau yield 5,35% dan tenor sepuluh tahun sebesar 5,95%. Rosan mengatakan angka tersebut lebih rendah dari perkiraan awal pasar yang sempat memproyeksikan yield bisa menembus di atas 6%.
“Ini membuktikan bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi, dan ini terbukti,” kata Rosan.




