TRIBUN-TIMUR.COM - Jepang vs Belanda adalah laga emosional bagi pecinta sepakbola di Indonesia. Terutama bagi PSM Makassar.
Laskar Pinisi, julukan PSM Makassar, memang diperkuat pemain dari Jepang dan Belanda.
Keberhasilan PSM Makassar merengkuh juara Liga 1 2022-2023 tidak lepas dari kehadiran pemain Jepang dan Belanda. Ada Kenzo Nambu dan Wiljan Pluim.
Bukan hanya itu. Bahkan kehadiran PSM di pentas sepakbola Indonesia dan Nusantara pun tidak lepas karena dua negara penjajah itu: Jepang dan Belanda.
Lahir di Belanda diakikah di Jepang
PSM bisa disebut lahir di era Belanda, namun baru diakikah di zaman penjajahan Jepang.
PSM adalah Belanda dan Jepang
Sejarah PSM Makassar dimulai pada tanggal 2 November 1915. Ini ditandai dengan lahirnya perkumpulan sepakbola bernama Makassar Voetbal Bond (MVB), berbahasa Belanda.
MVB tenar di masa Hindia Belanda. Diperkuat pemain Nederland dan bumi putera. MVB mencetak bintang sepakbola Hindia Belanda dari Makassar, seperti Sagi dan Sangkala.
Dalam rentang tahun antara 1926 hingga 1940, MVB bertanding dengan beberapa kesebelasan lain, dari dalam negeri dan luar negeri. Lawan-lawan MVB dari Jawa antara lain: Quick, Excelcior, dan HBS. MVB juga telah bertanding melawan klub dari Sumatera, Kalimantan, dan Bali. Sedang tim kesebelasan dari luar negeri yang pernah bertanding dengan MVB kala itu dari Hongkong dan Australia.
Hanya saja, pada usia ke-25, terutama setelah kedatangan pasukan Jepang di Makassar, pemain Belanda di MVB ditangkap satu persatu oleh tentara Nippon. Beberapa pemain pribumi dijadikan Romusha, kerja paksa. Sebagian pemain bumi putera MVB dikirim ke Burma, kini Myanmar.
Jejak-jejak Belanda dienyahkan oleh Jepang. Termasuk MVB. Lalu, untuk mencari dukungan penduduk lokal, Jepang menerapkan kebijakan lain, yaitu: membiarkan masyarakat menggunakan nama-nama yang khas Indonesia. MVB pun berubah nama menjadi Persatuan Sepakbola Makassar (PSM).
Maka, pertandingan Jepang vs Belanda, bagi pecinta PSM, terutama bagi mereka yang paham sejarah, punya ragam makna.
Pertandingan Jepang–Belanda (2–2) bisa dibaca sebagai duel dua habitus: Japan national football team yang dibingkai serangan cepat, vertikal, disiplin ruang, gerak cepat menuju ruang final. Netherlands national dijuluk football team, penguasaan ruang dan sirkulasi, tetapi pada momen tertentu terlalu lama berada di fase tekanan.
Bagi kebanyakan penikmat sepakbola, Belanda dikenal dengan total football-nya. Jepang dengan discipline football. Entah bagi mereka yang paham sejarah PSM.




