Tempe Mendoan, Dolar AS dan Rapuhnya Dapur Kita

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Di meja makan rakyat Indonesia, tempe bukan sekadar lauk. Ia adalah penolong yang diam-diam bekerja setiap hari: murah, bergizi, mudah diolah, dan akrab dengan semua kelas sosial. Di warung nasi, di dapur rumah, di angkringan, di meja kos-kosan, hingga di restoran modern, tempe selalu punya tempat. Dari sekian banyak olahan tempe, tempe mendoan punya pesona tersendiri. Ia lahir dari tradisi Banyumas, sangat lekat dengan Purwokerto, digoreng setengah matang, lembek, hangat, harum daun bawang lalu dicocol sambal kecap atau digigit bersama cabai rawit.

Namun, di balik wajah tradisional dan kesederhanaannya, tempe mendoan menyimpan cerita ekonomi global yang tidak sederhana. Sepotong tempe mendoan yang kita makan ternyata tidak sepenuhnya berdiri di atas kaki sendiri. Kedelainya banyak bergantung pada impor. Tepung terigunya juga berasal dari gandum impor. Artinya, makanan yang terasa sangat lokal itu ternyata punya urat nadi yang tersambung ke pasar global, kapal dagang, harga komoditas internasional dan dolar Amerika Serikat.

Inilah ironi kecil di dapur besar Indonesia. Kita merasa sedang makan makanan rakyat, tetapi sebagian bahan bakunya dibeli dengan mata uang global. Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, dampaknya tidak hanya terasa di layar pialang saham atau laporan ekonomi pemerintah. Ia juga menyelinap ke wajan penggorengan, ke gerobak pedagang gorengan, ke dapur pengrajin tempe dan akhirnya ke kantong masyarakat.

Kedelai adalah bahan utama tempe. Masalahnya, kebutuhan kedelai nasional belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Indonesia masih mengimpor jutaan ton kedelai setiap tahun, dengan Amerika Serikat sebagai salah satu pemasok utama. Sementara itu, tepung terigu yang membalut mendoan juga bukan cerita swasembada. Indonesia memang memiliki industri penggilingan tepung, tetapi bahan dasarnya, yakni gandum, hampir seluruhnya harus didatangkan dari luar negeri. Jadi, walaupun tempe mendoan dibuat di Purwokerto, dijual di warung Banyumas dan dimakan dengan logat ngapak yang hangat, ternyata struktur biayanya ikut digoyang oleh pasar global.

Tekanan terhadap rupiah membuat persoalan ini semakin terasa. Ketika dolar menguat, biaya impor cenderung naik. Importir harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk membeli bahan baku yang sama. Kenaikan itu kemudian bergerak berantai: dari importir ke distributor, dari distributor ke pengrajin tempe, lalu dari pengrajin ke pedagang gorengan, hingga akhirnya sampai ke pembeli. Rantai ini tidak selalu terlihat, tetapi nyata.

Pedagang tempe mendoan berada di posisi yang sulit. Bila harga dinaikkan, pembeli bisa protes. Bila ukuran diperkecil, pembeli merasa kecewa. Bila kualitas dikurangi, rasa dan kepercayaan ikut turun. Akhirnya banyak pedagang memilih jalan tengah: harga naik sedikit, ukuran menipis sedikit, atau isi satu porsi dikurangi pelan-pelan. Inilah bentuk inflasi yang sering tidak kita sadari. Bukan hanya harga yang berubah, tetapi juga ukuran, rasa, dan kepuasan.

Bagi masyarakat, tempe bukan barang mewah. Justru karena murah dan mudah didapat, tempe menjadi penyangga gizi rakyat. Ia sumber protein bagi keluarga yang tidak selalu sanggup membeli daging, ayam, atau ikan setiap hari. Karena itu, ketika harga tempe dan olahannya naik, yang terganggu bukan hanya selera makan, tetapi juga daya tahan sosial masyarakat bawah. Kenaikan seribu atau dua ribu rupiah mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi keluarga yang menghitung belanja harian secara ketat, perubahan kecil bisa berarti pengurangan lauk.

Di titik ini, tempe mendoan memberi pelajaran penting: ketahanan pangan tidak boleh hanya dibicarakan sebatas beras. Selama ini, diskusi pangan kita sering terlalu berpusat pada nasi. Padahal dapur rakyat juga ditopang oleh kedelai, tepung, minyak goreng, gula, garam, cabai, telur dan komoditas lain yang ikut menentukan hidup sehari-hari. Jika tempe adalah lauk harian jutaan orang, maka kedelai seharusnya diperlakukan sebagai komoditas strategis, bukan sekadar urusan industri kecil.

Pemerintah perlu melihat masalah ini secara lebih jernih. Impor bukan dosa, selama dilakukan untuk menutup kekurangan produksi dan menjaga pasokan. Tetapi ketergantungan berlebihan terhadap impor adalah risiko. Apalagi jika bahan pangan itu dikonsumsi luas oleh masyarakat. Maka yang dibutuhkan bukan slogan swasembada yang terdengar gagah tetapi sulit dijalankan, melainkan strategi bertahap dan konsisten: memperkuat produksi kedelai lokal, memberi insentif kepada petani, menjamin pembelian hasil panen, memperbaiki benih, memperluas riset varietas yang sesuai lahan Indonesia dan membangun ekosistem industri tempe yang lebih adil.

Untuk gandum, persoalannya berbeda. Indonesia bukan negara yang ideal untuk produksi gandum skala besar. Maka solusinya tidak bisa semata-mata memaksakan swasembada gandum. Yang lebih masuk akal adalah mengurangi ketergantungan melalui diversifikasi bahan pangan dan bahan baku tepung. Tepung dari bahan alternatif seperti singkong, sagu, sorgum dan bahan pangan lokal lain perlu terus dikembangkan, bukan sebagai pengganti total terigu, tetapi sebagai penyeimbang. Selera masyarakat memang tidak bisa diubah dalam semalam, tetapi kebijakan pangan harus berani memulai perubahan sejak sekarang.

Di sisi lain, pelaku usaha kecil juga perlu dilindungi. Pengrajin tempe, pedagang tempe mendoan dan UMKM gorengan bukan sekadar

pelaku ekonomi informal. Mereka adalah penjaga denyut pangan rakyat. Pemerintah daerah bisa membantu melalui informasi harga bahan baku yang transparan, koperasi pembelian kedelai, akses pembiayaan murah, pelatihan efisiensi produksi, dan jaringan distribusi yang lebih pendek. Jangan sampai pedagang kecil dibiarkan sendirian menghadapi gejolak dolar, sementara mereka tidak punya kekuatan untuk mengendalikan harga bahan baku.

Masyarakat juga perlu bersikap adil. Ketika harga tempe mendoan naik, jangan buru-buru menyalahkan pedagang. Bisa jadi mereka sedang berusaha bertahan di tengah biaya yang meningkat. Di balik mendoan yang sedikit mengecil, ada biaya kedelai, tepung, minyak, gas, sewa tempat, tenaga kerja dan ongkos hidup yang ikut naik. Pedagang kecil bukan penyebab utama mahalnya pangan; mereka sering kali justru korban pertama dari rantai ekonomi yang panjang.

Tempe mendoan mengajarkan bahwa ekonomi global tidak selalu datang dalam bentuk angka rumit. Kadang ia hadir dalam bentuk gorengan hangat di piring kecil. Dolar AS yang menguat mungkin terdengar jauh, tetapi ternyata bisa membuat tempe lebih tipis, tepung lebih mahal, dan pedagang lebih gelisah. Dari sini kita belajar bahwa kedaulatan pangan bukan sekadar urusan sawah dan ladang, melainkan juga urusan nilai tukar, industri, distribusi, riset dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Maka, setiap kali kita menggigit tempe mendoan, ada baiknya kita tidak hanya menikmati gurihnya, tetapi juga merenungkan pesannya. Makanan tradisional ini sedang memberi tanda bahwa kita tidak cukup hanya bangga pada kuliner lokal tetapi juga harus serius memperkuat bahan bakunya. Sebab, identitas kuliner yang kuat akan rapuh bila dapurnya terlalu bergantung pada dolar AS.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perkuat Ekosistem Halal Global, Kepala BPJPH Raih Gelar Profesor
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Pawai Tahun Baru Islam dongkrak penyewaan odong-odong di Jaktim
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Pemerintah Menegaskan Deregulasi dan Hilirisasi sebagai Kunci Pemulihan Ekonomi serta Penguatan Kepercayaan Investor
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Profil Vozinha, Kiper Cape Verde Berusia 40 Tahun yang Gagalkan Kemenangan Spanyol
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mendagri Tinjau Langsung Penerima Bantuan Bedah Rumah di Tambora Jakbar
• 18 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.