Pantau - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) antara Amerika Serikat dan Iran belum dipublikasikan karena masih terdapat sejumlah detail teknis terkait pelaksanaannya yang perlu diselesaikan.
Detail Teknis Masih Dalam Tahap PenyelesaianVance menjelaskan bahwa penundaan publikasi tidak berkaitan dengan substansi isi kesepakatan, melainkan aspek implementasi yang masih dibahas.
Ia mengungkapkan, “Ada beberapa detail teknis yang perlu diselesaikan, yang tidak berkaitan dengan isi MoU itu sendiri, melainkan dengan pelaksanaannya.”
Menurutnya, Qatar dan Pakistan telah memberikan kontribusi besar dalam memfasilitasi proses tercapainya kesepakatan tersebut.
Vance juga menegaskan bahwa Amerika Serikat berharap Iran memperoleh manfaat dari perjanjian apabila mematuhi seluruh ketentuan yang telah disepakati.
Ia mengatakan, “Jika Iran mematuhi ketentuan dalam kesepakatan tersebut, maka manfaat akan mengalir kepada mereka dan itulah yang kami harapkan.”
Pengawasan Nuklir Menjadi Bagian Penting KesepakatanVance menyampaikan bahwa dirinya ingin melihat Iran berkembang sebagai negara yang sukses dengan syarat berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dalam jangka panjang.
Ia menuturkan, “Namun, hal itu hanya akan terjadi jika mereka melakukan hal-hal yang diperlukan untuk berkomitmen dalam jangka panjang agar tidak mengembangkan senjata nuklir.”
Lebih lanjut, Vance menjelaskan bahwa salah satu poin utama dalam MoU adalah bantuan dari Amerika Serikat dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memusnahkan persediaan uranium yang diperkaya milik Iran.
Ia mengungkapkan, “Faktanya, salah satu bagian inti dari kesepakatan tersebut adalah bahwa IAEA dan Amerika Serikat akan membantu Iran menghancurkan persediaan uranium yang sangat diperkaya, dan hal itu dijelaskan dengan sangat jelas.”
Selain itu, para inspektur nuklir juga akan diizinkan kembali memasuki Iran sebagai bagian dari mekanisme pengawasan dalam implementasi kesepakatan.
Dokumen MoU tersebut telah dikonfirmasi selesai oleh Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, serta dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada 19 Juni setelah penandatanganan digital dilakukan sebelumnya.




