Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono angkat bicara terkait insiden yang terjadi dalam agenda diskusi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Selain Sudaryono, diskusi itu juga dihadiri Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Adapun sejumlah mahasiswa melakukan aksi protes hingga acara tidak dapat dilanjutkan.
Sudaryono menegaskan, dirinya bersama Nusron dan Budiman sejak awal datang ke UGM untuk berdialog secara terbuka dengan mahasiswa.
"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini," ujar Sudaryono dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6).
Menurut dia, ruang dialog telah dibuka seluas-luasnya. Ia menyebut, mahasiswa dipersilakan menyampaikan pertanyaan maupun kritik terhadap kebijakan pemerintah.
"Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis," katanya.
Sudaryono menjelaskan, diskusi sempat berlangsung sekitar 30 hingga 40 menit. Namun, situasi kemudian berubah ketika sebagian peserta menghendaki agar diskusi dihentikan.
"Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog," ungkapnya.
Meski situasi mulai memanas, Sudaryono mengaku tetap bertahan di lokasi bersama Nusron karena meyakini dialog merupakan cara terbaik untuk menyelesaikan perbedaan pandangan.
Namun, kondisi disebut semakin tidak kondusif setelah terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan fisik terhadap dirinya.
"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ujarnya.
Sudaryono juga membantah anggapan bahwa dirinya dan Nusron meninggalkan lokasi karena menghindari mahasiswa yang ingin berdialog.
"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tegasnya.
Dalam dialog yang berlangsung setelah kejadian tersebut, sejumlah mahasiswa menyampaikan kritik terkait persoalan agraria dan dugaan penggusuran. Sudaryono mengaku terbuka untuk memeriksa langsung berbagai persoalan yang disampaikan mahasiswa.
"Kalau memang ada penggusuran atau persoalan agraria tertentu, ayo kita cek bersama. Saya bahkan siap menggunakan dana pribadi untuk mendatangi lokasi dan melihat langsung persoalannya," kata Sudaryono.
Ia menegaskan pemerintah tidak anti terhadap kritik. Menurutnya, kritik merupakan bagian dari praktik demokrasi selama disampaikan dengan tetap menghormati pandangan pihak lain.
"Kalau ada yang keliru, kita perbaiki. Itu cerminan demokrasi. Orang boleh punya pendapat, tetapi juga harus menghargai pendapat orang lain," ujarnya.
Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang datang dengan tujuan mengikuti diskusi, tetapi tidak dapat mengikuti forum secara maksimal akibat kericuhan yang terjadi.
"Saya minta maaf kepada adik-adik mahasiswa yang sebetulnya ingin berdialog secara baik. Kami siap jika diundang kembali, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Yang penting kita berdiskusi," katanya.
Menurut Sudaryono, pemerintah akan terus membuka ruang komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa.
"Atas dasar cinta kepada negara, kami siap berdialog dengan siapa pun. Ini bukti bahwa pemerintah demokratis dan terbuka terhadap kritik maupun masukan," pungkasnya.
Sebelumnya, sejumlah mahasiswa menggeruduk acara diskusi di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam video yang beredar, mahasiswa meneriaki "revolusi" hingga menggebrak-gebrak mobil.
Acara diskusi ini semula berjalan lancar. Ketiga narasumber bicara di atas panggung. Lalu saat Budiman membahas soal eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto—bahwa jangan ada yang menyentuh Tiyo, sejumlah mahasiswa naik ke panggung.
Spanduk dibentangkan mulai dari "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim". Teriakan "Satuan Penjilat Prabowo-Gibran" pun berulang kali terdengar.
Terpantau pula sempat terjadi pelemparan gelas air mineral. Ketiga pejabat ini lalu dievakuasi ke luar, namun, mahasiswa telah mengadang di sekitar mobil para pejabat.





