MAKASSAR, KOMPAS - Gempa dangkal berkekuatan M 6,7 mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tengah. Gempa berpusat di darat ini membuat warga panik dan sejumlah bangunan rusak. Gempa susulan terus terjadi, dan tim SAR masih memantau kondisi di lapangan.
Gempa besar M 6,7 terjadi di Sigi, Palu, pada Selasa (16/6/2026) jelang siang. Guncangan terasa keras di wilayah Palu, bahkan hingga Sulawesi Barat. Gempa membuat warga panik dan sejumlah bangunan rusak
Alifa (20), salah seorang warga Palu menuturkan, ia sedang berada di Universitas Tadulako saat gempa besar terjadi. Getaran terasa keras selama beberapa detik yang membuat ia dan rekannya panik. Guncangan besar membuat suara gemuruh dan plafon jatuh. Mereka lalu berusaha menyelamatkan diri dari dampak gempa.
“Bangunan ada yang roboh, ada yang plafonnya jatuh. Ini kami sedang di rumah teman untuk sementara. Gempa susulan masih terjadi,” ujarnya.
Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulteng Andi Sembiring menuturkan, gempa terasa cukup keras berlangsung sekitar lima detik. Hal itu membuat warga sempat panik dan berhamburan keluar rumah atau bangunan.
Berdasarkan pemantauan awal, terjadi sejumlah kerusakan bangunan, akses transportasi yang rusak, rumah, dan tempat usaha. Pasien di rumah sakit juga keluar dan berhamburan akibat gempa.
“Sampai sekarang kami belum mendapatkan laporan adanya korban jiwa. Namun kami tetap waspada karena laporan gempa susulan mencapai 22 kali,” ucapnya.
Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, gempa terjadi di darat dengan kedalaman 10 kilometer (km). Lokasi gempa berada 42 km arah tenggara dari Palu, dan 70 km barat laut dari Poso.
Getaran gempa paling kuat dirasakan pada skala VI hingga VII di Kota Palu. Sementara, di Sigi, guncangan dirasakan hingga skala VI.
Wilayah Palu menyimpan jejak gempa dan tsunami. Gempa berkekuatan magnitudo (M) 7,4 pada 28 September 2018 hanyalah satu dari ribuan gempa yang terjadi di Kota Palu dan sekitarnya.
Saat itu, gempa bumi dan likuefaksi disusul tsunami melanda Palu, Sigi, dan Donggala. Menurut data Sekretariat Daerah Provinsi Sulteng, sebanyak 3.124 orang tewas, 705 orang hilang, dan 1.016 orang dikubur massal (tanpa identitas). Adapun rumah yang rusak mencapai 110.214 rumah.
Dalam kurun waktu ratusan tahun, catatan sejarah menyebutkan gempa dirasakan ribuan kali di wilayah ini. Namun, tidak semuanya menimbulkan kerusakan dan korban (Kompas, 28/1/2020).





