REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU -- Jejak sejarah Indonesia juga tersimpan di Rumah Kediaman Bung Karno, sebuah bangunan bergaya Indische yang berdiri teduh di Jalan Soekarno-Hatta, Anggut Atas, Kota Bengkulu. Rumah bercat putih itu tampak sederhana dibandingkan peran besar yang pernah dimainkannya dalam perjalanan bangsa.
Di rumah itulah Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno, menjalani masa pengasingan sepanjang tahun 1938 hingga 1942. Namun alih-alih menjadi tempat yang membungkam gagasan, rumah tersebut justru menjadi ruang lahirnya kreativitas, pemikiran, dan semangat kebangsaan yang terus berkobar.
Dalam napak tilas Bulan Bung Karno yang dilakukan Komisi A DPRD DIY ke Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu, Kamis (11/6/2026), rombongan diajak menelusuri bagaimana masa pengasingan ternyata menjadi salah satu periode paling produktif dalam kehidupan sang proklamator. Di Bengkulu, Bung Karno tidak hanya bertahan. Ia berkembang.
Rumah yang dahulu milik pedagang keturunan Tionghoa bernama Lion Bwe Seng itu disewa pemerintah kolonial Belanda untuk mengisolasi Bung Karno dari pengaruh politiknya. Namun sejarah justru mencatat hal sebaliknya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}"Pengaruh Bung Karno sangat besar dan luar biasa, karena masyarakat terutama tokoh-tokoh pergerakan ini sudah tahu ya membaca sepak terjang Bung Karno, sebagian ada yang takut-takut, sebagian ada yang memang membela dan inilah kesempatan bagi para pergerakan untuk bersatu dengan Bung Karno kala itu," ujar Sejarawan Bengkulu yang dulu pernah menjabat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bengkulu periode 2009-2011, Agus Setiyanto, Kamis (11/6/2026).
Agus menyampaikan, dari rumah tersebut, lahir berbagai gagasan yang membentuk kesadaran nasional masyarakat setempat. Melalui seni, olahraga, pendidikan, hingga diskusi intelektual, Bung Karno menemukan cara baru untuk menyampaikan cita-cita kemerdekaan kepada rakyat. Ia bahkan menyebut pengaruh Bung Karno terhadap masyarakat Bengkulu sangat besar.
Bung Karno disebut berhasil menggerakkan berbagai kalangan, terutama anak-anak muda, untuk mencintai tanah air melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Dia bisa mengajak siapa saja termasuk tokoh-tokoh muda, generasi muda dilatih untuk cinta tanah air walaupun melalui seni ya, ada yang melalui olahraga," katanya.
Tak hanya membangun kesadaran politik, Bung Karno juga membentuk berbagai wadah aktivitas masyarakat. Ia mendirikan klub sepak bola bernama Elf Monte Carlo, membentuk klub bulu tangkis, hingga kelompok debat yang menjadi ruang diskusi gagasan kebangsaan. Semua aktivitas itu memiliki tujuan yang sama.
"Ya sebenarnya arahan Bung Karno, cita-citanya Bung Karno yaitu untuk menyebarkan, mengobar ngobarkan semangat nasionalisme, jiwa patriotisme di kalangan masyarakat pribumi," ungkapnya.
Salah satu warisan paling menarik dari masa pengasingan Bung Karno di Bengkulu adalah lahirnya kelompok sandiwara Monte Carlo. Bagi Bung Karno, seni bukan sekadar hiburan. Seni adalah alat perjuangan.
Ketika ruang politik dibatasi pemerintah kolonial, Agus menceritakan bahwa Bung Karno memilih panggung sandiwara sebagai medium untuk menanamkan kesadaran kebangsaan kepada masyarakat.
Di Bengkulu, Bung Karno menulis naskah, menyutradarai pertunjukan, merancang dekorasi panggung, sekaligus melatih para pemain secara langsung. Selama empat tahun tinggal di Bengkulu, Bung Karno menghasilkan sekitar 12 karya sandiwara.
Beberapa di antaranya adalah Rainbow (Poetri Kentjana Boelan), Hantu Gunung Bungkuk, dan Dokter Setan. Agus mengatakan produktivitas Bung Karno dalam berkesenian sangat luar biasa.
"Selama empat tahun di Bengkulu, Bung Karno menghasilkan sekitar 12 karya sandiwara. Beliau menulis skenario, menjadi sutradara, mendesain panggung, dan melatih para pemain secara langsung," ungkapnya.
Melalui kelompok Monte Carlo, Bung Karno juga melibatkan banyak warga Bengkulu, termasuk Inggit Garnasih dan Fatmawati yang saat itu masih menjadi muridnya. Pementasan-pementasan tersebut kemudian menjadi ruang pertemuan masyarakat sekaligus sarana menyisipkan pesan-pesan kebangsaan di tengah pengawasan ketat pemerintah kolonial Belanda.
Bahkan menurut Agus, Bung Karno sempat menyiapkan naskah yang berbicara tentang ramalan Indonesia merdeka. Namun karya itu belum sempat dipentaskan karena Jepang lebih dahulu masuk ke Indonesia pada 1942. Jejak kesenian Bung Karno di Bengkulu kemudian didokumentasikan Agus dalam buku berjudul Bung Karno: Maestro Monte Carlo.
Agus menyebut, masa pengasingan Bung Karno menjadi berkah bagi daerah-daerah yang disinggahinya. Alih-alih memutus pengaruh Bung Karno, kebijakan Belanda justru memperluas penyebaran ide-ide nasionalisme ke berbagai wilayah Indonesia.
"Memang masyarakat pribumi yang haus akan pemikiran-pemikiran Bung Karno dan mendapat kesempatan langsung dari tokoh nasional akhirnya semangat-semangat jiwa-jiwa nasionalisme itu tumbuh berkembang di Bengkulu," ujarnya.
"Walaupun berada dalam pengasingan dan ruang geraknya dibatasi, beliau tetap berkarya serta menyampaikan ide-ide perjuangannya melalui berbagai aktivitas yang dapat diterima masyarakat saat itu," ucapnya.
Meski demikian, pengawasan terhadap Bung Karno berlangsung sangat ketat. Pemerintah kolonial menempatkan polisi rahasia yang terus memantau aktivitasnya. Bung Karno juga kerap dipanggil ke Benteng Marlborough untuk menjalani pemeriksaan terkait berbagai kegiatannya.
"Dan di satu sisi pemerintah kolonial ini tidak tinggal diam maka dia selalu mengawasi Bung Karno karena ada polisi dinas rahasia yang setiap saat mengawasi Bung Karno," kata Agus.
Pembatasan ruang gerak juga diberlakukan. Bung Karno tidak diperkenankan bepergian lebih dari radius sekitar 40 kilometer dari Bengkulu tanpa izin pemerintah kolonial. Namun, seperti banyak kisah lainnya tentang Bung Karno, pembatasan itu sering kali mampu ia hadapi dengan kecerdikan dan diplomasi.
Bengkulu, Tempat Bung Karno Menemukan Fatmawati
Selain melahirkan karya seni dan aktivitas kebangsaan, Bengkulu juga menjadi saksi peristiwa penting dalam kehidupan pribadi Bung Karno. Di kota inilah ia bertemu dengan Fatmawati, perempuan yang kelak menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia.
Menurut Agus, pertemuan dengan Fatmawati memberi energi baru bagi Bung Karno di tengah masa pengasingan.
"Bung Karno menjadi semakin bergairah, itu setelah dia bertemu dengan Fatmawati di sini puncaknya ideologi Bung Karno luar biasa, menyala-nyala dan tidak pernah habis," ujarnya.
Agus menilai Fatmawati bukan sekadar pendamping hidup Bung Karno. Ia adalah sosok yang memiliki kecerdasan dan semangat kebangsaan yang kuat.
"Bung Karno mendapat semangat baru karena Fatmawati ini ternyata seorang anak yang cerdas. Jadi sebelum itu kan belum begitu dewasa tapi remaja, tapi begitu Bung Karno melihat kecerdasannya Fatmawati bisa mengimbangi dialog-dialognya sehingga partner yang luar biasa," katanya.
Dari Bengkulu pula berawal kisah yang kemudian melahirkan salah satu simbol paling sakral dalam sejarah Indonesia: Sang Saka Merah Putih. Agus menyebut, peran Fatmawati tidak bisa dipandang sekadar sebagai penjahit bendera pusaka.
"Tapi pemikiran bagaimana menyimpan, mendirikan bendera yang bakal menjadi bendera pusaka bendera merah putih itu sudah ada di jiwa Fatmawati jadi jiwa kebangsaan Fatmawati itu sudah luar biasa," ujarnya.
Jejak Kehidupan Bung Karno Masih Tersimpan di Setiap Sudut Rumah
Saat memasuki rumah pengasingan Bung Karno, Republika melihat berbagai benda peninggalan masih tersimpan dan dirawat sebagai saksi bisu perjalanan sang proklamator selama menjalani pengasingan di Bengkulu. Di ruang utama, terdapat sebuah meja kerja dan kursi kayu masih berdiri, menggambarkan ruang tempat Bung Karno membaca, menulis, dan merumuskan berbagai gagasan yang kelak menjadi bagian dari perjuangan bangsa.
Deretan buku koleksi Bung Karno juga dipajang di dalam rumah. Buku-buku itu menjadi penanda bahwa masa pengasingan tidak membuatnya berhenti belajar dan berpikir.
Ada juga sebuah sepeda yang identik dengan keseharian Bung Karno di rumah tersebut. Kendaraan sederhana itu digunakan untuk berkeliling kota dan berinteraksi dengan masyarakat di Bengkulu. Meski demikian, Agus menyebut masih terdapat perdebatan mengenai keaslian sepeda yang dipajang saat ini.
"Suatu saat ada cerita ya, Bung Karno kan kemana-mana pakai sepeda. Sepedanya yang ada di depan itu saya tidak bisa menjelaskan apakah sepedanya itu yang dipakai Bung Karno karena ada hal yang masih misterius," katanya.
Rumah tersebut juga menyimpan sejumlah dokumen bersejarah. Salah satunya salinan Surat Nikah Bung Karno dan Inggit Garnasih tertanggal 24 Maret 1923. Terdapat pula surat rahasia Residen Bengkulu kepada Gubernur Sumatra yang berisi laporan mengenai pengiriman uang rutin oleh Bung Karno untuk anak angkatnya, Ratna Djumilah.
Kemudian ada juga ranjang besi tempat Bung Karno beristirahat bersama Inggit Garnasih selama tinggal di rumah tersebut. Setiap benda di rumah pengasingan itu tidak sekadar menjadi koleksi museum. Benda-benda tersebut merekam sisi lain kehidupan Bung Karno sebagai seorang suami, guru, seniman, pemikir, sekaligus pejuang yang tetap produktif meski berada dalam pengawasan ketat pemerintah kolonial Belanda
Saat ini, peninggalan-peninggalan tersebut menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin melihat lebih dekat ruang tempat lahirnya berbagai gagasan, karya sandiwara Monte Carlo, serta kisah pertemuan Bung Karno dengan Fatmawati yang kelak menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia.
Pengelola Operasional Rumah Kediaman Bung Karno di Bengkulu, Safrida Hanum, menambahkan, sejumlah koleksi bersejarah di lokasi tersebut masih terjaga, termasuk sumur yang pernah digunakan Bung Karno. Rumah tersebut telah mengalami beberapa kali pemugaran sejak pertengahan 1980-an, namun bentuk utama bangunan tetap dipertahankan sesuai kondisi aslinya.
"Itu masih asli semua, dan ada salah satu sumur yang pernah dipakai Bung Karno. Jadi konon katanya, siapa yang cuci muka di situ, akan balik lagi ke rumah ini," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi A DPRD DIY, Syarief Guska Laksana, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi kunjungan sejarah, tetapi juga sarana pembelajaran untuk memahami perjuangan para pendiri bangsa dalam merebut kemerdekaan meski berada dalam berbagai keterbatasan.
Menurut Guska, rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu menyimpan banyak jejak penting perjalanan sejarah bangsa. Selama masa pengasingannya, Bung Karno tetap aktif mengembangkan gagasan kebangsaan, membangun kelompok teater Monte Carlo, serta menghasilkan berbagai karya yang menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya. Nilai-nilai yang diwariskan para pendiri bangsa ini perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda, agar semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air tetap terjaga.
"Napak tilas ini bagian dari Sinau Pancasila. Harapannya kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi juga memperkuat hubungan dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu sekaligus mengangkat potensi wisata sejarah dan nasionalisme yang dimiliki daerah ini," ujarnya.




