Kerusuhan Agustus 2025: Kekuatan Jaringan dan Wajah Baru Mobilisasi Massa di Era Digital

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sore itu Jakarta dipenuhi asap, teriakan, dan suara sirene. Di tengah kekacauan yang membelah jalan raya, seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan terjatuh dan tak pernah bangkit kembali. 

Ia bukan pemimpin demonstrasi. Ia bukan tokoh politik. Ia bukan aktivis yang berpidato di atas mobil komando. Ia hanya rakyat biasa yang sedang mencari nafkah. Namun kematiannya mengubah arah sejarah.

Video tubuh Affan yang tergeletak di jalan menyebar ke jutaan telepon genggam hanya dalam hitungan jam. Wajahnya muncul di grup WhatsApp keluarga, di TikTok anak sekolah, di Instagram para pekerja muda, dan di linimasa para aktivis. 

Dalam waktu yang sangat singkat, seorang anak muda yang sebelumnya tak dikenal berubah menjadi simbol nasional. Dari Aceh hingga Papua, kemarahan bergerak lebih cepat daripada berita televisi. Demonstrasi meledak di berbagai kota. Sebagian berlangsung damai. Sebagian berubah menjadi bentrokan. 

Beberapa kantor pemerintah dibakar. Gedung DPRD di Makassar menjadi puing. Korban jiwa berjatuhan.

Banyak orang bertanya: mengapa kematian satu orang bisa mengguncang sebuah negara?

Menurut Denny JA, Pengamat Politik dan Akademisi,  peristiwa Agustus 2025 bukan sekadar kerusuhan. 

"Saya menyaksikan jatuhnya Orde Baru. Saya melihat reformasi melahirkan harapan baru. Saya juga melihat bagaimana media sosial perlahan mengubah perilaku masyarakat secara radikal. Ketika saya membaca laporan-laporan lapangan tentang kerusuhan Agustus 2025, saya merasakan sesuatu yang berbeda," uajr Denny JA.

Menurutnya, sesuatu yang baru sedang lahir, kelas sosial baru, cara baru manusia marah. Selama dua abad terakhir, teori sosial lahir ketika dunia berubah lebih cepat daripada bahasa yang tersedia untuk menjelaskannya. 

"Saya melihat algoritma mengambil peran yang sebelumnya dimainkan oleh organisasi politik. Saya melihat notifikasi menggantikan pamflet revolusi. Dan saya melihat bagaimana satu video berdurasi pendek dapat melakukan pekerjaan yang dulu membutuhkan bertahun-tahun organisasi gerakan sosial."

Denny JA mencoba menjelaskan dengan berlandaskan beberapa teori lama, seperti:

Teori Relative Deprivation dari Ted Robert Gurr dalam buku Why Men Rebel. Gurr menjelaskan bahwa pemberontakan tidak lahir dari kemiskinan semata. Pemberontakan lahir ketika terdapat jarak antara harapan dan kenyataan. 

"Teori ini sangat kuat menjelaskan Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, hingga berbagai pemberontakan abad ke-20. Ia membantu kita memahami mengapa masyarakat yang tidak paling miskin justru sering menjadi pelaku protes paling besar."

Teori kedua adalah Resource Mobilization Theory yang dikembangkan oleh McCarthy dan Zald.

Teori ini menyatakan bahwa gerakan sosial berhasil jika memiliki sumber daya yang cukup. Organisasi, dana, kepemimpinan, jaringan, dan kemampuan koordinasi menjadi faktor utama.

Teori ini sangat berpengaruh karena mengubah cara ilmuwan melihat aksi protes. Gerakan sosial tidak lagi dipahami sebagai ledakan emosi semata. Ia dipahami sebagai hasil kerja organisasi yang sistematis.

"Namunn kedua teori di atas lahir sebelum internet dan tidak menjelaskan bagaimana algoritma memperbesar kemarahan. Ia tidak menjelaskan mengapa video 30 detik menjadi pemicu nasional,"

Teori ketiga adalah Networked Protest Theory yang banyak dikembangkan oleh Manuel Castells dan Zeynep Tufekci.  Menurut Denny, teori ini paling dekat dengan realitas abad ke-21.

Castells menunjukkan bagaimana internet menciptakan jaringan kemarahan dan harapan. Tufekci menjelaskan bagaimana media sosial memungkinkan mobilisasi cepat dalam skala besar. Arab Spring, Occupy Wall Street, Black Lives Matter, dan berbagai gerakan digital lain dijelaskan dengan sangat baik oleh teori ini.

Namun, lanjut Denny, teori ini juga belum cukup. Ia belum sepenuhnya menjelaskan mengapa sebagian masyarakat lebih mudah tersulut dibanding kelompok lain.

Kerusuhan Agustus 2025 menunjukkan bahwa ribuan orang dapat bergerak tanpa organisasi formal. Mereka tidak memiliki kantor pusat. Mereka tidak memiliki ketua umum. Mereka tidak memiliki struktur hierarki yang jelas., namun mereka tetap mampu bergerak secara serentak.

Dalam dunia digital, jaringan sering kali lebih kuat daripada organisasi. Solidaritas dapat lahir dari grup Telegram, komunitas daring, atau sebuah tagar yang viral. Di sini teori mobilisasi sumber daya mulai kehilangan daya jelaskannya. Ia menjelaskan jaringan komunikasi.

"Dengan demikian, kita berhadapan dengan lanskap teori yang kaya tetapi terfragmentasi. Masing-masing menawarkan lensa tajam, namun belum membentuk panorama utuh tentang bagaimana ekonomi, teknologi, dan emosi berinteraksi dalam kerusuhan digital kontemporer."

Dari refleksi terhadap berbagai teori itu, Denny mengajukan sebuah teori sosial baru yang disebutnya Teori Kerusuhan Era Digital. Teori ini dibangun di atas lima variabel utama,  yaitu: 

Economic Grievance atau keresahan ekonomin,

ketidakadilan ekonomi yang dirasakan rakyat. Harga pangan yang meningkat, lapangan kerja yang menyempit, daya beli yang menurun, dan masa depan yang terasa makin tidak pasti menciptakan akumulasi kemarahan. 

Digitally Vulnerable Class (DVC)

Sebagai  kelas rentan digital. Mereka adalah ojol, kurir, freelancer, pekerja platform, content creator kecil, dan berbagai pekerja informal digital. Mereka hidup dalam tiga kerentanan sekaligus: kerentanan ekonomi, kerentanan algoritmik, dan kerentanan harapan. Mereka menjadi subjek utama kerusuhan digital abad ke-21.

Social Media Amplification.

Media sosial berfungsi sebagai pengganda emosi kolektif. Ia mengubah keluhan lokal menjadi kemarahan nasional. Ia mempercepat solidaritas sekaligus memperbesar kepanikan. 

Kemarahan memerlukan simbol. Dalam kasus Agustus 2025, Affan Kurniawan menjadi simbol itu. Setelah pemicu muncul, provokator dan disinformasi dapat membelokkan protes damai menjadi kerusuhan. 

Broken Social Contract.

Kerusuhan meledak ketika rakyat merasa negara tidak lagi memenuhi janji dasarnya. Negara dianggap gagal melindungi, gagal memberi keadilan, gagal membuka peluang, dan gagal mendengar suara masyarakat. Pada titik itu, kontrak sosial kehilangan legitimasi moralnya.

Kelima variabel ini tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dalam sebuah siklus. Keresahan ekonomi menumpuk di kelas rentan digital, diperbesar algoritma, dipicu simbol tragis, lalu meledak ketika kepercayaan terhadap negara runtuh.

Menurut Denny, Jika lima variabel ini benar, maka kerusuhan digital bukanlah peristiwa yang unik bagi Indonesia. Ia berpotensi menjadi pola baru abad ke-21, muncul di berbagai negara ketika keresahan ekonomi bertemu kelas rentan digital dan dipercepat oleh mesin algoritma.Kerusuhan Agustus 2025 bukan sekadar peristiwa politik. Ia adalah tanda zaman.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prajurit TNI AD Raih Magister dan Jadi Prajurit TNI Pertama di Lemhannas Yordania
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Perusahaan Kapal Cari Kejelasan Soal MoU AS-Iran yang Akan Buka Selat Hormuz
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Cahaya, Tradisi, dan Harapan
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Asta Akhirnya Kembali! Black Clover Season 2 Tayang Oktober 2026
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
2.872 Haji Debarkasi Banjarmasin Sudah Kembali ke Tanah Air
• 17 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.