VIVA – Penampilan gemilang kiper Timnas Tanjung Verde, Vozinha, menjadi salah satu cerita mengejutkan di Piala Dunia 2026. Namun, di balik aksi heroiknya yang membantu negaranya menahan imbang juara Eropa, tersimpan kisah menyentuh tentang keluarganya yang tidak bisa menyaksikan momen bersejarah tersebut secara langsung.
Vozinha tampil luar biasa saat Tanjung Verde menghadapi Italia dalam laga fase grup yang berlangsung di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat. Kiper berusia 40 tahun itu melakukan tujuh penyelamatan penting dan sukses menjaga gawangnya tetap tanpa kebobolan hingga pertandingan berakhir dengan skor 0-0.
Performa impresif tersebut membuat Vozinha dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Pertandingan. Setelah peluit panjang berbunyi, kiper yang memiliki nama lengkap Vozinha itu terlihat tak mampu menahan air mata di tengah perayaan rekan-rekannya yang menganggap hasil imbang tersebut seperti sebuah kemenangan besar.
Di balik tangis harunya, ada kerinduan terhadap keluarga yang tidak dapat mendampingi dirinya di stadion. Ia mengungkapkan bahwa sang ibu gagal datang ke Amerika Serikat karena kendala pengurusan visa serta biaya perjalanan yang harus ditanggung.
“Ini adalah pesan terima kasih kepada semua orang di Tanjung Verde. Kami sangat bahagia setelah ini, kelompok pemain ini telah bekerja keras untuk mewujudkan momen ini. Ini adalah hari yang patut dibanggakan dan disyukuri," ujar Vonzinha.
Vozinha kemudian menjelaskan alasan emosional yang membuat dirinya menangis usai pertandingan. Ia mengenang kakek dan neneknya yang membesarkannya sejak kecil, tetapi kini sudah meninggal dunia dan tidak bisa melihat pencapaiannya di panggung sepak bola terbesar dunia.
“Saya menangis setelah pertandingan karena saya dibesarkan oleh kakek-nenek saya ketika masih kecil, dan mereka tidak bisa hadir. Mereka meninggal beberapa tahun yang lalu. Ibu saya juga tidak bisa hadir karena masalah visa, dan biaya yang harus kami keluarkan untuk itu. Kami tidak berhasil mengurusnya tepat waktu," ucapnya.
Masalah visa memang menjadi salah satu tantangan yang muncul sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di kawasan Amerika Utara. Sejumlah negara mengalami kesulitan terkait proses izin masuk ke Amerika Serikat, termasuk Timnas Iran yang harus mengubah pusat pemusatan latihan mereka ke Meksiko.





