JAKARTA, KOMPAS – Untuk menguatkan reputasi ilmu pengetahuan Indonesia di tingkat global dibutuhkan karya-karya ilmiah yang reputasinya diakui oleh jurnal internasional. Sayangnya, hingga kini, karya atau artikel ilmiah Indonesia yang bereputasi internasional Q1 dan Q2 yang terindeks Scopus masih sedikit.
Untuk itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengajak komunitas ilmiah nasional seperti Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan perguruan tinggi berkolaborasi menjaga kualitas pendidikan tinggi dan pengembangan ilmu pengetahuan Indonesia. Pemerintah akan mendukung peningkatan jurnal ilmiah internasional hingga mendorong riset yang berdampak langsung, sehingga tidak sekadar berhenti di publikasi ilmiah.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto saat menerima Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Jakarta menekankan pentingnya memperkuat reputasi ilmu pengetahuan Indonesia melalui pengembangan jurnal ilmiah multidisiplin yang diinisiasi AIPI. Jurnal tersebut diharapkan menjadi wadah publikasi bereputasi internasional yang mampu menampilkan karya-karya terbaik ilmuwan dan akademisi Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem ilmu pengetahuan global.
Pertemuan tersebut membahas penguatan kolaborasi strategis antara Kemendiktisaintek dan AIPI dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, peningkatan kualitas riset nasional, dan penguatan publikasi ilmiah Indonesia. Selain itu, kemajuan ilmu sosial, humaniora, dan kebudayaan sebagai bagian dari agenda Diktisaintek Berdampak.
“Ilmuwan di Indonesia yang menjaga marwah pendidikan kita dan kualitasnya. Peran komunitas ilmiah nasional penting dalam menjaga kualitas pendidikan tinggi dan pengembangan ilmu pengetahuan Indonesia. AIPI memiliki posisi strategis sebagai wadah para ilmuwan dalam memberikan masukan dan kajian ilmiah terhadap berbagai isu pembangunan nasional,” ujar Brian seperti dikutip dari siaran pers Kemendiktisiantek, Selasa (16/6/2026).
Saat rapat kerja dengan Komisi X DPR di awal Juni 2026 lalu, Brian juga menyampaikan dukungan pada pembinaan jurnal ilmiah di Indonesia. Hal ini untuk menjawab kegelisahan dari dosen maupun mahasiswa pascasarjana terkait sulitnya publikasi di jurnal ilmiah internasional untuk mempublikasikan artikel ilmiah mereka. Selain itu, jurnal ilmiah internasional juga membutuhkan pembiayaan yang tinggi atau berbiaya mahal.
Dari data scimagojr.com per 13 Mei 2026, ada 34.100 jurnal terindeks Scopus di seluruh dunia. Jurnal ilmiah yang terindeks Scopus berarti masuk database untuk jurnal internasional yang telah memiliki reputasi. Para peneliti pada umumnya menyasar jurnal bereputasi internasional dan berdampak tinggi, yakni Q1 dan Q2, karena pengaruhnya besar.
Menurut Brian, sebenarnya di Indonesia sudah ada jurnal ilmiah bereputasi internasional yang terindeks Scopus Q1 dan Q2. Jurnal ilmiah Q1 sebanyak 42 jurnal bidang sosial dan humaniora serta dua jurnal bidang sains, teknologi, engineering/teknik, dan matematika (STEM). Adapun jurnal ilmiah Q2 sebanyak 15 bidang STEM dan 20 jurnal sosial humaniora.
Brian mengatakan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak, penelitian berbasis masalah terus diperkuat.
“Pembinaan kami lakukan untuk meningkatkan jurnal ilmiah Indonesia yang banyak dikelola perguruan tinggi menuju Q1 dan Q2. Selain itu, mengatasi keluhan soal waktu mereview yang lama di jurnal ilmiah Indonesia. Alokasi anggaran kami siapkan untuk meningkatkan kualitas jurnal ilmiah Indonesia di Q1 dan Q2 sehingga bisa terjangkau bagi ilmuwan Indonesia, khususnya dosen dan mahasiswa pascasarjana di perguruan tinggi. Ada yang biaya Rp 1 juta atau Rp 3 juta. Bahkan, bisa mendapatkan potongan atau dikurangi pembayarannya,” kata Brian.
Brian mengatakan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak, penelitian berbasis masalah terus diperkuat. Hal itu terutama di delapan sektor unggulan yakni pangan, energi terbarukan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi dan industrialisasi, digitalisasi (termasuk AI dan semikonduktor), serta material dan manufaktur maju. Hal itu termasuk juga sosial humaniora untuk mendukung kedelapan sektor unggulan.
Menurut Brian, karena riset juga mendukung lahirnya inovasi di sektor hilirisiasi untuk industri, hasil riset tidak hanya sebatas menjadi publikasi di jurnal ilmiah. Hasilnya harus dapat memberi dampak secara langsung pada industri dan masyarakat sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Ketua AIPI, Daniel Murdiyarso mengatakan terkait pengembangan jurnal multidisiplin juga dibutuhkan sebagai upaya untuk memperluas kontribusi ilmu pengetahuan Indonesia di tingkat internasional. Sekaligus, menghadirkan ruang bagi lahirnya pemikiran-pemikiran strategis yang dapat menjadi rujukan kebijakan.
Daniel menambahkan, pentingnya pendekatan multidisiplin, interdisiplin, dan transdisiplin dalam menjawab tantangan pembangunan yang semakin kompleks. Sebagai wadah yang menghimpun ilmuwan dari berbagai bidang keilmuan.
“AIPI memandang kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci untuk menghasilkan solusi yang lebih komprehensif dan relevan bagi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Kemendiktisaintek dan AIPI sepakat untuk terus memperkuat sinergi dalam membangun ekosistem ilmu pengetahuan yang unggul, berintegritas, dan berdampak. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat peran sains dan teknologi dalam mendukung pembangunan nasional, meningkatkan daya saing Indonesia, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam pertemuan sejumlah ilmuwan yang tergabung dalam AIPI, Brian juga menyoroti pentingnya penguatan narasi sejarah dan peradaban sains Indonesia. Hal ini disebutkan sesuaiarahan Presiden Prabowo Subianto.
“Pak Presiden ingin kekayaan sains disusun dan ditunjukkan kepada masyarakat. TUjuannya agar masyarakat tahu bahwa sains dan teknologi sebenarnya sudah dimulai sejak era-era panjang terdahulu,” kata Brian.
Menurut Brian, penguatan sejarah dan warisan sains Indonesia penting untuk membangun kesadaran publik. Indonesia juga memiliki tradisi pengetahuan yang panjang dan menjadi bagian dari fondasi kemajuan bangsa saat ini.
Pada peringatan Hari kebangkitan Nasional 20 mei 2026, AIPI berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan pameran nasional “SciArt 80: Potret 80 Ilmuwan Inspiratif dalam Lukisan” di Museum Kebangkitan Nasional. Pameran ini menghadirkan narasi kepahlawanan Indonesia yang tidak hanya kontribusi dari sejarah politik dan perjuangan fisik.
Indonesia juga memiliki tradisi pengetahuan yang panjang dan menjadi bagian dari fondasi kemajuan bangsa saat ini.
Kebangkitan bangsa juga lahir dari laboratorium, ruang kelas, penelitian, dan keberanian berpikir ilmiah. Di tengah zaman yang dipenuhi banjir informasi, disrupsi teknologi, dan melemahnya budaya berpikir kritis, menjadi penting bangsa Indonesia perlu diingatkan kembali pada satu fondasi utama kemajuan bangsa: ilmu pengetahuan.
Melalui pameran SciArt 80, potret para ilmuwan Indonesia dan dunia dihadirkan sebagai pengingat bahwa kebangkitan bangsa tumbuh dari tradisi berpikir, pendidikan, dan keberanian intelektual yang membentuk perjalanan Indonesia modern. Pameran menghadirkan 80 tokoh ilmuwan, pemikir, dokter, pendidik, teknolog, dan intelektual yang telah membentuk perjalanan Indonesia modern melalui pengetahuan, riset, dan keberanian berpikir lintas zaman.





