Sigi: Wakil Bupati (Wabup) Sigi, Samuel Yansen Pongi, melaporkan dua kecamatan terdampak parah imbas gempa berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Dua kecamatan tersebut aadalah Palolo dan Nokilalaki.
"Berdasarkan informasi, yang terdampak parah ini di Kecamatan Palolo dan Nokilalaki," ujar Wakil Bupati Sigi Samuel Yansen Pongi, dalam program Breaking News Metro TV, Selasa, 16 Juni 2026.
Menurut Samuel, banyak rumah-rumah yang rusak parah di kedua kecamatan tersebut. Dia masih belum bisa memastikan jumlah pastinya, karena sedang dalam perjalanan untuk meninjau ke lokasi.
"Saya sedang bersiap untuk menuju ke titik di sana karena ada beberapa rumah yang hancur," kata Samuel.
Untuk di Kecamatan Nokilalaki, Samuel melaporkan terdapat dua desa yang mengalami kerusakan rumah parah, yakni Desa Kamarora A dan Desa Kamarora B.
Baca Juga :
BMKG Catat 13 Gempa Susulan di Palu"Itu ada beberapa rumah yang rubuh begitu yang berdasarkan informasi dari keluarga, dari tim Pemda di sana yang melaporkan di grup Pusdalops," tuturnya.
Samuel belum menerima informasi kerusakan infrastruktur imbas gempa sejauh ini. Mayoritas laporannya masih kerusakan rumah. Dia juga belum mengetahui pasti jumlah korban jiwa.
"Untuk sementara kami belum dapat informasi yang akurat, makanya ini kami setelah ini langsung bergerak ke lokasi untuk mendapatkan data karena di Pusdalops sendiri belum ada data berapa rumah yang rusak berapa korban," ucapnya.
Seperti diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa, 16 Juni 2026, pukul 10.27 WIB.
BMKG mengonfirmasi episentrum atau pusat gempa tersebut terletak di darat pada koordinat 1,13 Lintang Selatan dan 120,23 Bujur Timur. Lokasi tersebut tepatnya berada di 42 kilometer arah Tenggara Kota Palu.
"Gempa bumi ini berkategori dangkal dengan kedalaman pusat gempa mencapai 10 kilometer. Namun, hasil pemodelan matematis menunjukkan aktivitas seismik ini tidak berpotensi memicu tsunami," sebut BMKG dalam keterangannya di Jakarta, seperti dilansir Antara, Selasa, 16 Juni 2026.




