HARIAN.FAJAR.CO.ID, BENTENG – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Unhas-Program Kemitraan Masyarakat (PPMU-PK-M) melaksanakan pelatihan bertajuk Peningkatan Keterampilan Menerjemahkan Teks Budaya Berbasis Kearifan Lokal dalam Aktivitas Pembelajaran bagi Kelompok MGMP Bahasa Inggris Tingkat SMA di Kecamatan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar.
Kegiatan yang berlangsung pada 12–13 Juni 2026 ini diikuti para guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris tingkat SMA Kabupaten Kepulauan Selayar. Pelatihan bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam menerjemahkan teks budaya lokal ke dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari inovasi pembelajaran yang mendukung pelestarian budaya dan penguatan identitas daerah.
Tim pengabdian terdiri atas Prof. Drs. Burhanuddin Arafah, M.Hum., Ph.D. sebagai ketua, didampingi Prof. Dra. Herawaty, M.Hum., M.A., Ph.D. dan Muhammad Ridha Anugrah Latief, S.S., M.Hum. sebagai anggota. Kegiatan ini juga melibatkan Khaeruddin, S.Pd., M.Hum., Ph.D. serta mahasiswa FIB Unhas, Taqdir.
Melalui pelatihan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai konsep dan praktik cultural translation atau penerjemahan budaya yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah. Materi yang diberikan tidak hanya berfokus pada pengalihan bahasa, tetapi juga pada pemahaman nilai, makna, dan konteks budaya yang terkandung dalam suatu teks.
Dalam pemaparannya, tim pengabdian menjelaskan berbagai teknik penerjemahan istilah budaya lokal yang sering kali tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa Inggris. Para peserta dibekali strategi untuk mempertahankan makna budaya sekaligus memastikan pesan dapat dipahami oleh pembaca internasional.
Selain sesi teori, peserta juga mengikuti praktik penerjemahan menggunakan berbagai teks budaya yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Selayar. Materi yang diterjemahkan mencakup tradisi, adat istiadat, kuliner, kesenian, serta berbagai bentuk kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Selayar.
Ketua tim pengabdian, Prof. Burhanuddin Arafah, menegaskan bahwa penerjemahan budaya memiliki peran penting dalam pembelajaran Bahasa Inggris, khususnya di daerah yang memiliki kekayaan budaya yang besar.
“Bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, guru tidak hanya mengajarkan keterampilan berbahasa, tetapi juga dapat menjadikan budaya lokal sebagai sumber belajar yang bernilai. Melalui penerjemahan budaya, siswa dapat memahami identitas budayanya sekaligus memiliki kemampuan untuk memperkenalkannya kepada masyarakat global,” ujarnya.
Menurut Prof. Burhanuddin, kemampuan menerjemahkan teks budaya juga menjadi langkah strategis untuk mendokumentasikan sekaligus mempromosikan warisan budaya lokal kepada dunia internasional. Karena itu, peningkatan kompetensi guru di bidang penerjemahan budaya perlu terus didorong melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para guru aktif berdiskusi mengenai tantangan dalam mengintegrasikan budaya lokal ke dalam pembelajaran Bahasa Inggris, termasuk kesulitan menemukan padanan istilah budaya yang tepat dalam bahasa sasaran.
Ketua MGMP Bahasa Inggris tingkat SMA Kabupaten Kepulauan Selayar, Andi Ompo, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan guru dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual.
“Kami sangat berterima kasih kepada Tim Pengabdian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin yang telah berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para guru Bahasa Inggris di Kabupaten Kepulauan Selayar. Materi mengenai penerjemahan budaya sangat penting karena membantu guru mengintegrasikan kearifan lokal dalam pembelajaran. Kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut sehingga kompetensi guru semakin meningkat dan budaya Selayar semakin dikenal luas,” katanya.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berharap para guru dapat mengimplementasikan hasil pelatihan dalam proses pembelajaran di sekolah masing-masing. Integrasi budaya lokal ke dalam pembelajaran Bahasa Inggris diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga peserta didik terhadap warisan budaya daerahnya.
Sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, kegiatan ini menjadi wujud komitmen Universitas Hasanuddin dalam mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia di daerah sekaligus berkontribusi pada pelestarian dan promosi budaya lokal. (*/)





