Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah mengajak Umat Islam agar menjadikan Tahun Baru Islam 1 Muharram sebagai momentum untuk melakukan transformasi diri dan sosial.
Demikian yang disampaikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar saat memberi sambutan pada peringatan Malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Masjid Istiqlal Jakarta, Senin (15/6/2026).
Dalam taklimatnya, Menag menyampaikan bahwa hijrah sejatinya tidak sekadar dimaknai sebagai perpindahan fisik Rasulullah dari Makkah ke Madinah.
Melainkan juga sebauh perubahan cara pandang dari mentalitas kabilah menuju kehidupan umat yang inklusif, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
"Hijrah adalah transformasi sistem kemasyarakatan, dari masyarakat kabilah yang sempit dan primordial menuju masyarakat umat yang global, kosmopolitan, serta diikat oleh kasih sayang dan visi bersama," ujar Menag.
Kegiatan Malam Tahun Baru Islam ini digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dalam rangkaian Peaceful Muharam.
Menag bercerita bahwa sebelum Islam hadir, masyarakat Arab didominasi oleh sistem kabilah yang bertumpu pada hubungan darah dan kesukuan.
Kehadiran Nabi Muhammad kemudian memperkenalkan konsep umat, yaitu komunitas yang melampaui batas-batas suku, ras, dan golongan.
Menurut Menag, ada perbedaan mendasar antara berbagai bentuk komunitas sosial. Kabilah dibangun atas dasar hubungan darah, sya'abun berlandaskan ikatan keluarga besar, qawmun terbentuk melalui kesepakatan sosial dan organisasi, sedangkan hizbun merujuk pada kelompok atau partai politik.
Umat, kata Menag, merupakan komunitas yang dipersatukan oleh empat unsur sekaligus, yaitu kasih sayang, visi ke depan, kepemimpinan yang berwibawa, serta masyarakat yang santun dan taat dalam satu sistem kepemimpinan yang disebut imamah.
"Kalau keempat unsur itu ada dalam satu komunitas, barulah layak disebut umat," tegasnya.
Di hadapan para jemaah, Menag mengajak umat Islam melakukan refleksi terhadap kondisi kehidupan sosial saat ini. "Pertanyaannya sekarang, apakah masyarakat Islam Indonesia sudah bisa disebut umat? Atau kita masih terjebak dalam mentalitas kabilah, hizbun, kedaerahan, dan kelompok sendiri-sendiri?" katanya.
Menag menilai salah satu ciri masyarakat yang masih bermentalitas kabilah adalah tertutupnya akses kepemimpinan bagi pihak di luar kelompok tertentu.




