Bisnis.com, MAKASSAR — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi ada 71 gempa bumi susulan usai gempa besar magnitudo 6,7 yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6/2026).
Lokasi gempa susulan berada di sekitar Sesar Palolo dan Sesar Sausu, sebelah tenggara wilayah Palu dengan variasi magnitudo 5,1 - 2,9. Kendati demikian, BMKG menyebut bahwa bencana alam ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
Diberitakan sebelumnya, episenter gempa bumi magnitudo 6,7 terletak pada koordinat 1,03° LS dan 120,24° BT. Lokasi tersebut tepatnya berada di darat, berjarak 42 kilometer arah tenggara Palu, Sulawesi Tengah, dengan kedalaman hiposenter yang cukup dangkal yakni 10 kilometer.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal.
"Gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault)," ujar Wijayanto dalam keterangan resminya, Selasa (16/6/2026).
Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap) serta hasil observasi instrumentasi BMKG, getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi dengan tingkat intensitas yang bervariasi.
Baca Juga
- Gempa Bumi 6,7 M di Sulawesi Tengah Tak Berpotensi Tsunami, Sejumlah Bangunan Rusak
- Gempa Bumi 7,7 M Guncang Sulawesi, BNPB Minta Masyarakat Waspada
- Gempa Bumi Hari Ini Berkekuatan Magnitudo 5,1 di Jember
Di Palu dengan skala intensitas VI-VII MMI; di Sigi skala intensitas V-VI MMI; Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, Pasang Kayu dengan skala intensitas III MMI; serta Pinrang, Parepare, Pohuwatu, Boalemo, Gorontalo Utara, Kabupaten Gorontalo, Luwu Utara dengan skala intensitas II-III MMI.
Hingga berita ini diturunkan, BMKG mengonfirmasi telah menerima sejumlah laporan mengenai dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat guncangan tersebut. Namun, hasil pemodelan matematis memastikan struktur gempa ini tidak membangkitkan tsunami.
Hingga pukul 11.20.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas tektonik susulan yang cukup intens. Tercatat telah terjadi 9 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai M5,1.
Wijayanto menegaskan pihaknya akan terus memonitor perkembangan aktivitas gempa susulan beserta dampaknya secara berkala. Seluruh informasi mutakhir akan segera dibagikan kepada pemangku kepentingan (stakeholder), media, dan masyarakat luas.
Merespons peristiwa ini, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu atau disinformasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
"Masyarakat juga diminta untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. Sebelum kembali ke dalam rumah, warga diharapkan memeriksa dan memastikan struktur bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa serta tidak mengalami kerusakan struktural yang membahayakan kestabilan bangunan," terangnya.





