jpnn.com, JAKARTA - Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman mendorong mahasiswa untuk mengambil peran dalam menghadirkan solusi atas berbagai tantangan pembangunan, termasuk pengelolaan sampah dan transisi energi berkelanjutan.
Dirjen Fauzan menyampaikan Kemdiktisaintek telah mendukung berbagai riset terkait pengolahan sampah menjadi energi.
BACA JUGA: Kemendikdasmen Siapkan Rangkaian Kebijakan untuk Tingkatkan Kesejahteraan Guru
Perguruan tinggi berperan strategis melalui dua jalur utama, yakni menghasilkan inovasi berbasis kepakaran akademik serta membina talenta, termasuk mahasiswa, yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
“Pengelolaan sampah merupakan persoalan yang melibatkan aspek teknologi, ekonomi, tata kelola, dan transformasi sosial masyarakat. Kita membutuhkan talenta-talenta yang mampu melihat persoalan secara menyeluruh dan menghadirkan solusi yang berkelanjutan,” ujarnya, Selasa (16/6).
BACA JUGA: Kemendiktisaintek Usut Dugaan Riset Palsu oleh WNI di Forum Internasional
Saat ini, Kemdiktisaintek juga mendorong keterlibatan mahasiswa melalui Program Aksara Mahasiswa, yaitu Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa.
Melalui program ini, mahasiswa hadir langsung di tengah masyarakat untuk berdialog dengan warga, memetakan persoalan di lapangan, membangun kesadaran publik, serta mendorong praktik pengelolaan sampah yang lebih baik mulai dari tingkat rumah tangga.
BACA JUGA: Kemendiktisaintek Bermitra dengan MIND ID, Anggaran Riset Swasembada Energi Capai Rp 12 Triliun
“Mahasiswa tidak hanya belajar dari masyarakat, tetapi juga menjadi agen perubahan yang membantu membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih baik. Ini adalah bagian dari upaya menciptakan solusi yang berkelanjutan,” tambah Dirjen Fauzan.
Pada kesempatan sama, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menjelaskan bahwa pemilahan sampah dari rumah tangga akan menekan biaya pengolahan dan mengurangi residu yang masuk ke TPS3R maupun TPA.
Teknologi pengolahan sampah saat ini akan jauh lebih efektif apabila sampah telah dipilah sejak awal.
Sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau biogas, sementara sampah anorganik dapat masuk ke rantai daur ulang dan memiliki nilai ekonomi.
Melalui kesempatan ini, Kemdiktisaintek kembali menegaskan komitmen dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan talenta dan riset yang mampu menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat.
Penguatan kapasitas mahasiswa, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan dapat mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan dan transisi energi yang lebih inklusif di Indonesia. (esy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kemendiktisaintek Maksimalkan Pengiriman Bantuan Bencana di Sumut Lewat Udara
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Mesyia Muhammad




