JAKARTA, KOMPAS.TV - Politikus PDI-P, Mohamad Guntur Romli menanggapi ultimatum 5 x 24 jam yang disampaikan mahasiswa kepada pemerintah.
Ultimatum itu disampaikan oleh perwakilan massa mahasiswa yang melakukan aksi di Jakarta, Senin (15/6/2026) lalu.
"Jika tenggat waktu 5 x 24 jam belum membuahkan jawaban yang memuaskan dan mahasiswa kembali turun ke jalan, maka ada dua poin krusial yang menjadi perhatian dan evaluasi," kata Guntur di Jakarta, Selasa (16/6/2026), dipantau dari YouTube KompasTV.
Poin pertama, evaluasi penanganan unjuk rasa. Menurutnya, evaluasi terbesar dari demonstrasi mahasiswa yang terjadi sebelumnya adalah penanganan aparat di lapangan.
Ia juga meminta aparat keamanan untuk mengedepankan pendekatan humanis dan menghindari tindakan represif, kekerasan, atau penggunaan gas air mata berlebihan.
Baca Juga: Mahasiswa Tolak Ajakan Makan Malam Gibran saat Setor Tuntutan, Dipuji PDIP
Poin kedua, buka ruang dialog konkret. Guntur meminta pemerintah tidak boleh alergi terhadap kritik.
Ia juga meminta demonstrasi jangan sampai dianggap sebagai ancaman stabilitas, melainkan sebagai early warning system atau sistem peringatan dini bagi kebijakan yang keliru.
"Jika unjuk rasa kembali digelar, pintu dialog di tingkat kementerian maupun Istana harus dibuka lebar, bukan justru ditutup. Penuhi tuntutan tersebut dengan kebijakan nyata, bukan sekadar janji diplomatis," ungkapnya.
Menurutnya, PDI-P akan terus mengawal aspirasi mahasiswa melalui jalur parlemen DPR RI agar check and balances tetap berjalan dan kebijakan pemerintah tetap berada di jalur pro rakyat.
Baca Juga: Mahasiswa Jelaskan Alasan Ultimatum Pemerintah 5 x 24 Jam untuk Penuhi Tuntutan
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- pemerintah
- demo
- pdi p
- guntur romli
- aksi mahasiswa
- ultimatum





