Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) mencermati dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%, terutama terhadap peningkatan biaya dana (cost of funds) dan dinamika persaingan penghimpunan dana di industri perbankan.
Meski demikian, perseroan menegaskan akan melakukan penyesuaian strategi secara prudent dan terukur agar tetap mampu menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, mengatakan keputusan Bank Indonesia tersebut pada dasarnya masih sesuai dengan ekspektasi manajemen dan pelaku pasar.
Menurutnya, kebijakan itu merupakan langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan di tengah dinamika ekonomi domestik dan global yang masih penuh tantangan.
“Bagi Bank Neo Commerce, kondisi suku bunga yang lebih tinggi tentu menjadi salah satu faktor yang akan memengaruhi dinamika industri perbankan, khususnya terkait cost of fund dan kompetisi penghimpunan dana. Namun demikian, kami akan tetap berhati-hati mencermati perkembangan pasar atas kenaikan suku bunga tersebut,” ujar Eri kepada Bisnis, dikutip Selasa (16/6/2026).
Seiring kenaikan BI Rate, Bank Neo menilai strategi penghimpunan dana dan penyaluran kredit perlu terus dievaluasi mengikuti perkembangan pasar.
Baca Juga
- BBYB Tak Bagi Dividen, Bos Bank Neo Commerce Beri Penjelasan
- Bank Neo Commerce (BBYB) Catat Laba Rp136,98 Miliar Kuartal I/2026
- Bank Neo Commerce (BBYB) Raih Laba Bersih Rp565,69 Miliar sepanjang 2025
Eri menegaskan bahwa Bank Neo akan memantau kondisi likuiditas dan apabila diperlukan melakukan penyesuaian strategi secara hati-hati dengan mempertimbangkan kebutuhan pendanaan serta profil risiko bank.
Di sisi pendanaan, Bank Neo Commerce tetap berfokus menjaga stabilitas dana pihak ketiga (DPK) dengan menyeimbangkan daya saing suku bunga dan efisiensi cost of fund. Penyesuaian suku bunga simpanan akan dilakukan secara selektif sesuai perkembangan likuiditas dan tingkat kompetisi di industri perbankan.
Sementara itu, pada sisi penyaluran kredit, Eri menyebut Bank Neo tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan fokus pada pertumbuhan kredit yang berkualitas.
Kajian terhadap penyesuaian suku bunga kredit akan mempertimbangkan kondisi pasar, profil risiko debitur, serta daya beli dan kemampuan nasabah.
Selain itu, penguatan manajemen risiko dan kualitas aset juga terus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah perubahan lingkungan suku bunga.
Dalam menghadapi kondisi likuiditas industri yang semakin kompetitif, Bank Neo juga terus memperkuat pengelolaan aset dan liabilitas serta menjaga kecukupan permodalan untuk mendukung ekspansi bisnis yang sehat.
Adapun, strategi tersebut didukung melalui diversifikasi sumber pendanaan, optimalisasi ekosistem digital, dan peningkatan aktivitas nasabah dalam memanfaatkan layanan perbankan yang tersedia.





