Liputan6.com, Jakarta - Koper sudah dikirim, bus sudah menunggu di depan hotel. Langkah kaki para jemaah mulai meninggalkan penginapan di Madinah bersama sejuta kenangan dan kerinduan.
Tidak semua yang mereka bawa pulang berupa barang atau oleh-oleh. Sebagian jemaah justru membawa yang paling berharga. Kenangan, doa, dan cerita dari Tanah Suci yang akan dibagikan kepada keluarga di kampung halaman.
Advertisement
Di tengah kesibukan kepulangan jemaah haji gelombang kedua, suasana haru terasa ketika mereka harus meninggalkan Kota Nabi setelah menyelesaikan rangkaian ibadah di Madinah. Ini kisah tentang mereka yang pulang dari Tanah Suci dan kembali ke pelukan keluarga yang menanti di rumah.
Jemaah berjalan dengan mata berkaca-kaca karena harus berpisah dengan Masjid Nabawi. Ada pula yang tersenyum karena sebentar lagi bisa kembali berkumpul bersama keluarga.
Salah satunya Sarida, 60 tahun, asal Indramayu. Sarinda mencuri perhatian saat bersiap pulang. Dia membawa tiga boneka unta berukuran jumbo. Boneka itu diikat dan dikalungkan sebagai oleh-oleh untuk cucunya di rumah.
Boneka tersebut menjadi salah satu barang yang ia bawa sebagai tanda kenangan dari perjalanan panjang ibadah haji.
Sementara Ahmad Faisal (49), jemaah asal Indramayu dari Kloter KJT 21, memilih menikmati waktu terakhirnya di Madinah dengan memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi.
Baginya, meninggalkan Madinah bukan perkara mudah. Tempat yang selama beberapa hari menjadi lokasi ibadah dan perenungan itu harus ia tinggalkan untuk kembali ke kehidupan sehari-hari.
“Hari ini menjalankan salat dan beribadah kali terakhir di sini. Sedih rasanya cepat beribadah di Masjid Nabawi,” kata Ahmad pada tim Media Center Haji, Senin, 15 Juni 2026.
Meski berat meninggalkan Kota Nabi, Ahmad mengaku tidak sabar bertemu keluarga yang telah menunggu di Tanah Air. “Sudah kangen dengan keluarga dan saudara di rumah,” katanya.




