Pacu Jawi Minangkabau, Adu Ketangkasan Joki dan Kecepatan Sapi di Sawah Berlumpur

rctiplus.com
6 jam lalu
Cover Berita
Pacu Jawi Minangkabau, Adu Ketangkasan Joki dan Kecepatan Sapi di Sawah BerlumpurNasional | inews | Rabu, 17 Juni 2026 - 04:17

PAYAKUMBUH, iNews.id - Jika Madura dikenal dengan tradisi karapan sapi, masyarakat Sumatera Barat memiliki tradisi serupa yang tidak kalah menarik, yakni Pacu Jawi. Tradisi turun-temurun ini masih terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya Minangkabau.

Pacu Jawi umumnya digelar menjelang musim tanam oleh masyarakat agraris di Sumatera Barat. Berbeda dengan karapan sapi yang berlangsung di lintasan tanah kering, Pacu Jawi digelar di area persawahan berlumpur yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik bagi wisatawan dan fotografer.

Sapi yang digunakan dalam Pacu Jawi merupakan sapi lokal yang dipelihara dan dirawat khusus oleh para peternak. Selain menjadi ajang hiburan rakyat, tradisi ini juga menjadi sarana menunjukkan kualitas ternak yang dimiliki.

Untuk di Sumatera Barat, Pacu Jawi memiliki dua gaya perlombaan yang berbeda. Di Kabupaten Tanah Datar, joki berdiri di atas bajak yang ditarik oleh dua ekor sapi. 

Sementara di Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota, joki harus berlari sambil berpegangan pada seekor sapi yang melaju kencang di tengah lumpur.

Baca Juga:Gunung Dukono Erupsi Hari Ini, Kolom Abu Capai Ketinggian 3.200 Meter

Dalam perlombaan ini, kecepatan dan kekuatan sapi harus diimbangi dengan ketangkasan joki. Peserta dituntut mampu menjaga keseimbangan hingga garis akhir. Jika terjatuh sebelum mencapai garis finis, peserta dinyatakan gugur.

Risiko cedera menjadi tantangan yang tidak terhindarkan dalam Pacu Jawi. Meski demikian, tradisi ini tetap diminati karena dianggap sebagai simbol keberanian, ketangkasan, dan kebanggaan masyarakat setempat.

"Tingkat kesulitannya itu kita sama-sama berlari sama sapi dan rawan cedera," kata salah satu Joki, Rizki Aldo Putra di lokasi, Selasa (6/6/2026).

Bagi para peternak, Pacu Jawi juga menjadi ajang bergengsi. Selain memperebutkan hadiah, sapi yang berhasil menjadi juara umumnya memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan sapi biasa.

Hingga kini, Pacu Jawi tidak hanya menjadi tradisi budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau kepada masyarakat luas.

"Ini sudah tradisi di Payakumbuh. Tujuan utamanya penyelang sebelum tanam padi kami adakan lah lomba Pacu Jawi untuk semangatkan peternak da harga ternak juga naik," ujar panitia, Zulfajri.

#sumbar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Portugal vs Kongo Piala Dunia 2026: Ujian Pertama Seleccao das Quinas di Houston
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tradisi Memasak Bubur Suro Sambut Tahun Baru Islam
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Fase Pemulangan Jemaah Haji Gelombang 2 via Bandara Madinah Dimulai
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Sentimen Global Membaik, Harga Bitcoin Menguat Usai Kesepakatan AS-Iran
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Siapkan Mental, 4 Rekomendasi Drama Korea Thriller Populer yang Menegangkan dan Penuh Plot Twist
• 5 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.