PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) kini berada di titik nadir kredibilitas.
Di tengah mandat mulia untuk menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045, publik justru disuguhi drama korupsi yang menyeret mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait suap verifikasi mitra dan pengadaan motor listrik dengan alokasi anggaran yang fantastis.
MBG kini lebih terlihat sebagai "umpan gula" bagi pemburu rente daripada instrumen pemenuhan gizi.
Jika tidak ada reorientasi radikal, MBG akan terus menjadi pusat biaya (cost center) yang menguras ruang fiskal negara.
Sudah saatnya pemerintah mengubah paradigma MBG: dari sekadar program belanja konsumsi yang "sekali makan habis" menjadi sebuah platform ekonomi pangan nasional yang produktif dan mampu menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) bagi negara.
Mengakhiri Logika "Belanja Habis"Selama ini, logika MBG bersifat linear dan konsumtif: APBN dikucurkan untuk membeli makanan, dibagikan, dan anggaran pun habis.
Model ini sangat rentan terhadap gejolak ekonomi global. Saat harga minyak mentah melonjak dan nilai tukar rupiah tertekan, program konsumtif seperti ini justru mempersempit ruang fiskal untuk sektor produktif lainnya.
Baca juga: Mencari Budiman Sudjatmiko
Transformasi ini mengubah paradigma lama menjadi model ekonomi yang produktif melalui siklus: APBN → Produksi → Nilai Tambah → Pendapatan → PNBP.
Dengan menyasar skala ekonomi yang mencakup 82,9 juta penerima manfaat, program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar alokasi anggaran, melainkan daya ungkit strategis untuk membangun ekosistem bisnis baru yang inklusif di seluruh penjuru negeri.
Melalui pendekatan ini, setiap rupiah yang dialokasikan akan berputar menjadi nilai tambah ekonomi di tingkat lokal, menciptakan kemandirian finansial yang berkelanjutan.
Lebih dari itu, ekosistem yang terbentuk akan mengembalikan manfaatnya ke kas negara melalui setoran PNBP, menjadikan MBG sebagai investasi nasional yang efektif, mandiri, dan berdampak jangka panjang bagi perekonomian Indonesia.
Dalam jangka pendek, setidaknya terdapat empat pilar utama yang dapat mengubah MBG menjadi mesin pendapatan negara, setidaknya dalam lima kondisi.
Pertama, komersialisasi infrastruktur cold chain. Tantangan terbesar pangan kita adalah tingkat kerusakan (food loss) yang mencapai 20-30 persen.
MBG melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dapat membangun jaringan cold storage di tingkat kecamatan.
Kapasitas sisa (idle capacity) di luar jam operasional program dapat disewakan kepada petani dan nelayan lokal.
Dengan asumsi 500 unit unit penyimpan dingin, potensi pendapatan baru yang berkelanjutan.
Kedua, ekonomi sirkular dari limbah pangan. Limbah pangan kini bukan lagi sekadar beban lingkungan, melainkan aset strategis dalam paradigma ekonomi sirkular.
Dengan volume limbah organik dan minyak jelantah yang mencapai jutaan porsi setiap harinya, kita memegang potensi sumber daya yang masif dan belum tergarap optimal.





