Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa saja jenis gangguan kesehatan mental yang dialami remaja?
- Bagaimana tanda-tanda kesehatan mental pada remaja?
- Mengapa remaja mengalami masalah kesehatan mental?
- Apa dampak gangguan kesehatan jiwa terhadap remaja?
- Bagaimana
Masa remaja adalah waktu yang unik dan penting dalam pembentukan karakter. Perubahan fisik, emosional, dan sosial, termasuk paparan kemiskinan, pelecehan, atau kekerasan, dapat membuat remaja rentan terhadap masalah kesehatan mental.
Tekanan sosial dan perkembangan teknologi membuat kebanyakan remaja di Indonesia mengalami masalah atau indikasi gangguan kesehatan mental nonklinis. Kondisi emosional ini umumnya berupa kecemasan berlebih, stres akibat penggunaan gawai, dan kesulitan menyesuaikan diri.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, satu dari tujuh (14,3 persen) anak berusia 10–19 tahun mengalami kondisi kesehatan mental, yang menyumbang 15 persen dari beban penyakit global pada kelompok usia ini. Namun kondisi ini sebagian besar tidak dikenali dan tidak diobati.
Depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku termasuk di antara penyebab utama penyakit dan kecacatan di kalangan remaja. Bunuh diri adalah penyebab kematian ketiga terbesar di antara mereka yang berusia 15–29 tahun. Konsekuensi dari kegagalan mengatasi kondisi kesehatan mental remaja berlanjut hingga dewasa, merusak kesehatan fisik dan mental serta membatasi kesempatan menjalani kehidupan.
Sementara Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mencatat 34,8 persen atau 15,5 juta remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dan 5,5 persen di antaranya memenuhi kriteria gangguan mental.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan angka prevalensi gangguan mental emosional 9,8 persen, atau naik dibandingkan Riskesdas 2013 sebesar 6,0 persen. Diperkirakan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.
Seiring dengan meningkatnya gangguan tersebut, data ini juga menunjukkan meningkatnya penggunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza) mencapai 5,1 persen, dan orang dengan gangguan jiwa berat sebesar 7,1 per mil. Depresi yang tidak teratasi mengakibatkan meningkatnya kejadian bunuh diri.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji, pada Senin (15/6/2026), mengatakan, kondisi ini menunjukkan kualitas paling dibutuhkan generasi muda saat ini bukan hanya kecerdasan intelektual, kreativitas, atau inovasi, melainkan ketangguhan mental.
Berikut adalah tanda-tanda utama gangguan mental pada remaja yang perlu diwaspadai yakni perubahan emosi dan suasana hati yang drastis. Ia mengalami kesulitan mengelola emosinya, mudah marah, meledak-ledak, atau sangat sensitif tanpa alasan yang jelas.
Remaja dengan gangguan kesehatan mental juga mengalami kesedihan mendalam, sering terlihat murung, menangis berlebihan, atau merasa putus asa, kecemasan berlebihan saat bersosialisasi atau memikirkan masa depan.
Gangguan emosional umum terjadi di kalangan remaja. Gangguan kecemasan (melibatkan kekhawatiran berlebihan) paling umum terjadi pada kelompok usia ini dan lebih sering terjadi pada remaja lebih tua daripada remaja lebih muda. Diperkirakan 4,1 persen remaja berusia 10–14 tahun dan 5,3 persen remaja berusia 15–19 tahun mengalami gangguan kecemasan.
Jika remaja tiba-tiba mudah tersinggung, mengamuk, memberontak atau berperilaku seperti anak kecil, bisa saja ini merupakan tanda-tanda masalah kesehatan mental. Tanda lain yakni perubahan perilaku dan sosial atau menarik diri dari lingkungan sosial, tiba-tiba enggan bergaul dengan keluarga atau teman, kehilangan minat, dan menunjukkan perilaku berisiko misalnya tindakan berbahaya.
Tanda-tanda lainnya berupa sulit berkonsentrasi saat belajar atau membuat keputusan. Selain itu remaja yang kesehatan mentalnya terganggu bisa mengalami perubahan kebiasaan, masalah tidur, kehilangan nafsu makan secara drastis atau sebaliknya, makan berlebihan.
Beberapa keluhan fisik yang bisa ditimbulkan oleh masalah kesehatan mental, antara lain sakit kepala, nyeri otot, sakit perut, sakit punggung, tidak bersemangat dan bertenaga, tanpa penyebab medis jelas. Adapun gejala berat atau kritis meliputi antara lain berbicara tentang kematian atau bunuh diri dan mencederai diri sendiri.
Kondisi yang mencakup gejala psikosis paling sering muncul pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa. Gejalanya dapat berupa halusinasi atau delusi. Menurut WHO, gejala ini dapat mengganggu remaja berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari dan pendidikan.
Banyak faktor memengaruhi kesehatan mental. Semakin banyak faktor risiko yang dihadapi remaja, kian besar potensi dampaknya terhadap kesehatan mental mereka. Menurut WHO, beberapa faktor pemicu stres pada remaja meliputi paparan terhadap kesulitan, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan teman sebaya, dan eksplorasi identitas.
Pengaruh media dan norma jender bisa memperburuk kesenjangan antara realitas kehidupan remaja dan persepsi atau aspirasi mereka untuk masa depan. Penentu penting lainnya yakni mutu kehidupan keluarga dan relasi dengan teman sebaya. Kekerasan (terutama kekerasan seksual dan perundungan), pola pengasuhan keras, dan masalah sosial ekonomi turut memicu gangguan kesehatan mental.
Beberapa remaja berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental karena kehidupan mereka, stigma, diskriminasi, atau kurangnya akses terhadap layanan berkualitas. Ini termasuk remaja yang tinggal di lingkungan rentan, remaja dengan penyakit kronis, anak yatim piatu; dan remaja dari latar belakang etnis atau kelompok yang didiskriminasi lainnya.
Menurut Mendukbangga Wihaji, para remaja menghadapi tekanan sosial yang tinggi dengan ekspektasi tinggi dan perbandingan sosial di media sosial dapat menurunkan rasa percaya diri remaja. Paparan standar kecantikan atau kesuksesan yang tidak realistis meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.
Teknologi secara tidak langsung juga menurunkan kesehatan fisik dan gaya hidup yang berdampak pada kesehatan mental. Mereka menjadi kurang tidur, pola makan tak sehat, dan kurang aktivitas fisik. Remaja yang kecanduan menggunakan internet mengalami perubahan otak yang bisa menyebabkan perubahan perilaku dan kecanduan tambahan.
Kemajuan teknologi juga memudahkan generasi muda menjangkau konsumsi makanan tinggi gula dan lemak jenuh yang meningkatkan risiko depresi. Ditambah lagi, kurangnya paparan sinar matahari dan aktivitas fisik juga memengaruhi produksi hormon yang berperan dalam menjaga suasana hati.
Selain itu, mereka rawan mengalami perundungan, baik langsung maupun daring (cyberbullying), yang dapat menyebabkan trauma emosional jangka panjang, seperti rendahnya rasa percaya diri dan kecemasan sosial.
Gangguan kesehatan mental pada remaja berdampak sangat luas, meliputi penurunan prestasi belajar, gangguan relasi sosial, perubahan perilaku ekstrem seperti menarik diri, hingga memicu risiko penyalahgunaan zat dan tindakan berbahaya seperti menyakiti diri sendiri. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menghambat tumbuh kembang dan masa depan mereka.
Setiap orang memiliki strategi atau mekanisme koping saat mengalami stres, tertekan atau emosi negatif. Mekanisme ini membantu remaja mengatasi ketidaknyamanan dari berbagai perasaan negatif yang dialaminya, agar keseimbangan emosional terjaga dan remaja dapat belajar beradaptasi dengan setiap perubahan yang dihadapinya.
Mekanisme koping ini ada yang bersifat negatif, seperti makan berlebihan (stress eating), merokok, mengonsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang atau belanja secara impulsif (impulsive buying).
Masalah kesehatan mental, menurut artikel di laman Universitas Negeri Surabaya, juga bisa mengakibatkan penurunan prestasi akademik dan produktivitas. Sebab, stres, kecemasan, ataupun depresi kerap menyebabkan kesulitan berkonsentrasi. Berkurangnya motivasi belajar dan ketidakhadiran yang tinggi akibat kondisi mental tak stabil bisa menyebabkan putus sekolah.
Selain itu persoalan kesehatan mental pada remaja bisa mengganggu hubungan sosial dan keluarga. Remaja cenderung menarik diri dari pergaulan teman sebaya dan aktivitas sosial, serta kesulitan mengelola emosi sehingga sering memicu kesalahpahaman dengan orangtua, saudara, dan teman.
Tak hanya itu, masalah kesehatan mental juga menimbulkan gangguan kesehatan fisik dan pola hidup. Karena sering mengalami kelelahan kronis, sakit kepala, gangguan makan, dan pola tidur, penderita berisiko terjerumus dalam penyalahgunaan alkohol, obat-obatan terlarang, atau perilaku impulsif lainnya sebagai pelarian.
Penderita juga bisa mengalami krisis identitas berupa perasaan tidak berharga, takut tertinggal apa yang menjadi tren atau viral, dan kesulitan menemukan jati diri akibat tekanan sosial atau media sosial. Bahaya fatalnya, penderita berisiko melukai diri sendiri, bahkan ada kecenderungan mengakhiri hidup.
Intervensi promosi dan pencegahan kesehatan mental bertujuan untuk memperkuat kemampuan individu dalam mengatur emosi, meningkatkan alternatif terhadap perilaku berisiko, membangun ketahanan menghadapi situasi sulit, serta mempromosikan lingkungan sosial dan jaringan sosial yang mendukung.
Program-program ini memerlukan pendekatan multi-level dengan beragam platform penyampaian, misalnya, media digital, layanan kesehatan atau sosial, sekolah, atau komunitas – dan beragam strategi untuk menjangkau remaja, khususnya yang paling rentan.
Penting untuk memenuhi kebutuhan remaja dengan kondisi kesehatan mental. Salah satu mekanisme koping yang efektif agar remaja dapat mengelola stres dan emosi negatifnya dengan sehat yakni dengan mengenali penyebab stres atau emosi yang dirasakannya.
Dengan demikian, remaja dapat membuat keputusan dan tindakan yang tepat, seperti mencari bantuan atau konseling, mengakhiri hubungan dengan orang yang menjadi sumber perasaan negatif, atau menetapkan batasan bagi diri
Remaja juga dapat berolahraga yang dapat membantuk merasa rileks dan nyaman, menekuni honi seperti melukis dan menari, serta membuat jurnal mengenai pikiran dan perasan yang dialami, serta hal0hal khusus terkati endidikannya,
Merawat diri, beristirahat cukup dan relaksasi seperti yoga dan menditasi dapat membantu remaja membangun pikiran positif dan kepercayaan diri, serta memaafkan orang atau hal-hal yang menyakitinya. Cara lain yakni bermain dengan hewan peliharaan, bepergian ke tempat-tempat baru.
Selain mekanisme koping, menurut artikel di laman Kementerian Kesehatan, remaja harus mencari bantuan dari tenaga kesehatan profesional. Namun, seringkali rasa malu dan takut terhadap stigma buruk dari keluarga dan orang lain, membuat remaja memilih mencari informasi sendiri dan melakukan swadiagnosis. Apalagi remaja memiliki akses luas terhadap internet dan media sosial.
Swadiagnosis merupakan tindakan menentukan kondisi kesehatan mental sendiri berdasarkan pengalaman pribadi dan informasi yang dicari sendiri, tanpa bantuan tenaga kesehatan profesional. Hal ini bisa menimbulkan salah diagnosis dan penanganan tidak tepat sehingga justru memperparah kondisi kesehatan mental.
Oleh karena itu remaja mesti mencari bantuan dari tenaga kesehatan profesional agar mendapatkan diagnosis yang tepat serta pengelolaan kesehatan mental yang optimal bagi kondisi yang dialami.





