REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Lembaga intelijen Amerika Serikat (AS) baru-baru ini menilai Iran memiliki kemampuan yang efektif untuk menutup akses ke Selat Hormuz kapan pun mereka mau. CNN mengutip informasi dari tiga sumber yang mengetahui temuan tersebut, melaporkan, penilaian tersebut menjadi pertanda rezim Teheran telah memperoleh kekuatan baru yang masif untuk mengancam ekonomi global sebagai dampak dari perang yang terjadi.
Terlepas dari kesepakatan kerangka kerja yang dijadwalkan bakal ditandatangani secara resmi pada Jumat pekan ini untuk membuka kembali jalur perairan krusial tersebut—sebagai langkah awal menuju perundingan nuklir—Iran telah membuktikan kemampuannya memutus akses selat selama konflik berlangsung. Penilaian intelijen AS pun mengindikasikan skenario serupa sangat mungkin terulang kembali.
Baca Juga
Baru Selesai Makan Tapi Lapar Lagi? Ini Penjelasan Medisnya
Studi: Banyak Perempuan Mungkin Salah Pilih Obat untuk Redakan Nyeri Haid
Menarget Rasulullah, Inilah Kisah Makar yang Gagal Menjelang Hijrah
"Secara de facto, kita sekarang telah menyerahkan kendali atas selat tersebut kepada Iran—sebuah senjata yang jauh lebih kuat daripada bom nuklir apa pun," ujar salah satu sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS kepada CNN. Ia menekankan bagaimana perang ini telah mengubah cara pandang Teheran secara mendasar dalam memanfaatkan taktik serupa di masa depan.
Sumber kedua menambahkan, Iran juga memetik pelajaran bahwa mereka dapat menggunakan serangan terhadap infrastruktur energi negara-negara Teluk sebagai strategi asimetris. Keberhasilan besar taktik ini selama perang menjadikannya alat penilai yang menguntungkan bagi posisi tawar Iran ke depan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Kapal penyapu ranjau USS Santa Barbara (LCS 32) yang membersamai USS Tulsa (LCS 16) tiba di Singapura sebelum bertolak ke Selat Hormuz pada 18 Maret 2026. - (Warship Cam)