Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah ke posisi Rp17.753 pada perdagangan hari ini, Rabu (17/5/2026). Di sisi lain, pergerakan greenback juga mengalami apresiasi.
Berdasarkan data TradingView, rupiah dibuka melemah 28 poin atau 0,16% ke level Rp17.753 per dolar AS. Adapun, indeks dolar AS juga melemah 0,02% ke 99,52.
Sementara itu, mata uang di Asia dibuka bervariasi. Yen Jepang terapresiasi 0,07% bersama rupee India sebesar 0,16%. Di sisi lain, baht Thailand dan won Korea masing-masing melemah sebesar 0,03% dan 0,35% terhadap dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan tekanan terhadap rupiah sebelumnya masih dibayangi oleh ancaman pengenaan tarif impor tambahan dari AS terhadap sejumlah produk asal Indonesia.
Pemerintah memperkirakan tarif untuk produk nasional berisiko meningkat hingga 18% setelah investigasi terkait kapasitas berlebih selesai dilakukan.
Menurut Ibrahim, kebijakan proteksionisme tersebut berpotensi menekan daya saing ekspor manufaktur Indonesia ke pasar AS, yang selama ini menjadi salah satu mitra dagang utama dan tujuan ekspor nonmigas nasional.
“Tidak hanya mengurangi daya saing produk di pasar AS, kebijakan tersebut juga berisiko memengaruhi utilisasi pabrik, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut,” ungkap Ibrahim dalam riset harian.
Di sisi lain, sentimen dari eksternal mulai bergerak ke zona positif setelah AS dan Iran mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali jalur dagang strategis di Selat Hormuz.
Langkah damai tersebut sukses memicu kejatuhan harga minyak mentah dunia dan mendorong pelaku pasar kembali masuk ke aset berisiko (risk-on).
Pelemahan indeks dolar AS juga ikut terpicu oleh meredanya kekhawatiran terhadap inflasi global seiring berkurangnya risiko gangguan pasokan energi.
"Washington dan Teheran mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik mereka dan membuka kembali Selat Hormuz. Kerangka kerja perdamaian tersebut memicu penurunan tajam harga minyak dan meningkatkan sentimen risiko di pasar global," ujar Ibrahim.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





