Menakar Dampak Lonjakan Deposito Valas Terhadap Likuiditas Rupiah Perbankan

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Deposito valas per April 2026 tumbuh melesat di tengah tren pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Lantas apa dampaknya terhadap likuiditas rupiah perbankan?

Berdasarkan data Analisis Uang Beredar yang dirilis Bank Indonesia (BI), deposito valas per April 2026 tumbuh signifikan sebesar 18,9% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya 9,6% YoY. Sebaliknya, deposito rupiah tumbuh melambat sebesar 2,8% YoY, dibanding posisi Maret yang tumbuh 3,7% YoY.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai, kenaikan tajam deposito valas pada April 2026 memang mencerminkan meningkatnya preferensi sebagian masyarakat dan korporasi untuk menyimpan dana dalam dolar AS. Kendati begitu, kondisi ini perlu dimaknai secara hati-hati.

Josua mengatakan, deposito valas yang tumbuh tajam pada periode tersebut bukan semata-mata tanda kepanikan atau hilangnya kepercayaan terhadap perbankan nasional, melainkan respons rasional terhadap pelemahan rupiah, kebutuhan lindung nilai, dan keinginan menjaga nilai aset.

“Ketika rupiah melemah, simpanan dolar AS menjadi lebih menarik karena nilainya naik jika dihitung dalam rupiah,” kata Josua kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (16/6/2026).

Menurutnya, korporasi kemungkinan menjadi pendorong utama kenaikan deposito valas, terutama perusahaan yang memiliki kewajiban impor, pembayaran utang luar negeri, pembelian bahan baku dalam dolar AS, atau penerimaan ekspor. Segmen ini, lanjut dia, cenderung menahan dolar AS lebih lama untuk menjaga kecocokan antara penerimaan dan kewajiban valas.

Baca Juga

  • Untung Rugi Deposito
  • Di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Apakah Deposito Masih Aman?
  • Deposito dan Tabungan Valas Tumbuh Tinggi, OJK Nilai Tren Diversifikasi Aset Masih Wajar

Bagi rumah tangga menengah atas, Josua menyebut bahwa deposito valas turut menjadi sarana menjaga nilai kekayaan di tengah kekhawatiran rupiah melemah lebih jauh. Dengan demikian, kenaikan deposito valas mencerminkan perubahan perilaku menyimpan dana dari sekadar mengejar bunga menjadi menjaga nilai dan mengurangi risiko kurs.

Namun, Josua memandang bahwa angka pertumbuhan deposito valas juga dipengaruhi oleh faktor pencatatan. Karena data dinyatakan dalam rupiah, dia menyebut pelemahan rupiah otomatis membuat nilai simpanan valas terlihat lebih besar meskipun jumlah dolarnya tidak naik sebesar angka pertumbuhan dalam rupiah. 

Inilah mengapa tidak semua kenaikan deposito valas menandakan adanya perpindahan dana baru secara besar-besaran dari rupiah ke dolar AS. Sebagian berasal dari kenaikan nilai tukar, sebagian dari penempatan baru, dan sebagian lagi dari korporasi yang menahan devisa lebih lama.

Pengaruhi Likuiditas Rupiah Perbankan

Meski demikian, tren peningkatan deposito valas tetap perlu diwaspadai. Pasalnya, Josua menyebut bahwa kondisi ini dapat memengaruhi likuiditas perbankan.

Dia mengatakan, jika dana rupiah benar-benar berpindah ke deposito valas, maka pasokan dana rupiah di bank berkurang. Dampaknya, bank bisa menghadapi tekanan untuk menaikkan bunga deposito rupiah agar nasabah tetap menempatkan dana dalam rupiah.

Apabila biaya dana naik, lanjut dia, bunga kredit juga berpotensi lebih sulit turun, bahkan bisa naik secara bertahap. “Pada akhirnya, hal ini dapat menekan penyaluran kredit, terutama kredit modal kerja, kredit konsumsi, dan pembiayaan bagi usaha kecil,” tuturnya.

Kendati begitu, Josua menyebut bahwa kondisi saat ini belum menunjukkan tekanan likuiditas rupiah yang membahayakan secara sistemik. Rasio likuiditas perbankan masih berada jauh di atas ketentuan regulator, kredit masih tumbuh, dan dana pihak ketiga secara total masih meningkat secara tahunan.

“Artinya, perbankan masih punya bantalan,” ujar Josua.

Langkah Antisipasi

Josua menilai, risiko utama bukan pada posisi hari ini, melainkan apabila tren peralihan ke valas terus berlanjut, rupiah tetap lemah, dan korporasi semakin enggan mengonversi devisa ke rupiah. Dalam kondisi itu, likuiditas rupiah bisa menjadi lebih mahal dan lebih terkonsentrasi di bank besar.

Dari sisi kebijakan, BI perlu menjaga kepercayaan terhadap rupiah melalui stabilisasi nilai tukar, daya tarik instrumen rupiah, dan komunikasi yang tegas. Menurutnya, pemerintah perlu membantu dengan menjaga kredibilitas fiskal, memperkuat pasokan devisa dari ekspor, serta memastikan kebijakan devisa hasil ekspor tidak mengganggu kebutuhan modal kerja perusahaan.

Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu secara ketat memantau kecocokan aset dan kewajiban valas bank, terutama pada bank yang pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valasnya sangat cepat tetapi penyaluran kredit valasnya tidak seimbang.

Sementara itu, bagi perbankan, strategi yang diperlukan adalah menjaga keseimbangan pendanaan rupiah dan valas. Dia mengatakan, dana valas tidak bisa begitu saja digunakan untuk membiayai kredit rupiah tanpa menimbulkan risiko kurs.

Karena itu, bank perlu memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah, menjaga dana murah, memperpanjang tenor pendanaan, dan memastikan eksposur valas nasabah korporasi tetap terkendali.

“Bank juga perlu lebih berhati-hati terhadap debitur yang punya pendapatan rupiah tetapi kewajiban valas,” tegasnya.

Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) terus mencermati dinamika makroekonomi, baik domestik maupun global, dan berfokus pada fundamental bisnis serta mengambil langkah prudent dalam menghadapi dinamika saat ini. 

Hingga Maret 2026, BCA mencatatkan deposito valas sebesar Rp16,6 triliun. Sebagai perbandingan, pada saat yang sama deposito rupiah BCA mencapai Rp186,7 triliun. Secara keseluruhan, DPK BCA mencapai Rp1.292 triliun. Porsi dana giro dan tabungan (CASA) BCA tetap mendominasi sekitar 85,2% dari total DPK BCA.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn memastikan komitmen perseroan dalam menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas valas dan ekspansi kredit yang sehat.

“Tentunya dengan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar dan risiko,” kata Hera kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (16/6/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
3 Zodiak yang Dikenal Paling Bahagia
• 3 jam lalubeautynesia.id
thumb
Gubernur: Setelah tiba di Sulteng saya tinjau lokasi terdampak gempa
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Pemerintah Akan Wajibkan ASN Ikut E-Learning Antikorupsi KPK
• 31 menit lalukompas.com
thumb
Hasil Babak Pertama Prancis vs Senegal: Les Blues Kesulitan Hadapi Solidnya Pertahanan Singa Teranga
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Inilah DFSK E5 Plus, PHEV yang Siap Tantang Tiggo 8 CSH
• 11 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.