PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) memperoleh dukungan dari sejumlah investor global terkemuka untuk rencana pencatatan sahamnya di Bursa Efek Hong Kong (HKEX). Menjelang dimulainya proses pemasaran kepada investor institusi internasional, para investor cornerstone telah berkomitmen menyerap 49,9% dari jumlah saham yang ditawarkan dalam penawaran dasar.
Komitmen tersebut menjadi sinyal kuat kepercayaan investor internasional terhadap prospek jangka panjang Tambang Emas Pani di Gorontalo, yang menjadi aset utama Perseroan dan salah satu proyek emas terbesar yang tengah dikembangkan di Asia.
Perseroan akan memulai masa bookbuilding kepada investor institusi global pada Rabu hingga 23 Juni 2026. Penawaran global tersebut mewakili sekitar 7% dari modal ditempatkan Perseroan setelah pelaksanaan opsi greenshoe.
Seluruh saham yang ditawarkan dalam transaksi ini merupakan saham sekunder yang dijual oleh pemegang saham minoritas. Sementara itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) selaku pemegang saham pengendali tidak akan melepas sahamnya dan tetap mempertahankan seluruh kepemilikan strategis di Merdeka Gold Resources.
Investor cornerstone yang berpartisipasi berasal dari kalangan pelaku industri strategis dan investor keuangan global. Dari sektor industri, investor yang masuk antara lain Wanguo Gold Group Limited, CNGR (Hong Kong Material Science & Technology) Co. Limited, Mercuria Holdings (Singapore) Pte. Ltd., Trafigura Pte. Ltd., Glencore International AG, serta Intera Mining Investment Limited yang dimiliki penuh oleh JCHX Mining Management Co. Ltd.
Sementara itu, investor keuangan yang berpartisipasi mencakup Ping An of China Asset Management (Hong Kong) Company Limited, GF (Guangfa) Fund Management Co., Ltd., Eurus Holdings SPC (ORIX), Dymon Asia Multi-Strategy Investment Master Fund, dan Wind Sabre Fund SPC.
Presiden Direktur Merdeka Gold Resources Boyke P. Abidin mengatakan dukungan tersebut mencerminkan keyakinan investor terhadap kualitas aset dan prospek pertumbuhan perusahaan.
“Komitmen investor global dalam transaksi ini mencerminkan kepercayaan terhadap kualitas Tambang Emas Pani, kemampuan eksekusi Perseroan, serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang kami miliki,” ujar Boyke.
Kepercayaan investor tersebut datang di tengah perkembangan operasional Tambang Emas Pani yang memasuki fase pertumbuhan produksi. Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2025, Perseroan telah mencatat first gold pour pada Februari 2026 dan melakukan penjualan emas perdana pada Maret 2026.
Hingga akhir 2025, Tambang Emas Pani memiliki sumber daya mineral sebesar 7 juta ons emas dan cadangan bijih sebesar 5,2 juta ons emas. Perseroan menyebutkan sumber daya tersebut berasal dari area seluas sekitar 135 hektare di sekitar pit utama, jauh lebih kecil dibandingkan total wilayah konsesi yang mencapai 14.670 hektare.
Hasil pengeboran terbaru di Prospek Kolokoa yang berjarak sekitar satu kilometer dari pit utama menambah sekitar 445 ribu ons emas ke dalam estimasi sumber daya mineral. Dengan tambahan tersebut, total estimasi sumber daya mineral Tambang Emas Pani meningkat menjadi 7,4 juta ons emas.
Perseroan juga tengah melanjutkan program eksplorasi melalui pengeboran yang lebih dalam di bawah desain pit utama yang ada saat ini serta rencana pengeboran di area Lone Pine pada semester II/2026.
Dalam jangka menengah, Merdeka Gold menargetkan peningkatan kapasitas pengolahan Tambang Emas Pani menjadi 22 juta ton per tahun pada 2028. Pengembangan tersebut diproyeksikan mendukung produksi emas tahunan puncak sekitar 545 ribu ons.
Selain itu, tambang tersebut diperkirakan memiliki profil biaya yang kompetitif dengan estimasi life-of-mine all-in sustaining cost (AISC), sebelum royalti pemerintah, sebesar US$794 per ons.
Rencana pencatatan saham Merdeka Gold di HKEX didukung oleh UBS dan CITIC Securities sebagai sponsor utama. Morgan Stanley, HSBC, CICC, dan Macquarie bertindak sebagai Joint Overall Coordinators, Joint Global Coordinators, serta Joint Bookrunners. Sejumlah institusi keuangan internasional lainnya, termasuk DBS, Mizuho, OCBC, UOB Kay Hian, Société Générale, Natixis, dan Crédit Agricole, turut berpartisipasi sebagai Joint Bookrunners dan Lead Managers.





