HARIAN.FAJAR.CO.ID, TAKALAR – Pemerintah Kabupaten Takalar melalui Dinas Kesehatan launching program inovasi “Assamaturu”. Peluncuran program ini merupakan komitmen bersama memerangi Tuberkulosis (TBC) atau aksi Sistematis Bebaskan TBC.
Program inovasi tersebut resmi diluncurkan oleh Pemkab Takalar di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Rabu, 17 Juni, dan dirangkaikan dengan pengukuhan 110 Duta Assamaturu Bebas TBC oleh Bupati Takalar.
Inovasi ini hadir mengajak berbagai elemen masyarakat bergerak bersama untuk mewujudkan target Takalar Bebas TBC Tahun 2030.
Kegiatan ini dihadiri unsur Forkopimda, pimpinan OPD, camat, lurah, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi profesi kesehatan, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan, serta berbagai elemen masyarakat.
Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye, mengapresiasi atas inovasi yang digagas oleh Dinas Kesehatan. Ia menilai inovasi ini sebagai langkah nyata yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Menurutnya, Assamaturu Bebas TBC merupakan gerakan yang sangat strategis karena melibatkan masyarakat secara langsung dalam upaya menemukan, mendampingi, dan membantu penyembuhan penderita TBC.
“Ini adalah langkah konkret memberantas TBC di Takalar. Assamaturu berarti kebersamaan dan gotong royong. Dengan semangat itu kita bergerak bersama untuk menurunkan kasus TBC secara signifikan hingga tahun 2030,” beber Daeng Manye.
Daeng Manye mengungkapkan bahwa lebih dari 1.200 kasus TBC yang tercatat saat ini bisa jadi hanyalah sebagian dari kondisi sebenarnya di lapangan. Ia mengibaratkan kasus TBC sebagai fenomena gunung es karena masih banyak penderita yang belum terdeteksi akibat rasa malu atau enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Karena itu, ia meminta para Duta Assamaturu menjadi ujung tombak dalam melakukan edukasi, skrining, pendataan, serta pendampingan masyarakat hingga ke tingkat desa dan kelurahan.
“Kalau ditemukan lebih cepat, diobati sampai tuntas, maka penularan bisa dihentikan. Duta TBC harus menjadi garda terdepan untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi dan layanan kesehatan yang tepat,” harapnya.
Dia juga menekankan pentingnya menjaga sanitasi lingkungan serta penerapan sistem digitalisasi dalam pengelolaan data TBC agar proses identifikasi, pelaporan, pengobatan, dan evaluasi dapat dilakukan secara lebih efektif.
Dengan hadirnya inovasi Assamaturu, Pos TBC Desa, serta dukungan 110 Duta Assamaturu Bebas TBC, Pemerintah Kabupaten Takalar optimistis mampu mempercepat penurunan angka kasus TBC dan mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, produktif, serta bebas TBC pada tahun 2030.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Nilal Fauziah, menjelaskan bahwa inovasi “Assamaturu” merupakan gerakan kolaboratif yang mengusung semangat kebersamaan seluruh komponen masyarakat dalam mempercepat eliminasi TBC.
“Assamaturu dalam bahasa Makassar berarti bergerak bersama menuju satu tujuan. Hari ini kita menyatukan langkah untuk mewujudkan Takalar Bebas TBC Tahun 2030,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, estimasi kasus TBC pada tahun 2025 mencapai 1.247 kasus. Meski angka penemuan kasus telah mencapai 78 persen dan keberhasilan pengobatan mencapai 89 persen, masih terdapat tantangan berupa rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, stigma terhadap penderita TBC, hingga pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Program Assamaturu mengedepankan pendekatan kolaborasi berbasis Heptahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, tokoh agama, dan tokoh adat.
Selain mengukuhkan 110 Duta Assamaturu Bebas TBC, Pemerintah Kabupaten Takalar juga meluncurkan Pos TBC Desa yang akan hadir di 110 desa dan kelurahan sebagai pusat edukasi, skrining, pendampingan pasien, serta pelaporan kasus TBC. (*)




